Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Awal Abang None Jakarta dan Awal Gaya Hidup Metropolitan 1968-1971

27 Juni 2012   13:02 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:29 3069
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
1340802055378886380

[caption id="attachment_197374" align="aligncenter" width="300" caption="Masayu Nilawati Saleh dalam Majalah Variasari"][/caption]

Pada 3 Juli mendatang kalau tidak ada aral melintang final Pemilihan Abang dan None Jakarta 2012 akan digelar. Pemilihan Abang dan None Jakarta adalah kontes tahunan pemilihan duta wisata yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.  Banyak “alumnus” kontes ini  baik mereka yang menjadi pemenang maupun bukan menjadi tokoh nasional, tidak saja  di jagat hiburan, tetapi juga ekonomi dan politik.

Cikal bakalnya dimulai sejak 1968 ketika kegiatan itu bernama None Jakarta.  Jika menilik sejarah, masa itu merupakan masa awal Orde Baru. Saat Indonesia untuk pertama kalinya menikmati stabilitas politik dan ekonomi. Pendpatan GNP penduduk Indonesia saat itu mengalami kenaikan sebesar 7 hingga 8 persen jauh dari masa sebelumnya. 2

Gubernur DKI Jakarta waktu itu Ali Sadikin melakukan pembenahan terhadap tata kota, di tangan dinginnya  Jakarta bertransformasi dari The Big Village menjadi Kota Metropolitan.3 Tidak hanya cukup pembangunan fisik, Bang Ali juga melakukan pembangunan budaya. Dia menyadari ketika pertama kali memerintah pada 1966 penduduk  Jakarta masih 3,4 juta jiwa dan dari jumlah itu sekitar 78 persen adalah pendatang. Karena Jakarta adalah ibukota negara maka di tempat ini harus bisa diwujudkan seni budaya seluruh Indonesia. Oleh karena itu Pemeirntah DKI Jakarta membentuk BKS (Badan  Kerjasama Seni dan Budaya).  Dibentuk juga Dewan Kesenian Jakarta. Bersamaan dengan dibangunnya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1968.

Untuk Jakarta sendiri seni budaya Betawi, seperti tari topeng, lenong,  ondel-ondel  yang tadinya ada di kampung ditarik dan dihidupkan kembali.  Abang dan None Jakarta ini tak lepas dari kebijakan budaya ini.     Mulanya memang tidak ada Abang Jakarta.  Awalnya hanya None Jakarta. Pada waktu itu  Ali Sadikin memang melihat contoh kontes Ratu-ratu kecantikan di luar negeri.

Jadi mengapa saya tidak bisa memulai pemilihan None Jakarta?  Denagn persyaratan, seperti ada dewan juri. Yang dinilai bukan hanya cantik rupanya, tetapi juga cantik otaknya, cantik kepribadiannya. Lalu setelah beberapa tahun dilengkapi dengan  Abang Jakarta.4

Kontes None Jakarta Pertama diadakan bertepatan dengan HUT Jakarta ke 441 pada 22 Juni 1968 di Miraca Sky Club, Sarinah. Waktu itu pesertanya hanya 36 orang.  Yang terpilih sebagai None Jakarta ialah Riziani Malik.  Hadiahnya  berupa piala dari PT Arafat, tiket ke Paris dan seperangkat peralatan minum teh.  Selain Rizani terdapat dua nama gadis yang kelak lebih mencuat namanya, yaitu connie Sutedja (Pemenang ke III) dan Dewi Motik (Pemenang Harapan) .

Kontes None Jakarta berikutnya diadakan pada 22 juni 1969 juga di Miraca Sky Club Sarinah.  Pesertanya meningkat menjadi 150 orang. Panitia melakukan seleksi hingga hanya 30 finalis.  Saat itu pertama kali panitai menjual tiket kepada publik seharga Rp 6.000 per lembar.   Dalam kontes kedua ini yang menjadi pemenang adalah Masayu Nilawati Saleh. Pemenang keduanya Linda Sjamsudin dan Jojo Mochtar.  Hadiah yang diterima Masayu adalah tiket ke Kuala Lumpur dari KLM.

Cukup menarik dari latar belakangnya, Masayu Nilawati Saleh disebutkan sebagai seorang gadis yang sebetulnya tadinya tinggal di Tanjung Karang, Lampung yang waktu itu belum  berusia 18 tahun.    Ibunya asal Tasikmalaya dan ayahnya dari Palembang.  Dia juga satu-satunya peserta dari luar Jawa dan masih sekolah di kelas satu SKKA Tanjung Karang.  Namun dia mampu menguasai bebrerapa tarian daerah. Tugasnya sewaktu menajdi None antara lain menjadi duta Gubernur DKI Jakarta mengunjungi negara-negara dalam lingkungan ASEAN untuk menyampaikan surat persahbatan Bang Ali kepada para walikota di negara-negara itu. 5

Baru pada 1971 Abang Jakarta mulai dikonteskan. Yang menjadi pemenang adalah Hamid Alwi dan menjadi None-nya adalah Tjike Soegiarto. Dalam kontes 1971 ini antara lain diikuti Poppy Dharsono yang waktu itu masih berusia 20 tahun. 6 Menyimak harian Kompas pada waktu itu diceritakan pemilihan Abang dan None Jakarta 1971 dilakukan dalam dua tahap.  Pada tahap pertama disaring 140 calon None dan 30 calon Abang di Arena Tertutup Taman Ismail Marzuki pada Kamis malam, 17 Juni dan Jumát malam 18 Juni. 7

Para Calon None hanya  memperagakan  sejenis pakaian saja, yaitu mengenakan kain sarung dengan baju kebaya serta kain kerudung. Yang dinilai  oleh para juri ialah kekhasan pakaian, termasuk kombinasi warna.  Para Calon None harus menunjukkan luwesan berjalan, menaruh tas serta mengenakan kerudung.  Penampilan kepribadiannya juga menjadi pertimbangan.

Agak berbeda dengan penilaian terhadap Calon Abang Jakarta.  Mereka diminta berpencak di depan para juri.  Pada malam pertama para Calon Abang ini berpakaian ala Djampang, namun ada pula yang tampil denagn pakaian lengkap serta pelayan hotel.  Tetapi pada umumnya mereka tampil dengan golok di pinggang, kumis melintang jambang panjang, kain pelekat serta cangklong.

Para juri untuk None disebutkan antara lain Ibu sud (Ketua), Ibu Azis saleh, Ibu Dahlan Nasir. Sementara Juri untuk Abang adalah Nafis Tadjri (Ketua)Maria Mardani, Connie Sutedja, SM Ardan.  Dalam acara penyisihan itu para hadirin antara lain dihibur oleh Henny Purwonegoro, Broery diiringi oleh Band Adhidarma. 8

Malam final 22 Juni 1971  dilaksanakan di Ramayana Room, Hotel Indonesia diikuti 30 Calon None Jakarta dan 15 Calon Abang Jakarta. Tjike Nugroho Sugiarto disebutkan menang dengan nilai 110,5, sementara Hamid Alwi menang dengan nilai 102,5.  None Jakarta mendapatkan ahdiah uang tunai Rp100 ribu, 1 Radio dari National Gobel, 1 Dinner Set , serta belanjaan senilai Rp100.000 dan PN Pertamina.  Tjike juga mendapatkan kulkas, kain songket dari Dajang Sumbi, serta tiket ke Singapura.  Sementara Abang Jakarat mendapatkan uang Rp100.000, 1 radio National Gobel dan belanja Rp100.000. 9

Menurut Ali Sadikin lagi dengan adanya Kontes  Abang dan None Jakarta sendiri dampaknya seni budaya Betawi dikenal tidak secara nasional tetapi juga oleh dunia luar.  Manfaatnya bagi pariwisata besar. Kalau ada acara-acara mereka ditampilkan, Peserta Abang dan None Jakarta bukan hanya asli Jakarta, tetapi juga para pendatang.  Ali Sadikin menekankan pada peserta bahwa mereka adalah orang Jakarta dan harus bangga menjadi warga Jakarta.  10

Kontes serupa kemudian diikuti kota-kota lain seperti Bandung, Surabaya dan Manado. Bahkan era 1970-an berbagai kontes Ratu-ratuan bermunculan.  Band-band populer  melesat pada era ini seperti Koes Plus, Panbers, D’Lloyd, Favourite rata-rata muncul kalau tidak di akhir 1960-an, muncul di awal 1970-an.  Fenomena yang menarik dan kebalikan era sebelumnya di mana hal-hal yang berbau Barat dipandang sebagai musuh pemerintah.

Kehidupan Leissure

Jakarta pada 1971 sudah  menunjukkan ciri-ciri Metropolitannya.  Ali Sadikin dalam menyambut HUT Jakarta ke 444 di RRI dan TVRI menyebutkan taraf kehidupan rakyat Jakarta meningkat terus. Regional Income per kapita pada 1966 Rp6224,4 melompat ke angka Rp 14.974,8 pada 1967, lalu Rp31.151,5 pada 1968 dan Rp47.141,8 pada 1970. 11

Mungkin angka-angka yang disebutkan Ali Sadikin begitu  fantastis, itu artinya setiap tahun peningkatan rata-rata 100 persen.  Namun memang faktanya gaya hidup mengalami perubahan drastis yang tidak terbayang kan sebelumnya.  Paling tidak ada sebuah diskotik populer yang disebut Tanamur (Tanah Abang Timur/14).  Dalam harian Kompas disebutkan diskotik ini setiap Kamis malam menampilkan jazz jamsession. Yang disebutkan tampil adalah Mus Mualim pada 17 juni dan The Rollies pada 20 Juni 1971. 12

Sejumlah Nite Club sudah berdiri.  Yang cukup populer antara lain Freista Nite Club di kawasan Hayam Wuruk,  yang buka jam 20.00 hingga 02.00 pada Hari Minggu hingga Jumát. Namun pada Saptu buka antara jam 20.00 hingga 03.00.  Dalam iklannya Friesta menyebutkan  mereka menampilkan band remaja dari luar negeri bernama The Six Happy yang pernah tampil di Hongkong, Tokyo, Bangkok, Saigon dan Singapura.   Nite Club terkenal lainnya adalah Flamingo. Cover charga pada waktu itu adalah  Rp2000 per orang untuk hari biasa dan Rp2250 untuk malam minggu. 13

Pertumbuhan Nite Club adalah konsekuensi Jakarta menjadi kota industri, kota pergaulan dan kota jasa.   Ali Sadikin membuat kebijakan untuk menarik para pedagang, pengusaha dan investor. Orang-orang ini kalau sudah malam membutuhkan tempat hiburan.  Untuk itu perlu langkah agar Jakarta hidup 24 jam.  Untuk imbangannya  Pemerintah DKI Jakarta membangun Gelanggang Remaja di lima wilayah kota dan Balai Rakyat di setiap Kecamatan.

Sejumlah tempat rekreasi dibangun sekitar 1966, seperti Binaria, Ancol  tidak saja wisata pantai tetapi juga didukung Drive-In Theater.  Pada 1970-an awal nonton di Drive In adalah hiburan favorit warga Jakarta yang berduit.  Lainnya adalah Taman Margasatwa, Ragunan yang menjadi tempat favorit bagi warga Jakarta dari kalangan menengah ke bawah.

Sejak 1968 tradisi pasar malam dihidupkan menjadi Jakarta Fair di kawasan Gambir.  Di tempat ini juga terdapat Taman Ria Monas. Saya ingat masih kecil  salah satu wahana yang mengasyikan di taman ini adalah naik monorel.  Jakarta juga punya taman lain awal 1970-an yaitu Taman Ria Remaja dibuka pada 15 Agustus 1970. Sarana rekreasi yang dimiliki Taman Ria Remaja antara lain kereta mini, cawan sukaria, komedi ria, bus mini, tempat pemancingan.  Namun saya lebih terkesan bahwa karena keberadaan Taman Ria inilah grup  pelawak sandiwara Srimulat dikenal publik secara luas.

Irvan Sjafari

Catatan Kaki

1Bagian utama tulisan pernah dimuat di Majalah Sinar pada 24 Agustus 1996 dengan judul Karier Meteor Si Abang Dan None

2 Kompas, 3 Juni 1969

3 Sejumlah studi menempatkan Jakarta masa Ali Sadikin merupakan tonggak penting.  Saya suka dengan  Lea Jellinek, Seperti Roda Berputar: Perubahan  Sosial Sebuah Kampung di Jakarta Jakarta: LP3ES, 1994 sekalipun buku itu memberikan pandangan bahwa Ali Sadikin menjadi awal penyebab kesenjangan antara kaya dan miskin di Jakarta.  Ali Sadikin membatasi pekerjaan utama para migran seperti penairk becak dan pedagang kecil yang dianggap merepotkan perencana kota.  Namun pada era ini televisi, radio recorder, listrik sudah memasuki kampung-kampung Jakarta.

4 Wawancara Ali Sadikin pada  Kamis, 25 Juli 1996 di kediamannya di Borobudur , Jakarta (Dokumentasi Pribadi)

5 Variasari 4 Juli 1969.

6 Tempo, 17 Juli 1971

7 Kompas, 19 Juni 1971

8 Kompas 16 Juni 1971

9 Kompas, 24 Juni 1971

10 Wawancara Ali Sadikin pada Kamis, 25 Juli 1996 di kediamannya di Borobudur  (Dokumentasi Pribadi).

11Kompas, 22 Juni 1971.

12 Kompas, 16 Juni 1971

13 Kompas, 28 Juni 1971

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun