Mohon tunggu...
Kadga Widya
Kadga Widya Mohon Tunggu... Tetap hidup walau tak berguna

Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Film

Review Film Pendek "TILIK"

24 April 2021   00:45 Diperbarui: 24 April 2021   01:56 60 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Review Film Pendek "TILIK"
whatsapp-image-2021-04-24-at-01-54-47-60831819d541df37ae0db5d4.jpeg

Di pertengahan bulan Agustus 2020 Ravacana film mengapload film yag berjudul  “TILIK”.Film pendak yang berdurasi 32 menit ini menceritakan tentang sekelompok ibu-ibu desa yang hendak merencanakan menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit dirawat di rumah sakit. Sekelompok ibu-ibu itu menyewa truck untuk membawanya kerumah sakit. Selama di perjalanan mereka asik berbincang-bincang tentang Dian yang di duga memiliki pekerjaan yang tidak benar dan mereka menghubungan dengan hal-hal yang tidak benar. Sisi menariknya di pertengahan perjalanan mereka mengalami banyak hambatan seperti ketika truk mogok dan mereka harus di dorong oleh ibu-ibu,  saat truk diberhentikan dan ditilang oleh polisi, saat Bu Tejo mendadak ingin buang air kecil, da nada salah satu ibu-ibu dari rombongan yang mutah-mutah karena mabuk perjalanan, hal yang sangat menarik perhatian penonton adalah sikap dari Bu Tejo yang ternyata diam-diam memiliki misi lain. Dia berusaha mengenalkan sosok suaminya, Pak Tejo yang rencananya akan mencalonkan diri sebagai lurah dikampungnya dan menggantikan Bu Lurah yang kondisinya kini sering sakit-sakitan. Bu Tejo bahkan memberikan amplop khusus kepada Gotrek,supir truk .Film ini memiliki 3 poin perdebatan yang membuat audiens atau penonton seru melihatnya. Yang pertama perwatakan yang berbeda antara satu tokoh dengan tokoh lainnya mengenai presepsi audiens tentang perempuan perdesaan yang biasanya lemah gemulai dan bijak. Tetapi mereka sebaliknya mereka dianggap sebagai biang gosip. Dengan gencarnya Bu Tejo menyebarkan cerita yang tidak-tidak seputar kehidupan Dian yang menurutnya adalah gadis yang tidak benar,suka mengganggu para lelaki dan seterusnya,dari sekian banyak ibu-ibu ada yang pro dan ikut memanas-manasi obrolan Bu Tejo namun ada juga yang berusaha menengahi dan bersikap bijaksana yaitu Yu Ning sosok ibu-ibu yang bijaksana selalu berupaya mengecek terlebih dahulu ketika ada kabar yang belum terbukti kebenarannya,dari situlah tak heran bila Bu Tejo dan Yu Ning selalu berseberangan pendapat bahkan mereka berdua terlibat adu mulut,Bu Tejo yang kekeh dengan pendapatnya sendiri dan Yu Ning yang selalu bijaksana untuk mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

Dikalangan audiens membantah bahwa yang digambarkan didalam film bertujuan menggambarkan sifat keberagaman yang berada di kalangan masyarakat tetapi kenyataannya sebaliknya orang desa yang dianggap lemah lembut gemulai karena kenyataannya baik perempuan desa maupun kota memang sering berbincang banyak jika bertemu.

Perdebatan kedua muncul ketika tindakan para tokoh yang dinilai membenarkan fitnah atau berita yang belum tau kebenarannya. Kekhawatiran muncul jika dapat membuat orang percaya tentang adanya berita hoax dan teori konspirasi yang tidak jelas.

Hal yang dilakukan oleh bu tejo dianggap bukanlah menyebarkan berita hoax melainkan penggambaran problem literasi digital dikalangan masyarakat yang dapat terjadi pada laki-laki mapupun perempuan.

Kemudian yang terakhir akhir cerita yang menimbulkan kekecewaan bagi mereka karena sosok yang digopikan yaitu dian, benar seperti apa yang diceritakan oleh rombongan ibu-ibu tersebut. Mereka menganggap film tersebut tidak ada nilai edukasinya pasalnya kebenaran sebelum dibagikan telah dikalahkan oleh hoax atau gosip yang dibicarakan oleh rombongan ibu-ibu.

Menaggapi hal tersebut penonton menyayangkan  mereka yang beranggapan seperti itu karna tidak dapat menikmati karya fiksi dengan pikiran terbuka. Tetapi film ini bertujuan sebagai hiburan bukan sumber pendidikan jadi hanya untuk hiburan saja. Didalam film juga tidak ada unsur siapa yang menang dan siapa yang kalah dan bukanlah semacam peperangan atau sejenisnya.

Menurut saya film ini cukup buat hiburan yang memuaskan settingnya menarik alurnya tidak mudah untuk di tebak. Perwatakan dari tokoh Bu Tejo dapat menghidupkan suasana didalam cerita jika tidak ada tokoh dari Bu Tejo maka film tersebut tidak ada hal yang menarik bagi saya. Perwatakan yang diperankan oleh Bu Tejo patut diacungai jempol karna berkat keluwesanya maka film tersebut jadi hidup.

Tindakan yang dilakukan oleh Bu Tejo dalam menggosip menurut saya tidak ada hal yang menunjukkan pada pembenaran atau penyebaran hoax. Apalagi rating dalam film tersebut 13 tahun ke atas yang dapat diasumsikan bahwa yang menonton dapat dengan bijak menikmati film tersebut

Menurut saya nilai positif yang dapat diambil dari film ini adalah semangat dan kekompakan sekelompok ibu-ibu dalam menjenguk bu lurah di rumah sakit,mereka rela naik truk demi segera ingin mengetahui keadaan bu lurah begitu mendengar ia masuk rumah sakit.

Pengalaman menonton film pendek ini karena banyak hal yang bisa dipelajari seperti kedekatan budaya yang ditampilkan dan mengisi kisah-kisah seperti budaya korupsi dan penggunjingan untuk mendapat porsi yang pas dalam setiap adegannya. Film ini juga semacam salah satu trobosan yang menyatakan kekuatan dialog antar pemain. Walau dalam kenyataannya sepaket cerita yang utuh rasanya sulit untuk mencari celah kesalahan atau hal yang tidak puas bagi penonton. Music yang ditambahkan pas serta pemandangan yang indah didalam film tersebut.


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x