Mohon tunggu...
Junaidi Khab
Junaidi Khab Mohon Tunggu...

Junaidi Khab lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Trenggiling Jelmaan Pengantin

21 November 2017   13:10 Diperbarui: 21 November 2017   13:12 0 1 0 Mohon Tunggu...

Pada zaman dahulu, ada sebuah pesta pernikahan. Seperti biasanya, pesta pernikahan dirayakan dengan mengundang sanak famili dekat dan yang jauh, para tetangga, dan hingga teman-teman yang jauh di sana. Pernikahan akan dianggap meriah kalau dua mempelai didudukkan di atas koadi yang menyerupai keraton.

Mempelai laki-laki sebagai raja dan mempelai perempuan sebagai ratu. Segalanya dihias dengan bunga-bunga dan tetumbuhan yang indah. Ruangan serba wangi yang kadang hampir menghancurkan tiang hidung. Keluarga mempelai biasanya cukup sumringah meski kadang harus melawan sibuk untuk menyambut para tamu undangan yang datang silih-berganti tiada henti.

Malam itu, mempelai laki-laki dan perempuan tampak penuh bunga di atas kursi yang menyerupai singgasana keraton-kerajaan. Pada acara sungkem pada masing-masing mertua di atas panggung pesta pernikahan itu, secara bergilir tradisi itu pun dilakukan.

Pertama kali yang melakukan sungkem pada mertuanya dari pengantin laki-laki. Pengantin laki-laki itu bertekuk lutut di hadapan dua mertuanya. Dia mencium tangan dua mertuanya dengan waktu yanh sedikit lama. Itu dilakukan secara bergilir dari ibu mertua hingga ke bapak mertua. Prosesinya pun berjalan dengan lancar dan penuh haru oleh para tamu undangan yang menyaksikan acara itu.

Setelah pengantin laki-laki selesai, dengan perlahan sembari membungkukkan tubuhnya, dia kembali ke posisi semula. Lalu, giloran pengantin perempuan untuk melakukan sungkem pada dua mertuanya. Perempuan yang cantik itu, menautkan sebilah senyum yang hampir mematahkan hati para undangan. Suasana menjadi hening saat pengantin perempuan itu secara perlahan melangkahkan kaki denhan senyum yang masih mengembang penuh kebahagiaan.

Para tamu undangan ternganga melihat gemulai pengantin perempuan yang berjalan mau bertekuk lutut di depan dua mertuanya. Saat itu, para tamu undangan masih terpesona dengan kecantikan dan kegemulaian pengantin perempuan. Hingga, saat dua lututnya hampir menyentuh karpet di bawahnya untuk sungkem, tiba-tiba terdengar suara yanh cukup jelas dari bawah bokong penhantin perempuan.

Kejadian itu persis membuat para tamu undangan menghentikan senyum gembiranya. Wajah pengantin perempuan itu memerah, lalu pucata saat baru sedikit menyentuh tangan mertua perempuannya. Dia tak berani membalikkan tubuhnya. Rasa malu akibat terkentut membuatnya terus merobohkan tubuhnya di hadapan mertuanya. Lalu, dengan rasa malu yang tiada terkira, dia menelungkupkan tubuhnya. Dalam posisi tidur miring kiri di hadapan mertuanya, dia menutupkan wajah pada dua lututnya untuk menutupi malu. Saat itu, pengantin perempuan menjelma menjadi seekor trenggiling. Suasana duka pun menyelimuti pengantin laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya. Tapi, pengantin perempuan itu sudah menjadi trenggiling karena tak tahan menahan malu. Dia mengutuk dirinya sendiri agat tak jadi menusia saja jika harus menahan malu di hadapan para tamu undangan yang membanjiri rumah dan pekarangannya, terlebih dia tak mau menanggung malu pada dua mertuanya.

Hingga saat ini, seperti yang kita tahu, trenggiling biasanya melingkar dengan menelungkupkan wajahnya. Itu karena malu. Itu tak lain jelmaan seorang pengantin yang terkentut dan malu saat akan melakukan sungkem pada ibu mertuanya.

CATATAN: Kisah dongeng ini, aku dapatkan dari nenek dari ibu di rumah (Kalangka, Banjar Barat, Gapura, Sumenep), juga bibiku dulu yang kadang mengulang dongeng itu saat suasana santai.

Yogyakarta, 21 November 2017

KONTEN MENARIK LAINNYA
x