Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kemah Zaman Old dan Zaman Now

17 Januari 2020   09:17 Diperbarui: 17 Januari 2020   09:34 232 18 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kemah Zaman Old dan Zaman Now
Ilustrasi kemah pada kepanduan HW. Gambar: suarahammadiyah.id

Kemarin sore salah satu teman mengirimkan pesan lewat whats app. Dia menanyakan bagaimana pendapat saya tentang alat yang harus disiapkan untuk kemah sehari anaknya. Dia bingung mau menyiapkan kayu bakar atau kompor portable. 

Diceritakannya pada kemah beberapa saat yang lalu, segala yang dipersiapkan untuk keperluan kemah, berakhir dengan sia-sia. Banyak yang dibuang, mubadzir.  Untuk keperluan makan, para orangtua malah merasa tidak tega. Dimanfaatkanlah gosend untuk makannya. 

Saya agak geli juga membaca pesan teman saya. Orangtua zaman now. Begitu sayangnya pada anak, sampai begitu rempongnya menyiapkan keperluan untuk kemah sang buah hati. Tapi kerepotannya saya anggap tidak sebanding dengan hasilnya.

Saya pribadi mengemukakan bahwa kemah, terutama dalam kegiatan Pramuka atau Hizbul Wathan, bukanlah untuk hura-hura. Ada tujuan khusus dari kemah dalam kegiatan kepramukaan. 

Berbeda dengan kemah secara umum, yang menekankan pada kegiatan refreshing, sengaja dilakukan dan biasa dilaksanakan di alam terbuka entah menggunakan tenda, dan sebagainya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemah (kata benda) adalah tempat tinggal darurat, biasanya berupa tenda yang ujungnya hampir menyentuh tanah dibuat dari kain terpal dan sebagainya. perkemahan (kata benda) 1 hal berkemah; 2 himpunan kemah (pramuka, pasukan, dsb); tempat berkemah.

Pengalaman Berkemah masa Sekolah

Kemah yang saya alami, adalah saat SMP dan SMA. Dilaksanakan di sekitar Wanagama dan Ngalang, Nglipar. Saat kemah, pastinya banyak pengalaman yang kami dapatkan.

Memasak sendiri dengan kayu bakar atau kompor minyak. Matang sih masakannya, tetapi untuk urusan rasa, jelas tak seenak masakan ibu di rumah. Masakan sangit sudah biasa dan bisa tertelan juga. 

Ada lagi pengalaman kondisi tenda basah. Maklumlah tenda zaman dulu belumlah seperti saat ini. Kondisi dingin, masakan tak enak, pakaian basah, itu sudah biasa.

Kami jadi tahu perjuangan ibu dalam menyiapkan masakan. Tentu juga berlatih diri untuk lebih menghargai masakan ibu, apapun itu. Manfaat lain juga kami rasakan, seperti melatih kekompakan dan kerjasama antar anggota kelompok atau regu dalam mengerjakan tugas dari pembina pramuka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x