Mohon tunggu...
Joseph Edwin
Joseph Edwin Mohon Tunggu...

Melukis kita dengan kata

Selanjutnya

Tutup

Tekno Pilihan

Puisi Astronomi

16 Agustus 2016   19:37 Diperbarui: 25 Agustus 2016   22:05 0 2 0 Mohon Tunggu...
Puisi Astronomi
Nebula Helix atau Mata Tuhan. Foto oleh NASA untuk apod.nasa.gov

“Ada efek anestesi dari kelaziman. Sebuah obat bius yang menumpulkan indera dan menyembunyikan ketakjuban hidup.”

Demikian kutipan Profesor Richard Dawkins dalam bukunya Unweaving the Rainbow yang diterjemahkan menjadi Mengurai Pelangi.

Ratapan tadi menggambarkan rasa penasaran terhadap ‘keajaiban’ dunia yang kian menyusut. Segala yang hadir di keseharian kita sering menjadi latar indah di panggung kehidupan tanpa mendapat perhatian lebih.

Sebut saja matahari, sang surya. Ia dikenal sebagai benda pembawa pagi hari, teriknya mengundang peluh dan momen kepergiannya melukiskan langit serba jingga dan merah.

Namun, tahukah bahwa matahari menyokong kehidupan bumi? Bola api yang berjarak 150 juta kilometer dari bumi ini membantu tanaman mengolah nutrisi dari tanah dan karbon dioksida untuk menghasilkan oksigen yang kita hirup, serta hasil bumi yang kita nikmati.

Demikian pula rembulan yang berperan sebagai lentara malam dengan memantulkan sinar matahari. Bukan hanya memiliki efek terang, kehadiran bulan juga menyebabkan terjadinya pasang laut akibat gaya gravitasi yang ia miliki.

Ribuan bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang dan planet kerabat di tata surya yang diberi nama agung dewa-dewi Yunani yaitu Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus; semua lebih dari ornamen pengisi kekosongan luar angkasa.

“Tentu kita dihadiahkan bintang dan planet di atas langit, toh, bukan hanya sebagai hiasan,” jelas Widya Sawitar.

Penceramah di Planetarium dan Observatorium Jakarta ini lanjut menjelaskan bahwa bumi kita yang terasa amat luas ternyata hanya sebuah titik debu di samudera luar angkasa yang tampak tiada batas. Dan benda angkasa seperti matahari, bulan, planet dan bintang juga mengapung di samudera luas yang sama.

“Jika alam semesta diumpamakan sebagai rumah, maka kita layaknya ditempatkan di satu sudut kamar. Masih banyak yang belum kita ketahui mengenai halaman depan tempat tinggal kita sendiri,” kata pria berkacamata ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5