Mohon tunggu...
Jumari ꦏꦁꦙꦽꦃꦼꦄꦸꦼ
Jumari ꦏꦁꦙꦽꦃꦼꦄꦸꦼ Mohon Tunggu...

Damailah jiwa raga dalam pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kualitas Carnival Wayang Menurun

21 Februari 2012   07:04 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:23 0 1 2 Mohon Tunggu...

Menanggapai komennya mas Bejo:

Alangkah lebik baik jika mas Jumari juga menyertakan data2 pendukung supaya tidak berkesan menduga saja. Sebagai wong Solo yg ada di perantauan, tentu saya berharap bhw kabar yg terdengar dr kampung halaman adl kabar yg baik-baik saja. Tetapi kalaulah ada yg kurang baik, saya yakin akan ada upaya utk memperbaikinya.

Yang saya sampaikan disini adalah peristiwa yang baru terjadi jadi masih hot untuk dibicarakan. Yaitu Carnivaal wayang. Kalau berkenan Mas Bejo lihat tulisan sayang yang berjudul "PAK WALI TAK SERAGAM" saya sudah sedikit curhat disana, kebetulan saya terlibat dalam KORLAP (Koordinasi Lapangan), dan inipun dadagan. Tak usah dibeberkan berapa dana sebagai team ini, yang jelas sangat minim.

Seusai pelaksanaan teman-teman di solo baik itu yang aku kenal maupun tidak menulis demikian: "materi karnaval kualitasnya menurun." Dan tulisan saya kemarin sebenarnya hanya menjawab kegundahan yang terjadi pada diri warga solo. Jadi saya berbicara banyak hal disana tentang solo, meskpun tanpa data yang mewadahi. Anggap saja itu sebuah kesaksian individu saja.

Setelah itu saya berusaha mengadakan tanya jawab di sebuah group yang saya wadahi dalam REMBUG KARAWITAN. Group ini terdapat dalam Facebook, anggotanya kebanyakan adalah aktifis seni tradisi dari Solo, Jogja, Bandung, Jakarta, dan para teman-teman yang bekerja di Ular Negeri. Aku pertanyakan tentang bagaimana pendapat mereka tentang pelaksanaan carnival hari tersebut, dan jawaban mereka bervariatif, dan jika diprosentasikan kebanyakan berpendapat bahwa itu PROYEK artinya lahan mencari laba, jadi tak aayal kalau materi karnivalnya secara kualitas berkurang. Kemudian yang menarik adalah kesaksian dari teman saya yang terlibat ikut andil sebagai peserta karnival, dia merangkum seperti ini:

1. Panitia memang sudah menentukan kesatuan tema yaitu wayang, dan sepertinya panitia sudah membagi jatah masing2, ada yg dapat jatah widadari, wayang wong, punakawan, dsb. Tapi nek menurutku wingi rasane kok kurang ragam y Mas, tur mampring. Ada materi sg tumbuk antar grupnya. Mampringe krna terkesan "entheng" wae, mungkin musik sg marai entheng, krna tdk bnyak peserta sg pakai musik. Atau interpretasi ttg "wayang" yg sulit dicerna peserta? 2. Stage musik dan atau gamelan di beberapa titik enek apike enek eleke. Apike: memasyarakatkan gamelan, ngisi ruang2 suara sg kosong, ben g nglangut, bisa nambahi greget peserta sg g pakai musik. Sisi eleke: seperti enek saingan banter2an n menang2an ing antarane pemusik sg ng panggung ro pemusik sg mlaku. Seharusnya pas ana peserta sg lewat, musik sg ng panggung sumene sik, ngurmati peserta sg lewat (sg gawa musik). Tapi kemarin kan tidak, sg peserta musike muni, sg ng panggung ya muni, banter2an ra karuan dirungokake, ng kuping g penak gerake sg mlaku ya dadi kacau beliau. 3. Niki masalah teknis Mas, jaman pirang tahun kepungkur enek peraturan saka panitia sg melarang menginjak taman kota, dan rencana panitia menyediakan kursi utk penonton, tapi sepertinya g berjalan. Dan pirang tahun kepungkur penataan penonton bagus, ada pagar betis sg mengatur penonton, sehingga tdk mengganggu ruang gerak peserta.

Inti dari pendapat itu adalah penggambaran kesemrawutan dalam pelaksanaan. Saya dalam lapanganpun sempat penthelengan dengan team panitia dari pihak Dina, aliasnya pelaksanaanya sanngat kondisional, jadi segala program yang telah ditetapkan jadi kacau. Itu belum masalah keberangkatan yang sempat bikin panas hati, karena berbagai usulan tambahan peserta justru dari KALANGAN KAMARINTAH yang mendadak. Kesemrawutan juga terjadi pada penonton, karena tidak terkontrol denagn minimnya panitia yang bekerja.  Jadi secara total: Antusias penonton jadi sangat bagus dan terbidik oleh kamera dan wartawan serta para pemburu ivent, sehingga jadi bahan laporan dan untuk mengagendakannya lagi untuk tahun depan. Saya yakin mereka tidak akan menulis tentang kesemrawutan tersebut, akibatnya rutinitas kesemrawutan akan  menjadi agenda rutin tiap pelaksanaan carnival semacam ini.

Secara tekhik kelihatan dari kurang persiapan yang matang adalah Kereta yang dinaiki oleh Pak WAli, seharunya kudanya dikasih kantong plastik sebagai adhah telek, namun kemarin tidak, padahal tidak hanya satu kereta yang terlibat, jadi bayangkan kuda-kuda tersebut nelek di jalan. Pasti mengganggu penonton dan menaburkan aroma yang sangat wangi kan? Terus soal formasi barisan yang semula sudah ditetapkan jadi perubahan, arak-arakan wayang raksasa pemecah muri terlalu banyak berhenti saking tingginya sehingga ketika ada kabel listrik atau telp terpaksa harus bekerja keras menyelamatkannya biar ga tersangkut.

Menarik lagi adalah pendapat seorang pemerhati berbagai karnival yang ada di solo, sebagai berikut komennya:

Kalau soal kesemrawutan itu sudah jadi tradisi, jadi jangan selalu dibahas. Yg perlu dikritisi itu justru pada persoalan penentuan materi dan menata pertunjukan dalam bentuk arak-arakan di jalan raya. Mana mungkin kesenian bisa perfek kalau semuanya tidak dikondisikan. Dan lain-lain lah, silakan dipikir. Kita seniman mestinya jangan selalu manut lah, dari pada setiap habis karnaval pada sters mending kita jadi penonton saja yang bisa apa saja. Nah kalau cuma sekedar ingin eksis atau cari uang lewat karnaval mestinya jangan pakai pertimbangan yang njlimet-njlimet, yg penting ramai, gayeng, glamor,keras dan mbrebegi.

Sekian semoga menjawab pertanyaan Mas BEJO.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x