Junaidi Muhammad
Junaidi Muhammad

Bapak dengan 5 anak hebat, single parent, dan survivor gagal ginjal. Tujuan saya menulis untuk memotivasi sesama agar tetap kuat bertahan dalam sakit dan cobaan hidup yang mendera, serta meyakinkan bahwa kalian yang senasib dengan saya tidak sendirian.

Selanjutnya

Tutup

Energi

Berpikir Positif

31 Desember 2017   08:38 Diperbarui: 31 Desember 2017   18:20 828 1 0

Siapa bilang mudah? tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Akan sulit kita lakukan manakala di dalam otak kita penuh dengan subyektifisme dalam memandang dan menilai sesutu. Fenomena berfikir positif bukan dominasi para filosof dan ilmuwan saja. Kita orang awam-pun bisa. Seniman, relawan, agamawan, aktifis  kemanusiaan, adalah sederet profesi yang baik kita jadikan contoh. Komunitas mereka baik untuk kita jadikan referensi dalam berfikir positif dengan tanpa perasangka, tulus, natural, mengekspresikan pemikiran dan laku kesehariannya dalam mencerahkan orang lain.

Netralitas adalah kata kunci yang harus kita kedepankan. Melihat sesuatu dari sudut pandang manapun ketika kita ada dalam posisi netral, pasti akan terasa tanpa beban. Tidak mudah memang, apalagi jika posisi kita terikat dengan suatu komunitas baik formal maupun tidak. Dibutuhkan keberanian untuk  keluar dari  mainstream keumuman yang menjadi pembenaran bagi semua orang. Jika mau berfikir positif  kita harus memposisikan  diri diluar lingkaran untuk memandang jernih setiap persoalan dalam lingkaran dengan kacamata pembesar, hasilnya pasti akurat.

Dampak tidak populis dan penilaian miring dari orang-orang di sekitar kita  pasti terjadi dan akan kita rasakan. Dibutuhkan ketahan mental yang ekstra dari dalam diri kita untuk membentengi penilaian, persepsi, dan bahkan intimidasi sekalipun yang dilakukan oleh orang yang berseberangan dengan kita. Ter-marjinalkan, dijauhi orang lain, dipandang sebelah mata, dilecehkan, bahkan difitnah sekalipun itu merupakan sebuah konsekuensi.

Jadi apa keuntungannya untuk berfikir positif? Banyak sekali; Kejujuran berbasis nurani adalah keabadian yang memancarkan etos positif kepada semua orang. Ketika kita mampu mencerahkan orang lain, etos positifnya akan kembali dalam bentuk gelombang amplitudo pada diri kita. Dampaknya, kita kadang mendapatkan rejeki yang tidak terduga, kebahagian, kelapangan, dijauhkan dari kesulitan hidup, banyak teman dan lain-lain. Dan juga yang paling penting, kita terhindar dari perasaan bersalah karena membohongi diri sendiri, membohongi lingkungan dan alam semesta. Hukum alam selalu positif, kausalitas.

Sebab akibat adalah padanan yang selalu jujur tanpa bisa diintervensi oleh kekuatan apapun. Disinilah makna Illahiyah terpatri dalam laku manusia. Kejujuran dan selalu berfikir positif adalah seberkas sinar "ketuhanan" yang dititipkan dalam diri kita sebagai modal ke-khalifahan kita dimuka bumi.