Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menghadirkan Mukjizat

18 April 2020   07:54 Diperbarui: 18 April 2020   08:02 55 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menghadirkan Mukjizat
Sumber ilustrasi: pixabay.com

"Menunggu mukjizat datang". Begitu postingan di wall fb, sekilas terbaca mata. Karena cuma iseng scroll,  saya tidak sempat berhenti dan tahu itu kalimatnya siapa. Tapi dari kalimatnya, saya tahu, ada kegelisahan dan penulisnya sedang berharap.Ide lakon film superhero sekelas hollywood pun, sebenarnya memilki makna yang sama. Berharap mukjizat. Segala persoalan segera tertuntaskan oleh hadirnya keajaiban. Entah darimana datangnya dan bagaimana cara penyelesaiannya. Intinya, persoalan tertuntaskan.

Di tengah badai wabah kali ini, ada begitu banyak orang yang tertekan dalam kegelisahan dan ketakutan. Media, mengokohkan perasaan tersebut tetap berlangsung. Sampai kapan situasi seperti ini akan terus terjadi? Mampukah kita melewati badai ini? Tidak ada yang tahu pasti. Semua hanya berharap. Semoga!

Pada situasi seperti inilah, mukjizat adalah sebuah harapan. Seperti halnya kehadiran superhero dalam imajinasi pembuat film. Dalam ketidakberdayaan, hal itu adalah solusi praktis yang mampu kita pikirkan.

Tetapi menunggu, itu pasif. Apalagi menunggu dalam situasi ketidakpastian. Menunggu hal yang sudah pasti saja, kadang kita bosan dan jenuh. Apalagi menunggu yang samasekali tidak pasti. Bisa saja justru membawa kita pada kubangan keputusasaan. Lantas gagal dan pada akhirnya mengutuki mukjizat yang tak kunjung datang itu.

Saya teringat dengan sebuah gagasan kertas dan titik spidol di tengahnya. Ketika saya bawa ke kelas dan tanyakan ini apa. Sebagian besar menjawab, titik spidol. Tidak ada yang menjawab, kertas putih dengan sedikit noda spidol. Ini hanya soal perspektif. Dan setiap perspektif, mempengaruhi bagaimana kita merespon.

Kita sedang dilanda wabah, musibah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahkan di generasi orang tua saya, yang fasilitas medisnya masih terbatas. Apalagi bagi saya yang hidup di era yang konon kabarnya serba supercanggih ini ; era revolusi industri 4.0. Semestinya, semuanya telah terprediksi dan terantisipasi. Tapi buktinya, tidak demikian.

Tidak ada yang salah dalam berharap pada mukjizat. Tetapi itu pasif, sementara kecenderungan kita itu aktif. Dinamis, serba ingin tahu, karena akal budi yang Tuhan sudah gariskan kita miliki. Sehingga tidak ada salahnya juga jika kita punya perspektif yang berbeda dalam berharap pada mukjizat. Tidak lagi pasif, tapi aktif, yaitu "menghadirkan" mukjizat.

Bencana wabah, membawa kita berpikir dan membayangkan hal-hal yang kadang terlalu jauh. Lantas, kita berandai-andai. Sehingga lupa pada apa yang sebenarnya sedang kita alami, di detik, menit dan jam jam ini.

Masih adakah yang dapat kita syukuri dengan keadaan yang benar-benar kita alami? Masih sehatkah kita? Cukup rezekikah? Bagaimana dengan keadaan dan orang-orang di sekeliling, masih adakah yang  bisa disyukuri?

Bukankah selalu ada yang bisa disyukuri dengan apapun yang sedang terjadi, dan bukankah semua itu mukjizat?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x