Jane Papilaya
Jane Papilaya

"Keep your mind as bright & clear as the vast sky, the great ocean & the highest peak, empty of all thoughts."

Selanjutnya

Tutup

Politik

Maluku Belanda Vs Jawa Suriname

20 Januari 2012   04:46 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:39 6360 1 4
Maluku Belanda Vs Jawa Suriname
1327034504270460007

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia tanggal 27 Desember 1949, tentara Belanda harus hengkang dari bumi pertiwi termasuk Maluku. Namun demikian, banyak orang Maluku yang pro-Belanda enggan meninggalkan tanah asal-usulnya.

Saat itu Chris Soumokil, Jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT) secara sepihak mengumumkan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) pada tanggal 25 April 1950, sebagai reaksi atas bergabungnya NIT (termasuk Maluku) ke dalam Republik Indonesia pada pertengahan April 1950. Hal itu membuat Indonesia memandang RMS sebagai pemberontakan sehingga menjalankan operasi militer untuk menumpasnya.

Menghadapi perkembangan ini, banyak orang Maluku pro-Belanda/RMS mengajukan permohonan mengungsi ke Belanda karena merasa terancam keselamatannya. Akhirnya dengan berat hati Belanda pun menyanggupinya dan sekitar 12.500 orang, anggota KNIL asal Maluku beserta keluarganya, diangkut ke Belanda untuk sementara waktu. Mereka inilah yang menjadi cikal-bakal keberadaan etnik Maluku di Belanda.

Lain halnya dengan etnik Jawa di Suriname, mereka diangkut Belanda dalam rentang waktu 1890-1939, sekitar 32.956 orang imigran Jawa diangkut menggunakan kapal ke Paramaribo, Suriname. Setelah menyelesaikan kontrak kerja, para kaum buruh-kontrak Jawa dari Hindia-Belanda ini diberikan pilihan, kembali ke tanah Jawa atau menetap di Suriname. Sebagian besar memilih untuk menetap di Suriname, yang akhirnya menjadi tanah air kedua. Setelah periode itu, banyak pula yang bermigrasi ke Belanda.

Saat ini, populasi orang Jawa-Suriname di Belanda berjumlah sekitar 30.000 jiwa. Meskipun populasi orang Jawa di Belanda terbilang kecil jika dibandingan dengan warga keturunan lainnya, komunitas ini sangat dinamis. Hingga saat ini komunitas keturunan Jawa di Belanda tidak terlalu mendapat sorotan media dan publik secara umum.

Banyak dari mereka bergabung dalam sejumlah organisasi Jawa dan aktif berperan di bidang kesejahteraan sosial, kebudayaan dan keagamaan. Kelompok seni seperti para pemain gamelan dan penari Jawa, serta grup musik yang kerap membawakan lagu-lagu pop Jawa juga banyak bertebaran di berbagai kota besar di Belanda. Selain itu, ada 4 radio Jawa-Suriname. Berbagai organisasi tersebut bertujuan sama, ingin terus melanjutkan tradisi dan warisan budaya orang Jawa di Belanda.

Jika kita membandingkan antara kedua etnik tersebut di Negeri Kincir Angin yang justru membawa dampak positif bagi keberlangsungan bernegara adalah tertuju pada etnik Jawa sedangkan etnik Maluku tercemar oleh segelintir orang karena RMS-nya, yang mengakibatkan etnik Maluku justru dianggap sebagai beban negara bersangkutan. Mereka (RMS) melakukan berbagai gangguan keamanan untuk memaksa Pemerintah Belanda memenuhi janjinya mewujudkan cita-cita Republik Maluku Selatan, namun hal itu disangkal mentah-mentah oleh Pemerintah Belanda karena keberadaan mereka di negeri ini bukan atas keinginan Belanda tapi atas inisiatif mereka sendiri.