Mohon tunggu...
Petra Yodinaro J Darling
Petra Yodinaro J Darling Mohon Tunggu... Menulis ketika ingin. Rehat ketika ingin. Mengkritik ketika diperlukan. Diam ketika mengendalikan. Seorang penulis lepas yang kadang omong kosong di dalam tulisannya. Namun kadang menyelipkan pesan tersembunyi di dalam tulisannya. Sekian.

Kajian Media YouTube Channel : https://www.youtube.com/c/kohjuno

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menjadikan Anak Robot Akademik

9 April 2019   22:48 Diperbarui: 9 April 2019   23:09 0 0 0 Mohon Tunggu...
Menjadikan Anak Robot Akademik
sumber gambar: HanCinema

"Study hard but feel unhappy? "

Bimbingan belajar (bimbel) bukan lagi hal baru. Sistem pendidikan yang condong memuja skor akademik membuat bimbel menjadi tambahan aktivitas belajar akademik di luar sekolah. Umumnya bimbel dipakai sebagai kegiatan belajar akademik tambahan untuk mendapatkan skor atau hasil ujian yang tinggi. Biasanya bimbel diikuti oleh para pelajar yang sudah mendekati ujian nasional.


Layanan bimbel pun ada banyak tersedia. Mulai dari kelas yang biasa hingga yang kelas elit tersedia. Bimbel yang tarifnya pebih mahal dari biaya sekolah pun tersedia. Di luar negeri bimbel bahkan sudah umum diikuti oleh para pelajar. Artinya, bukan hal opsional lagi. Seperti negara Korea Selatan, para pelajar di luar waktu sekolah yang panjang, mereka masih harus mengikuti bimbel. Tak dapat ditampik bagi negara semacam ini yang mana masyarakatnya cenderung keras berpatokan pada skor akademik. 

Mengikuti layanan bimbel tidaklah dilarang. Namun, perlu diingat bahwa manusia itu unik. Antar manusia tidaklah dapat disamaratakan. Ada anak yang condong bagus di bidang akademik, tapi ada pula yang memang lebih berprestasi di bidang atletik dan seni. Namun, atletik dan seni masih menjadi anak tiri, atau bahkan tidak dianggap sama sekali. Sistem pendidikan kita yang masih kaku memuja skor akademik dan menjadikannya patokan untuk menilai gemilang masa depan anak sungguh disayangkan. Sudah seperti diwariskan, pemikiran bahwa skor akademik adalah segalanya diturunkan daru orang tua kepada anak. Begitu seterusnya, seperti lingkaran setan. 

Sistem pendidikan kita perlu untuk dibenahi. Bagaimana kita bisa menyebut diri "memanusiakan manusia", tapi yang ada justru kita mencetak anak-anak untuk menjadi robot akademik. Sementara banyak anak-anak kita yang mengubur potensi atletik dan seni-nya karena orang tua menuntut prestasi akademik. "POKOKNYA NILAIMU HARUS TINGGI". 

Namun, sekali lagi, sangat disayangkan. Sistem pendidikan kita masih memandang dan fokus pada akademik sebagai pilar utama masa depan. Finlandia saja sudah jauh menyadari bahwa sistem pendidikan tidaklah baik bila menekan anak. Bagaimana mungkin masa eksplorasi anak kita tekankan ke dalam sistem pendidikan yang kaku dan robotik? 

Bimbel bukanlah keharusan. Mengikut-sertakan anak untuk bimbel tidaklah baik bila kita paksakan. Bila memang anak yang menghendaki untuk dirinya mengikuti bimbel, maka memang baik untuk bergabung. Kita pun harus mampu memahami potensi anak, apakah di bidang atletik, seni, ataukah akademik.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x