irvan sjafari
irvan sjafari Jurnalis

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

[Review] Kisah Chrisye untuk Zaman 'Now'

7 Desember 2017   21:55 Diperbarui: 7 Desember 2017   22:14 1822 2 1
[Review]  Kisah Chrisye untuk Zaman 'Now'
Adegan dalam Film 'Chrisye' /Foto: Tribunne Pontianak.

"Ketika Gue ada di atas panggung, gue dapat energi dahsyat," kata Chrisye (Vino G Bastian) pada adiknya Vicky (Pasha Chrismansyah). Sang adik begitu takjub atas kekukuhan Chrisye meninggalkan bangku kuliah meniti karir di dunia musik. Musik adalah tujuan hidupnya.

Film besutan Rizal Mantovani ini mengangkat sebagian kehidupan penyanyi legendaris Indonesia bernama lengkap Chrismansyah Rahadi ini dari sudut pandang Sang Isteri,  Damayanti Noor.  Film ini dibuka dengan cuplikan berita televisi meninggalnya ayah dari empat anak ini pada 30 Maret 2007.

Film melompat ke suatu pesta ulang tahun di kediaman Vera di Jakarta pada 1972. Chrisye pada waktu tergabung dalam Band Gypsi bersama Gauri Nasution (Teuku Rifnu Wikana).  Pesta itu pertemuan Chrisye dengan Damayanti (Velove Vexia), pengagum Chrisye sebagai jago main bas.

Chrisye waktu itu berumur 23 tahun lebih asyik dengan dunia band  daripada kuliahnya di Universitas Kristen Indonesia. Ayahnya (Ray Sahetapi) mulanya menentang keinginan Chrisye karena di Indonesia nasib seniman tidak dihargai. 

Namun akhirnya ayahnya luluh juga dan mengizinkan Chrisye berangkat ke New York bersama teman-temannya kontrak setahun menyanyi di Ramayana milik Pontjo Sutowo di New York. Cerita kemudian mengupas momen demi momen penting kehidupan Chrisye.

Di antaranya pertemuannya dengan Sys NS (Arick Ardiansyah), Imran Amir pada 1973 meminta Chrisye menyanyikan lagu pemenang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors, "Lilin Lilin Kecil" karya Jame F Sundakh.   Berkat lagu ini nama Chrisye melejit ke blantika musik Indonesia.

Adegan terbaik  di segmen ini ketika ibu Chrisye (Neni Anggraeni) menangis mendengarkan lagu "Lilin-lilin Kecil" di radio di samping foto Vicky yang meninggal, sementara Chrisye pulang menatap dengan haru.     

Sayangnya penampilannya di acara "Untukmu Indonesiaku" yang dibesut oleh Guruh Soekarno Putra (Dwi Sasono), tidak dieksplor, hanya suasana latihan. Namun di sini Chrisye bertemu kembali dengan Yanti dan akhirnya menikahinya.  

Cerita pun bergulir mengungkapkan momen demi momen kehidupan Chrisye berkarir di dunia masik, pertemuan dengan  sejumlah tokoh Eddy Sud (Tria Changchiter yang agak komikal), Erwin Gutawa (Andi Asryl), Robby Tremonti (Jay Subiakto), Adhie MS (Isyadillah), para produser, mempersiapkan konser tunggal hingga riwayat sejumlah lagu karyanya tergambar dengan baik.  Begitu juga kehidupan Chrisye sebagai suami dan ayah dari empat anaknya.  

Dari segi cerita "Chrisye" cukup baik plotnya, dilakukan dengan  cermat bahkan sangat hati-hati seperti keputusan Chrisye menjadi mualaf, interaksi dengan tokoh-tokoh lainnya nyaris tanpa konflik berarti. Ini saya pahami karena menulis sejarah kontemporer bidang apa pun lebih sulit dibanding menulis sejarah abad ke 19 atau awal abad ke 20, karena tokoh-tokohnya masih hidup.  

Separuh film terutama epiosde 1970-an dan 1980-an nyaris datar. Saya sebagai penonton seperti disuguhkan album foto jadul. Kehidupan ekonomi  Chrisye yang sempat dibantu usaha jahit isterinya sebelum mapan  tidak terasa menyengat.  Justru menarik ketika saya tahu Chrisye ternyata enggan mendengarkan lagunya sendiri di radio.  

Untungnya seperti terakhir ada cerita yang menarik dan tidak saya temukan di media massa. Misalnya cerita menegangkan  di balik Konser Tunggal Chrisye di Balai Sidang yang disponsori RCTI dan kisah tercipta lagu religi "Ketika Tangan dan Kaki Berkata"  dan keterlibatan Taufik Ismail adalah di  antaranya.

Catatan untuk Setting Sejarah

Dari segi sinematografi Rizal Mantovani piawai, gaya hidup mulai dari mode pakaian, mode rambut, telepon analog rumah dan kantor, dansa 1970-an hingga era kekinian begitu rapi sesuai dengan masa itu.  Bahkan suasana Jakarta masa itu entah bagaimana Rizal mampu menyuguhkannya. Sekalipun hal itu sangat tidak mudah.

Saya berdebar ketika Taksi Blue Bird muncul pada 1970-an, namun menjadi lega ketika tahu pada 1972 sudah ada taksi Blue Bird yang pertama dan mobilnya bisa ditemukan di Museum Transportasi. Pertanyaannya apa iya Blue Bird sudah umum, masa itu?  Itu sebabnya uang kertas atau logam 1970-an dan 1980-an tidak diperlihatkan dalam film.  

Saya bicara dengan seorang setengah baya yang duduk di sebelah saya juga meragukan hal itu. Dia bilang masa dia President Taxi.  Kami juga asyik berdiskusi soal jam tangan yang digunakan Chrisye pada 1972 masih digunakan pada 1980-an. "Oh, mungkin isterinya masih menyimpan?" kata Bapak itu.

Masalahnya bukan saja penampilan fisik mengungkap sebuah kisha dalam sejarah. Tetapi juga istilah dan dialog masa itu jangan sampai keliru dengan masa sekarang. Saya ragu sebutan "Bro" atau "Man" yang diucapkan anak muda zaman "now", apa juga diucapkan anak muda era  1970-an? Atau mungkin dialog sesuai zaman itu tidak masa untuk anak-anak zaman "Now" (meminjam istilah sekarang).   

Departemen Kasting

 Dari departemen kasting, alangkah lebih baiknya pemeran Chrisye dan Damayanti muda pada 1970-an  berbeda dengan era 1990-an. Nyaris tidak ada perubahan wajah Chrisye dan Anti (panggilan Damayanti) era 1970-an dengan era 1990-an bahkan era  2000-an.

Tetapi bukankah Reza Rahadian juga berhasil meyakinkan penonton sebagai Habibie muda hingga Habibie tua?  

Yang paling sulit bagi Vino  dan Velove tadinya saya kira bermain sebagai anak 1970-an. Tetapi ternyata mereka justru mereka berhasil. Vino tidak terlalu mengejutkan karena dia pernah main film sejarah "3 Nafas Likas" dan "Warkop Reborn". Yang agak mengejutkan Velove tampil cukup  baik sebagai gadis 1970-an dari gestur dan gaya rambutnya.  Untuk kelahiran 1990-an tentunya ekspetasi yang lumayan.

Yang saya ragu justru ketika mereka berperan menjadi ayah dan ibu, apakah benar Chrisye dan Anti ketika menjadi orangtua? Apa bukan kembali menjadi Vino dan Velove? Untungnya adegan menjelang konser "feel" Vino dan Velove  menurut saya dapat.

Yang cukup konyol ialah sosok Ayah Chrisye tahun 1970-an masih segagah dan serupa 1990-an. Sekalipun akting Ray Sahetapy sebagai  aktor kawakan  tidak kalah menawan dengan logat berbau Bahasa Belanda.  Yang menarik sebetulnya ialah bagaimana para pemeran musisi dan produser. 

Saya ingin tahu apa yang ada di benak Erwin Gutawa dan Adhie MS ketika menonton film ini.   Pasha Chrismansyah, salah seorang anak Chrisye berperan sebagai adik Chrisye justru mencuri perhatian. Begitu juga pemeran anak-anaknya. Saya suka ekspresi salah seorang putri Chrisye dibully kawan-kawannya tidak bisa menyanyi.

Lepas dari catatan di atas,  secara keseluruhan saya menyambut baik film "Chrisye" sebagai tontonan bermutu, menghibur.  Bagaimana pun juga Chrisye bukan saja legenda musik, tetapi juga memberikan inspirasi. Lagu-lagunya masih tetap relevan hingga sekarang. Chrisye berkarya seperti menulis dengan tinta, kemudian diteruskan oleh musisi generasi berikutnya.

Pulang dari bioskop yang full box(pertanda baik bahwa film ini akan laris)  pada jam pertunjukkan kedua di sebuah bioskop di kawasan Jakarta Pusat, Kamis 7 Desember 2017, ada yang saya bawa pulang.  Bagaimana seandainya kalau ayah Chrisye tidak mengizinkannya ke New York? Seperti apa dunia musik Indonesia? Bagaimana dengan lagu "Lilin-lilin Kecil", jika tidak dinyanyikan Chrisye?

Kemasan musiknya juga pas untuk telinga penonton yang didominasi anak-anak zaman "Now". Mungkin ini juga alasan memilih Vino G Bastian dan Velove Vexia. Kalau alasan itu rasanya "Chrisye" berhasil. Tiga Bintang untuk film ini.

Irvan Sjafari