Jusman Dalle
Jusman Dalle

Praktisi Digital Marketing | Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) | Serum Institute | Tenaga Ahli DPR RI 2009-2014 | Tulisan diterbitkan 38 media : Kompas, Jawa Pos, Tempo, Republika, Detik.com, dll | Sejak Tahun 2010 Menulis 5 Jam Setiap Hari | Tinggal di www.jusman-dalle.blogspot.com | Dapat ditemui dan berbincang di Twitter @JusDalle

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi headline

Agung Podomoro Land dan Ken Lawadinata Persengit Pertarungan E-commerce

5 November 2016   10:20 Diperbarui: 5 November 2016   16:36 948 1 1
Agung Podomoro Land dan Ken Lawadinata Persengit Pertarungan E-commerce
Ken Dean L. Sumber gambar: techinasia.com

Belum lama ini para Kaskuser seantero planet bumi bersedih. Berita kepergian Ken Dean Lawadinata dari online forum kebanggaan Indonesia tersebut sangat mengejutkan. Tak lama setelah keluar dari KASKUS, sang IT Man sekaligus co-founder KASKUS kembali membuat kejutan dengan kemunculannya di media.

Kali ini Ken muncul membawa berita bersama pimpinan Agung Podomoro Land (APLN). Ken dipercaya membangun sebuah e-commerce untuk trade mallyang berada di bawah pengelolaan APLN. Intinya, APLN akan masuk ke bisnis online dengan Ken sebagai panglima perang.

Dengan kapasitasnya di bidang IT yang sangat mumpuni dan tak diragukan lagi setelah sukses membesarkan KASKUS, Ken tentu saja akan mengerahkan segala kemampuannya untuk membuktikan bahwa ia memang mumpuni di bidang IT yang bisa dikatakan sebagai denyut nadi dari bisnis ecommerce. Ken mempertaruhkan reputasi sekaligus membuktikan diri, bahwa bukan hanya KASKUS dengan member aktif tak kurang dari 2 juta orang yang mampu ia bangun menjadi raksasa digital di Indonesia. Kekuatan Ken akan sangat berlipat ganda karena sokongan APLN yang kita kenal sebagai perusahaan besar di negeri ini.

Kolaborasi Ken dan Agung Podomoro Land diyakini mempengaruhi lanskap e-commerce,teurtama iklim kompetisi akan menjadi semakin sengit. Sisi positifnya, bagi para konsumen, ragam pilihane-commerce ini memudahkan kita memperoleh barang yang diincar dengan harga kompetitif dan tentu saja pelayanan yang semakin baik.

Ide APLN masuk ke bisnis e-commercesendiri bisa dipastikan untuk semakin mengokohkan positioningkonglomerasi ini di ranah trade mall. Saat ini, APLN memiliki 10 trade mall. Kekuatan 10 trade mall tersebut akan berlipat ganda dengan kehadiran e-commerce yang meruntuhkan sekat batas wilayah.

Selain 10 trade mall yang dimiliki saat ini, bukan tidak mungkin APLN juga mendorong integrasi tenant-tenant yang ada di mall milik developer pelopor konsep real estate ini masuk ke ranah ecommerce. Sebab APLN memiliki sejumlah mall ternama tak hanya di Jakarta, namun juga di luar pulau Jawa. Terlebih, saat ini APLN terus melakukan ekspansi bisnis dengan membangun superblok di daerah-daerah seperti Orchard Park di Batam dan Borneo Bay di Balikpapan. Di setiap superblok tersebut, APLN membangun kawasan komersil berupa pertokoan dan juga mall.

Ini artinya, kita melihat babak baru dalam bisnis ecommerce. Tak lagi melulu bicara soal retailer sebagai ujung tombak pemasaran. Ecommerce telah bersenyawa dengan industri properti yang sebelumnya telah mapan. Kedua industri yang berbeda aliran ini saling menopang positioning. Sesuatu yang unik, dan belum pernah kita dengar terjadi di negara lain.

Peta Ecommerce

Bila skenario semi terbuka dengan memberikan kesempatan kepada para retailer di trade mall maupun pemilik tenant di mall yang diterapkan oleh APLN nanti, maka ini berarti APLN menciptakan arus baru dalam industri digital di tanah air. Yakni memadukan antara ecommerce dan marketplace. Dimana kedua sistem ini memiliki perbedaan pada siapa sellernya.

Di marketplace, siapapun bisa menjadi seller dengan aneka macam produk. Sementara seller di ecommerce hanya satu, yakni si pemilik ecommerce tersebut. Sejauh ini, APLN dikabarkan akan memfasilitasi para pedagang di trade mall miliknya untuk go online.

Soal peta persaingan ecommerce dan marketplace, saat ini sudah banyak nama-nama popula yang sudah eksis di pasar. Mulai dari pemain lokal yang terafiliasi dengan konglomerasi bisnis besar seperti mataharimall, bukalapak, tokopedia maupun jaringan internasional seperti Lazada, OLX, dan elevenia.

Dengan nama besarnya, kehadiran APLN bisa dipastikan mampu mengubah persaingan ecommerce dan marketplace di tanah air. APLN, menjadi kompetitor kuat mataharimall.com yang juga sudah lebih dulu masuk ke ranah e-commerce untuk menjaga eksistensi Matahari Departemen Store. Bukan tidak mungkin, ecommerce milik APLN menyalip mataharimall karena adanya sokongan industri properti (real estate), yang menjadi core bisnis APLN. 

Soal nilai tambah, kedua e-commerce ini harus diakui memiliki diferensiasi yang kuat dibanding yang lain. Sebab baik APLN maupun mataharimall sama-sama mengintegrasikan online dan offline (O2O). Sebuah adopsi pemasaran di era ekonomi digital yang diproyeksikan oleh pakar pemasaran Hermawan Kartajaya, menjadi tren di masa depan. 


Selama ini, kehadiran e-commerce dan markaetplace belum memiliki peneterasi yang dominan karena berbagai faktor. Salah satunya karena masalah channel distribusi. Riset Brand & Marketing Institute mengungkapkan, hanya 24% orang yang pernah melakukan transaksi belanja online. Sementara 76% lainnya memilih berkunjung langsung ke toko. Faktor risiko keamanan dalam pengiriman, kepastian dan menghindari penipuan menjadi alasan kuat mengapa e-commerce yang booming tidak serta merta diminati.

Sumber ilustrasi: chainstoreage.com
Sumber ilustrasi: chainstoreage.com

Lain lagi riset Baymard Institute, mencatat sebanyak 67,45% orang cenderung hanya melihat-lihat isi laman toko online namun tidak melakukan transaksi. Alasannya sama, karena faktor keamanan tadi.

Adapun model O2O yang diterapkan oleh mataharimall dan e-commerce APLN (nantinya), menepis semua masalah tersebut. Sebab ada toko offline sebagai ujung tombak yang menjadi semacam pegangan bagi konsumen, penjamin keberadaan ecommerce yang mereka kunjungi di dunia daring. Itulah mengapa O2O menjadi tren pemasaran masa depan ketika ekonomi digital, khususnya e-commerce dan marketplace semakin mewabah.

Ini yang paling penting, bagi e-commerce maupun marketplace yang tidak mampu bersaing dan nimbrung di medan pertempuran para raksasa tersebut, sebaiknya fokus menguatkan diferensiasi. Angkat nilai tambah yang kira-kira menjadi celah dan tak bisa dimasuki oleh APLN maupun mataharimall. Misalnya aspek keunikan yang melekat pada e-commerce dan marketplace busana muslim yang mengusung brand-brand lokal dari kalangan UKM.

Di tengah pertempuran para raksasa, e-commerce dan marketplace ‘kecil’ sebaiknya merawat captive market yang telah mereka rengkuh alih-alih tergiur ikut arus yang diciptakan oleh para raksasa yang memiliki 1001 nyawa dengan sokongan modal tanpa batas nominal.

Sumber: 1 2 

Baca juga artikel saya tentang ekonomi digital yang pernah terbit di koran Republika : Menyoal Ekonomi Digital