Mohon tunggu...
Julita Hasanah
Julita Hasanah Mohon Tunggu... Masih Mahasiswa

A Long Life Learner

Selanjutnya

Tutup

Karir

My Career Matters

13 Juni 2019   13:56 Diperbarui: 13 Juni 2019   14:11 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sudah ratusan tahun emansipasi digerakkan di bumi pertiwi oleh sang Raden Ajeng. Sebagai wanita Indonesia yang hidup di era modern, aku sangat bersyukur memiliki kesempatan berkarir jauh melampaui kesempatan wanita pada masa Kartini beberapa tahun silam. Tak bisa kubayangkan betapa sulitnya wanita saat itu mengenyam pendidikan, mengutarakan gagasan atau ide, hingga berkarya sebagai proses aktualisasi diri.

Kartini telah menunaikan tugasnya dengan baik, kini saatnya perjuangan beliau kita lanjutkan, karena emansipasi belum sepenuhnya hadir bagi seluruh wanita Indonesia. Kebebasan wanita mengaktualisasi diri sudah terjamin secara umum, namun berdasarkan pengalaman pribadi dan wanita sekelilingku, tidak sedikit society yang masih beranggapan bahwa wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi ataupun meniti karir dengan serius. Kondisi tersebut secara nyata menjadi limit atau penghambat wanita dalam berkarir, begitu juga bagiku.

Hidup di lingkungan transisi antara pedesaan dan perkotaan cukup banyak menempatkanku pada posisi sulit terkait pilihanku untuk bekerja dan melanjutkan studi ke jenjang magister. Ketika acara keluarga, atau sekedar berbincang dengan tetangga, mereka kerap kali meyakinkanku untuk memikirkan kembali keputusanku untuk bekerja dan melanjutkan studi magister. Mereka berpendapat sebaiknya tidak perlu bermimpi tinggi-tinggi, karena wanita ujung-ujungnya akan berakhir di dapur dan mengurus anak.

Sejalannya waktu, bisikan-bisikan itu tumbuh menjadi tantangan yang harus aku taklukkan, aku tidak lagi menganggap keberadaanya sebagai sebuah hambatan untuk maju ke depan. Aku tidak tinggal diam, aku harus membuktikan bahwa mimpi seorang wanita agar memiliki karir cemerlang dan pendidikan yang lebih baik bukanlah sebuah anomali dalam kehidupan. Aku buktikan, aku dengan mimpi-mimpiku akan tetap menjalankan kewajibanku sebagai seorang wanita di rumah dengan sebaik mungkin.  Dengan kedisplinan tingkat tinggi, aku menjalani  berbagai peran baik di Rumah, di Kantor, maupun di lingkungan sekitar.

Di Rumah aku harus bisa menghandle keperluan Ayah, dan Adik-adikku, semenjak Ibu tiada. Memastikan sarapan sehat bagi mereka setiap hari, menyiapkan baju dan seragam sekolah,    hingga menjadi tempat curhat di malam hari. Sementara itu, tanggung jawab di kantor tidaklah sedikit, aku juga harus menjalankan komitmenku pada perusahaan. Dua puluh empat jam dalam sehari, harus benar-benar termanfaatkan untuk hal positif. Aku juga memiliki beberapa kegiatan lainnya, sambil menunggu perkuliahan S2 dan menyelesaikan kontrak kerja pada Mei tahun ini, aku dan temanku mendirikan "Coaching LPDP 2019" sebagai sebuah wadah untuk membantu temen-temen memperoleh beasiswa studi lanjut. Di sela-sela waktu luang, aku menuangkan ide dan gagasan melalui tulisan dalam berbagai forum, senang sekali jika bisa membagikan pengalaman kepada orang lain dan berkembang bersama. Intinya, aku ingin seluruh energiku dihabiskan untuk orang lain dan bermanfaat.

Berbagai hal yang sudah aku lalui, menumbuhkan pemahaman akan karir, pendidikan dan juga kewajiban domestik sebagai seorang wanita. Karir dan tanggung jawab tidak dapat di kotak-kotakkan secara terpisah. Anggapan bahwa wanita yang pekerjaannya hanya sebagai Ibu Rumah tangga bukanlah wanita yang cerdas, tentu salah besar. Anggapan bahwa wanita yang berkarir di kantor atau mengenyam pendikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak akan mampu menjalankan tugasnya di Rumah dengan seimbang juga bukanlah sebuah kebenaran. Aku rasa sudah banyak wanita hebat di luar sana yang membuktikan bahwa karir bukanlah hambatan untuk tetap menjadi Ibu atau Istri yang baik bagi keluarga. Jadi, society dan kaum adam tak perlu cemas, wanita sehebat apapun karirnya di luar Rumah, nalurinya akan tetap menuntunnya untuk kembali ke keluarga dan menjalankan peran domestiknya dengan tuntas.