Jonny Hutahaean
Jonny Hutahaean wiraswasta

Sarjana Strata 1, hobby membaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Rumah Bersama atau Kandang Bersama?

14 Juni 2018   12:45 Diperbarui: 14 Juni 2018   12:55 346 0 0

Penghuni rumah adalah manusia, penghuni kandang adalah binatang. Frase ini tidak betul seratus persen sebab ada juga rumah semut yang tentu saja dihuni oleh semut, dan semut itu adalah binatang hewan.

Buat manusia, dan juga barangkali buat semut, rumah itu multi  makna.Tidak sekedar tempat merebahkan diri saat penat atau sekedar berlindung dari terik yang membakar dan dari dingin yang membekukan, tetapi rumah adalah wujud eksistensi diri, pabrik ketenangan dan kebahagiaan. Go home adalah salah satu cara melepaskan diri dari tekanan yang menyesakkan.

Sementara kandang identik dengan kurungan, pembatas yang menghimpit kebebasan.

Rumah terbagi menjadi bagian-bagian yang mengusung fungsi masing-masing. Dapur tempat memasak dan makan, ruang tamu tempat bercengkerama dan menerima tamu, ruang tidur untuk beristirahat merebahkan diri dan meraih mimpi, dan ruang kecil untuk melepas sisi paling manusiawi dari manusia, buang hajat.

Bahkan meski itu rumah paling sederhana berwujud seperti satu kotak saja, sekat-sekat imajiner tetap ada untuk membatasi fungsi ruang. Orang tidak akan kencing di dekat tempat tidur, dan pasti ada tempat tersendiri untuk mencuci piring dan membakar ikan asin. 

Singkatnya, di rumah bersama itu, harus ada aturan yang membatasi fungsi ruang, bahkan meskipun itu sekedar batas-batas imajiner. Semua penghuni harus patuh, dan mengimplementasikan kesepakatan imajiner tersebut. Jika tidak seperti itu, rumah menjadi kandang.

Kalau kandang, perhatikan kandang sapi, tidak ada pembatas fungsi ruang. Sapi biasa kencing di mana dia tidur, atau tidur di mana dia berak. Kandang itu hanya satu ruang yang fungsinya untuk segala hal yang biasa dilakukan hewan. Makan, berak, kencing, dan bersanggama, di ruang yang sama.

Sekarang mari melihat ruang yang lebih besar, propinsi misalnya, DKI khususnya. Hendak dijadikan rumah bersama atau kandang bersama?. Jika hendak dijadikan rumah bersama, sebaiknya dipahami dan lalu disepakati, sesuai definisi rumah, bahwa terdapat sekat-sekat, sekat yang riil (sesuai UU) atau sekat yang imajiner (kebiasaan kultural), yang membatasi fungsi-fungsi ruang. Misalnya, fungsi dari jalan raya adalah sebagai perlintasan moda transportasi, fungsi trotoar adalah perlintasan untuk pejalan kaki, fungsi taman adalah untuk meningkatkan nilai keindahan dan estetika suatu wilayah. 

Fungsi sungai adalah sebagai induk drainase, atau salah satu moda transportasi, kalau di negeri beradab bahkan sungai menjadi objek wisata yang menarik banyak wisatawan.

Tetapi jika hendak menjadi kandang bersama, lupakan semua sekat, sekat yang riil atau sekat imajiner. Buanglah sampah kemana anda suka termasuk ke sungai, berjualanlah di mana anda suka, tutuplah trotoar untuk pesta dangdutan, sepeda motor anda tidak masalah jika melompat ke trotoar, seberangilah jalan raya di mana anda suka menyeberang, terobos saja lampu lalu lintas yang menyala merah, dan lalu berhentilah di tengah jalan raya, silahkan menggelar keramaian di atas rumput taman. 

Dirikan saja rumahmu di tepi sungai dengan jambanmu di atas sungai, toh ini hanya kandang, dan di semua kandang tidak ada batas fungsi ruang. Satu-satunya aturan di dalam kandang adalah bahwa tidak ada aturan.