Mohon tunggu...
Joni MN
Joni MN Mohon Tunggu... Akademisi

Pengkaji dan Peneliti

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sopan dan Santun dalam Budaya Gayo

30 Mei 2020   23:42 Diperbarui: 31 Mei 2020   04:38 28 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sopan dan Santun dalam Budaya Gayo
kumparan

Setiap masyarakat yang ada di seluruh penjuru dunia memiliki bahasa yang dipakai untuk alat berkomunikasi, memberi informasi, bertukar informasi, meyampaikan ide dan pikiran dan lain-lain, dalam mencapai tujuan tertentu di saat menjalani aktivitas sosial mereka.

Setiap bahasa yang hidup, yang digunakan oleh masyarakat penggunanya terikat erat dengan kebudayaannya (Edi Subroto. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik", 2011: 36), selanjutnya, Edi Subroto pada buku dan halaman yang sama, menyatakan bahwa; "Bahkan ada pandangan bahwa setiap Bahasa itu dianggap sempurna manakala mampu secara efektif membahasakan keperluan budayanya".

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, bahasa memiliki fungsi utama untuk membantu pelaksanaan aktivitas sosial dan memungkinkan manusia untuk menyatu dengan budaya dan kelompok serta institusi sosial dimana mereka berada (Gee, 1999: 1).

Dengan adanya bahasa, manusia dapat menjalankan aktivitasnya dalam rangka berkehidupan sosial yang antara lain digunakan untuk menasehati, menyampaikan ide, isi pikiran, mengundang, penyampai ekspresi rasa (senang, sedih, marah), penolakan, memberi informasi dan untuk saling bertukar informasi, semua itu ada pada aktivitas sosial.

  • Namun hal ini sering dilupakan oleh penutur atau pengguna bahasa yaitu ketika menggunakan bahasa di dalam berkomunikasi jarang melibatkan kehidupan sosial yang sebenarnya. George Yule (2006:102) dalam bukunya yang berjudul Pagmatik, menyatakan bahwa; Interaksi linguistik pada dasarnya memerlukan interaksi sosial.  Dari pernyataan itu dapat ditarik benang merah yang mana bahasa dapat mengungkap realitas budaya, membentuk realitas sosial, dan bahasa dapat melambangkan realitas sosial.
  • Budaya di dalam hal ini adalah sebagai padanan bahasa yang saling melengkapi dan tidak terpisahkan seperti satu nilai mata uang pada satu koin yang berbeda sisi. Kedekatan hubungan antara bahasa dan budaya seperti yang dinyatakan oleh Whorf (hepotesis Sapir-Whorf) di dalam buku Asim Gunarwan (2007) yang berjudul Pragmatik Teori dan Kajian Nusantara menyebutnya dengan kesemestaan budaya dan pandangan Whorf. Kemudian Asim Gunarwan dalam itu (2007:129-130) menyatakan, bahwa, pandangan tersebut mempostulatkan adanya unsur-unsur universal yang berkembang di dalam suatu budaya. Salah satu unsur itu, yang terpenting, adalah bahasa (.dalam Asim Gunarwan Pragmatik Teori dan Kajian Nusantara2007: 129-130). Di dalam hal ini hubungan di antara budaya dan bahasa itu sangat dekat dan budaya dapat menentukan cara bertutur si pengguna bahasa tersebut.  

Oleh karena itu, pengakajian pragmatik untuk mengenali dan memahami nilai-nilai budaya sangat dibutuhkan guna menjaga keharmonisasian dan kesuksesan jalannya komunikasi, kemudian, hal itu memiliki peranan dalam mempersiapkan penutur yang beretika pada lingkungan masing-masing untuk dapat mempertahankan identitas kebangsaan Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya.

Salah satu dari ragam norma adat suku dan budaya Gayo dan suku Gayo yang berada di Dataran Tinggi Gayo (DTG) adalah "sumang".

Dengan demikian, sangat cocok bila adat Gayo yang bersendikan sumang diterapkan pada lingkungan pendidikan atau sebagai bahan pengajaran. Karena, penuh dengan kandungan ajaran moral di dalamnya.

Sebagai bangsa yang religius, bangsa Indonesia percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam realisasinya, ditunjukkan dengan memeluk agama tertentu dan diakui secara sah oleh pemerintah. Oleh karena itu, harus dikembangkan sikap saling menghormati dan berkerjasama antar pemeluk agama yang berbeda. Alhasil, berkembang sikap toleransi.

Disadari bahwa kondisi pendidikan di Aceh Tengah sangat memprihatinkan baik di lingkungan tradisi maupun dalam pola pembinaannya. Semoga hal ini bermanfaat bagi orang banyak.

VIDEO PILIHAN