Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Guru - Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Guru SDM Branjang (Juli 2005-April 2022), SDN Karanganom II (Mei 2022-sekarang) Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

WFH, Siswa Usil dan Malas Mengerjakan Tugas Itu Kini Menjadi Rajin

3 April 2020   13:04 Diperbarui: 3 April 2020   13:04 496
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: blog.airyroom.com

Sudah 3 pekan para siswa belajar di rumah. Mereka yang semula bertatap muka dengan saya, guru kelasnya, kini dibantu oleh orangtuanya masing-masing.

Terus terang saya pribadi tidak terlalu banyak memberikan tugas. Saya berikan satu bahasan saja. Jadi dalam satu pembelajaran tematik bisa saya berikan untuk dua atau tiga hari.

Saya sengaja memberikan tugas yang tidak terlalu banyak. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan. Mulai dari keterbatasan orangtua dalam menyediakan kuota internet yang digunakan untuk mengirimkan hasil pekerjaan siswa maupun komunikasi lain yang berkaitan dengan materi pelajaran.

Selain itu, saya akan merasakan bagaimana beratnya tugas para orangtua ketika anaknya belajar di rumah. Mengingat materi pelajaran yang sangat berbeda dengan pelajaran saat orangtua masih bersekolah. 

Buku paket siswa yang dibawa siswa pun tidak terlalu banyak informasi atau bacaannya. Jadi orangtua maupun anak harus kreatif mencari sumber bacaan dalam memahami tugas pembelajaran.

Saya memahami bahwa tidak semua orangtua mampu membimbing para siswa. Dalam keterbatasan ekonomi dan pengetahuan orangtua siswa harus saya pikirkan juga. 


Saya menyadari, saya yang berprofesi sebagai guru saja kewalahan ketika mengajar siswa. Padahal itu sudah menjadi profesi saya sekian lama. Menyampaikan materi pelajaran yang menyenangkan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Berhadapan dengan beragam karakter siswa membuat guru harus ekstra sabar. Siswa yang usil, malas mengerjakan tugas hampir dapat dipastikan muncul di setiap tahunnya. Siswa berulah ini akan membuat teman dan guru kurang nyaman. Pembelajaran di kelas menjadi terganggu.

Namun dari yang saya amati, ibu dari siswa usil saya malah paling rajin melaporkan hasil pekerjaannya. Memang saya tak tahu di belakang layar sana, apakah sang ibu harus kesal dengan anaknya atau tidak. 

Yang jelas selama saya mengajar siswa usil itu, hampir dipastikan akan jarang mengerjakan tugas harian. Meski dirayu, dibujuk dengan cara paling halus sampai agak memaksa, tak dipedulikannya.

Saya nyaris angkat tangan dengan ulah siswa usil itu. Padahal hal terpenting yang saya inginkan sebagai pendidiknya, dia mau mengerjakan tugas. Entah hasilnya seperti apa. Jika hasilnya baik maka dilanjut, namun jika tidak maka menjadi tugas saya untuk melakukan perbaikan untuknya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun