Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hidup Susah di Zaman "Now"

6 Oktober 2018   07:51 Diperbarui: 6 Oktober 2018   08:38 440 6 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hidup Susah di Zaman "Now"
Pixabay.com

Banyak yang berkomentar, sekarang ini zaman susah. Harga harga mahal, rakyat hidupnya terancam. Kritik pemerintah di tangkap. Pekerja asing merajalela. Ekonomi dikuasai asing. Belum di tambah dolar yang meroket.

Bagi mereka yang sudah jatuh hati pada  pemerintah. Pernyataan-pernyataan  itu tak punya dasar. Tanpa data, hanya melihat satu bagian yang dipisahkan dari bagian lainnya.

Saya tidak ingin berpolemik, karena masing-masing memiliki argumentasi pendukung. Selama fakta, data dan argumentasi di sampaikan dengan bermartabat. Okelah. Karena, dari banyak perspektif kualitas kehidupan berbangsa akan naik kelas.

Menggunakan perspektif lain pula, saya akhirnya mengerti bahwa benar, bangsa ini sedang susah bahkan mungkin boleh dibilang terpuruk.

Energi anak bangsa dihamburkan untuk hal hal yang tidak produktif. Mengomentari hal-hal yang tidak perlu dikomentari dengan caci maki. Mengundang perdebatan yang bahkan hingga merendahkan nilai-nilai kemanusian.

Disaat segenap anak bangsa diselimuti duka, sebagian elitnya justru mempertontonkan kebodohan dengan menggembar-gemborkan hoax. Memecah konsentrasi penguasa. Menyerap energi rakyat, dan mengalihkan konsentrasi. Ini benar-benar lelah yang sia-sia.

Demokrasi yang dilahirkan karena semangat mengapresiasi pada mereka yang berbeda dan tak bisa bersuara, justru digunakan untuk menunjukkan arogansi. Mayoritas, minoritas. Ujungnya, demokrasi hanya menjadi upaya pemaksaan kehendak.

Sebagian elit wakil rakyat yang semestinya merepresentasikan apa yang dihidupi rakyatnya, lari dari pakem. Berbicara atas nama dirinya sendiri, yang kadangkala justru mempermalukan rakyat yang diwakilinya. Bahkan menihilkan kapasitasnya hanya untuk sekedar bisa mencemooh lawan politik.

Ini, hanya sedikit dari sekian banyak fakta lainnya lagi. Segini saja, membuat kinerja yang semestinya cemerlang jadi tak mengkilat. Memang, bagi pengabdi  sejati, ini tidak akan dilihat. Bukan sesuatu yang dapat menghentikan langkah. Persis seperti ungkapan, sekali layar terkembang , teruskan sendirilah.

Jadi hidup memang semakin susah, jika saat harga-harga mahal mencari kemana presiden. Dolar naik, kemana presiden. Pembantu sakit juga cari presiden. Sebegitu hebatkah presiden, hingga menggantungkan hidup seolah olah segalanya akan selesai di tangan presiden? Presiden jadi solusi segalanya.

Minggu lalu, harga telur memang mahal, lantas presiden ganti. Kemarin harga telur turun, bahkan dibeberapa toko lebih murah jauh. Apakah presiden yang sudah diganti mau kita kembalikan lagi?

Jika begitu cara berpikirnya, maka negeri ini memang benar susah, karena warganya berpikir payah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x