Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Berkaca pada Hidup Sehat ala Tjiptadinata Effendi

10 September 2019   12:06 Diperbarui: 10 September 2019   12:21 0 7 4 Mohon Tunggu...
Berkaca pada Hidup Sehat ala Tjiptadinata Effendi
Sumber: kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43

Tulisan pak Tjiptadinata pagi ini menarik. Beliau berbagi cara hidup sehatnya. Diusia menjelang 77 tahun, beliau masih bugar.  Merawat diri itu murah, yang mahal itu mengobati. Begitu beliau menegaskan dalam tulisannya.

Lantas saya mulai melihat pola hidup saya, setidaknya mulai introspeksilah. Beberapa hal, sudah, bahkan pak Tjip masih kalah sama kebiasaan saya bangun pagi.

Pak Tjip membiasakan diri bangun pagi, beliau menyebut angka jam pada 05.00, sementara saya jam 04.00. Itupun masih harus tergesa, karena 04.30 WIB saya sudah harus berjalan mencari angkutan.

Sebagai warga tetangga ibukota yang merasa jadi orang ibukota, saya diuntungkan oleh ketersediaan angkutan umum yang relatif baik.

Sejak Jokowi jadi gubernur, saya memutuskan diri sebagai pengguna angkutan umum. Meski harus berjalan beberapa ratus meter ke depan komplek. Lantas naik angkutan kota, menuju halte transjakarta terdekat. Pinang Ranti, Jakarta Timur, guna menuju kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Ketergesaan, membuat ada beberapa hal yang sering terlewatkan. Berdiam diri sejenak, bersama anak dan istri untuk mengucap syukur.

Angkutan umum, menjadi ruang "ibadah" istimewa di tengah rutinitas. Ruang kontemplasi,  berdialog dengan Tuhan. Menjadi ruang sunyi di tengah keriuhan. Apalagi ada banyak waktu di sana, satu hingga satu setengah jam dipagi hari saat berangkat, dua hingga tiga jam di sore hari saat pulang.

Capucino di pagi hari, juga saya nikmati, di ruang guru. Pada 06.15,  sejenak kami para guru bersama berdoa bersama, memohon kekuatan dan bimbingan Tuhan, agar hari ini berjalan sesuai kehendakNya.

Pada 06.30 WIB, kami sudah harus berdiri di depan kelas. Membagikan energi positif, dari satu ruang ke ruang lainnya. Ada ratusan kepala setiap harinya mencermati apa yang saya sampaikan. Dari pagi hingga menjelang sore. Apa jadinya jika saya sedang tidak berenergi positif?

Sangat terasa dampaknya. Anak-anak, para siswa itu menjadi pantulan energi yang saya pancarkan. Positif yang saya pikirkan dan pancarkan, positif yang kembali pada saya. Demikian juga dengan negatif.

Rutinitas dan beban kerja, memang tidak selalu membuat saya berada pada gelombang energi positif. Adakalanya, saya tenggelam dalam kubangan energi negatif. Badan terasa sakit saat bangun, menjelang berangkat kerja.

Menghentikan rutinitas dan meringankan beban, tidak mungkin, karena saya bukan pengambil keputusan atas pekerjaan-pekerjaan saya itu. Nah, ini bedanya dengan pak Tjip.

Sejak beberapa tahun lalu saya sudah berjanji pada diri saya, tidak membawa pekerjaan ke rumah. Karena itu tidak akan pernah ada habisnya. Kecuali jika saya belajar hal-hal baru, saya lakukan meski itu terkait dengan pekerjaan.

Saya juga belajar menghadiahi diri sendiri untuk prestasi-prestasi kecil yang berhasil saya peroleh. Misalnya, ketika saya berhasil menyelesaikan koreksian, maka saat pulang kerja, makan bakso Wonogiri depan komplek. Tetapi ini saya tegaskan di kepala sebagai sebuah hadiah. Murah kan.

Sebelum tidur, adakalanya menyempatkan diri bersama anak-anak. Sekedar merebahkan diri di kamar mereka. Mendengarkan cerita mereka. Meski tak banyak, karena biasanya saya terlelap sebelum cerita mereka tuntas. Ketika terbangun, giliran mereka yang terlelap.

Jika masih ada waktu, dan mata masih kuat, saya pergunakan untuk menulis. Apa saja yang terbersit di kepala, daripada jadi mimpi buruk karena tak tertuang.

Mungkin ini bukan gaya hidup sehat, tetapi saya belajar menikmati setiap detiknya, bahkan disaat mengeluh. Berharap masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk menuliskan hal-hal indah seperti halnya Pak Tjiptadinata Effendi dan Ibu. Salam hangat selalu.

Bacaan
Rahasia Merawat Diri, Sehat Lahir Batin Tanpa Biaya

KONTEN MENARIK LAINNYA
x