kaekaha
kaekaha wiraswasta

...penikmat traveling, fotografi, berita bola, buku cerita, menulis humaniora dan kuliner berkuah kaldu ..... ingin sekali keliling Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Menanti Efek Domino GNNT, Bagi Pertumbuhan Ekonomi Regional Pulau Kalimantan

15 Desember 2016   16:34 Diperbarui: 15 Desember 2016   16:38 130 0 0
Menanti Efek Domino GNNT, Bagi Pertumbuhan Ekonomi Regional Pulau Kalimantan
Acara bertajuk Smart Money Wave di Banjarmasin (Foto ; Koleksi Pribadi)

Awal bulan nopember 2016, menjadi tonggak sejarah bagi Gerakan Nasional Non Tunai atau GNNT di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dengan mengusung tema smart money waveBank Indonesia bekerja sama dengan NET.TV dan Kompasiana terus melanjutkan sosialisasi program yang sejatinya telah dicanangkan sejak dua tahun yang lalu tersebut, yaitu 14 Agustus 2014. 

Banjarmasin menjadi kota pertama sekaligus satu-satunya di Pulau Kalimantan yang dipilih untuk rangkaian sosialisasi  Gerakan Nasional Non Tunai oleh BI di akhir tahun 2016 ini. Memang tidak ada rilis resmi kenapa memilih Kota Banjarmasin sebagai salah satu kota untuk sosialisasi GNNT,, mungkin  selain pertimbangan sosiologis dan budaya Kota Banjarmasin sebagai kota perdagangan tertua di Kalimantan yang masih eksis sampai saat ini atau karena secara riil pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat pasca runtuhnya bisnis batubara, menjadikan Kota Banjarmasin sebagai salah satu kota atau daerah yang memerlukan threatment untuk mengembalikan gairah sirkulasi perputaran uang dalam perekonomian (velocity of money).

Gerakan Nasional Non Tunai (Grafis : pilihkartu.com)
Gerakan Nasional Non Tunai (Grafis : pilihkartu.com)
Tentang GNNT 

Tujuan utama Gerakan Nasional Non Tunai yang dipelopori oleh Bank Indonesia sebagai otoritas tertinggi keuangan di Indonesia adalah untuk meningkatkan sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan berbagai instrumen transaksi non tunai, dengan harapan secara bertahap nantinya akan tumbuh komunitas masyarakat yang bertransaksi non tunai dengan menggunakan instrumen non tunai (Less Cash Society) di dalam berbagai aktivitas ekonominya. 

Kenapa masyarakat didorong untuk bertransaksi non tunai dalam berbagai aktivitas ekonominya?  Seperti yang dilansir di beberapa media, menurut Susiati dewi, selaku Deputy Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Bndonesia, ada banyak manfaat yang  bisa didapat dari Gerakan Nasional Non Tunai, yaitu

1. Relatif lebih praktis dan aman bila dibanding dengan uang tunai, apalagi bila yang dibawa dalam jumlah besar.

2. Biaya untuk pengelolaan uang tunai mulai dari desain, pencetakan sampai peredarannya menyerap anggaran negara yang cukup besar. Dengan membuminya transaksi non tunai, otomatis biaya-biaya diatas bisa dialihkan atau dianggarkan untuk kepentingan negara yang lainnya. Efisiensi anggaran inilah yang dibidik oleh Bank Indonesia.

3. Proses administrasi pencatatan yang realtime, otomatis, teratur dan lebih rapi, tentu lebih memudahkan masyarakat dalam mengelola aktivitas ekonominya sehari-hari.

4. Berbagai keunggulan diatas, tentunya akan merangsang peningkatan sirkulasi perputaran uang dalam perekonomian (velocity of money)

Menurutnya, sampai bulan Oktober 2016, Gerakan Nasional Non Tunai telah disosialisaikan di 24 kota besar di indonesia dan telah menjadi katalis bagi hampir 1,2 juta orang untuk bertransaksi non tunai dengan menggunakan berbagai instrument transaksi non tunai yang telah ada seperti kartu kredit, kartu debit dan lainnya. diharapkan secara bertahap pada tahun 2024, pelaku transaksi bisa menjangkau 25% dari jumlah penduduk indonesia. 

Instrument Non Tunai (Grafis : BI)
Instrument Non Tunai (Grafis : BI)
GNNT dan Inovavasi Teknologi

Gerakan Nasional Non Tunai muncul sebagai gerakan nasional yang terus di sosialisaikan kepada masyarakat, tidak hanya karena nilai manfaat riil seperti yang dijelaskan pada pembahasan diatas, tapi juga menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap perkembangan inovasi teknologi informasi berbasis internet, khususnya layanan keuangan digital (LKD) dan e-commerce  

Layanan Keuangan Digital (LKD) merupakan kegiatan layanan jasa sistem pembayaran dan keuangan yang dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga atau yang biasa disebut agen LKD. Layanannya menggunakan sarana dan perangkat teknologi berbasis internet dalam rangka mempermudah akses keuangan bagi masyarakat.

e-commerce (electronic commerce) atau perdagangan elektronik adalah pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa berbasis internet. E-commerce melibatkan tr.

Sebagai bentuk inovasi pengembangan teknologi,  perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap Layanan Keuangan Digital (LKD) dan e-commerce tentu akan memunculkan sistem pembayaran berbasis elektronik (transfer), pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis .

Tumbuhnya e-commerce yang begitu pesat di Indoneia, berperanan penting dalam memberikan wacana baru berupa pilihan platform pembayaran baru kepada pelaku usaha dalam bertransaksi dengan masyarakat, khususnya transaksi non tunai. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif  dalam proses pembangunan ekosistem sistem pembayaran non tunai yang sehat dan progresif. Berkenaan dengan hal tersebut, Bank Indonesia selaku regulator Sistem Pembayaran memandang perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap LKD dan e-commerce sebagai sebuah potensi yang membutuhkan regulasi agar tetap berada dalam koridor kehati-hatian tanpa mematikan laju proses inovasi yang terus berlanjut.

30846920263-bbde7e4171-z-585255e829b0bd111643568a.jpg
30846920263-bbde7e4171-z-585255e829b0bd111643568a.jpg
Instrument Transaksi Non Tunai

Di Indonesia, sejak internet dengan produk turunan seperti e-commerce menjadi trend, instrument pembayaran non tunai yang berbasis elektronik telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini e-money atau uang elektrik telah banyak diterbitkan olah beberapa bank, seperti TapCash dari BNI, BRI produk BRIZZI-nya, BCA dengan produk Flazz dan yang lainnya. Tidak ketinggalan, perusahaan operator telekomunikasi seluler seperti Telkomsel, Indosat dan XL-pun tidak mau ketinggalan, dengan produk E-Wallet mereka terus mempromosikan sistem pembayaran dengan ponsel kepada masyarakat. Telkomsel dengan produk TCASH, Dompetku dari Indosat dan XL Tunai dari operator XL Axiata.  

Selain instrument diatas, sebenarnya masyarakat sudah sangat familiar dengan beberapa transaksi non tunai, seperti  

1. Automatic Teller Machine (ATM) 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2