Mohon tunggu...
吳明源 (Jonathan Calvin)
吳明源 (Jonathan Calvin) Mohon Tunggu... Pencerita berdasar fakta

Cerita berdasar fakta dan fenomena yang masih hangat diperbincangkan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Xenofobia yang Tak Lekang oleh Waktu

14 Maret 2020   01:00 Diperbarui: 17 Maret 2020   16:31 123 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Xenofobia yang Tak Lekang oleh Waktu
Mahasiswa Singapura beretnis Tionghoa Korban xenofobia di London (bbc.com)

Kiri dikira komunis
Kanan dicap kapitalis
Keras dikatai fasis
Tengah dinilai tak ideologis

Muka klimis katanya necis
Jenggotan dikatai teroris
Bersurban dibilang kearab-araban
Bercelana Levi's di-bully kebarat-baratan

Makin hari makin susah saja
Menjadi manusia yang manusia
Sepertinya menjadi manusia
Adalah masalah buat manusia

Begitulah beberapa penggalan lirik dari lagu Irsan Skuter berjudul Bingung yang menurut saya dapat memberikan gambaran mengenai kondisi dunia saat ini. Di tengah merebaknya virus Corona, beberapa negara melemparkan stigma buruk terhadap negara asal virus, China. 

Fenomena pemberian stigma tersebut acapkali didasari oleh xenofobia. Tidak hanya dalam kasus virus Corona, pengaruh xenofobia yang dibenturkan dengan sentimen terhadap agama tertentu juga mendasari peristiwa penolakan pembangunan Gereja Santo Joseph di Karimun, Perusakan Musala di Minahasa Utara, hingga yang terbaru, peristiwa kerusuhan yang berujung pembantaian di Delhi


Kasus Xenofobia Pertama Indonesia

Salah satu peristiwa pembantaian etnis tertua di Indonesia adalah Peristiwa Geger Pacinan atau bisa disebut Tragedi Angke atau juga bisa disebut Perang Sepanjang yang berlangsung dari tahun 1740 hingga 1743. 

Perang tersebut diawali dengan kebijakan Gubernur VOC, Adriaan Valckenier memberlakukan kebijakan keras untuk mengurangi populasi etnis Tionghoa di Batavia yang saat itu dianggap sudah terlalu banyak. 

Adriaan Valckenier mengharuskan masyarakat Tionghoa memiliki izin menetap atau permissie brief dengan ketentuan setiap orang Tionghoa harus membayar dua ringgit. 

Peraturan ini banyak digunakan sebagai alat pemerasan pada masyarakat Tionghoa dengan menangkap mereka yang tidak membayar izin menetap. 

Menurut Daradjadi pada bukunya “Geger Pacinan, Persekutuan Tionghoa Jawa Melawan VOC” Setelah ditangkap dan para warga Tionghoa membayar, mereka kemudian dilepas namun tidak lama kemudian ditangkap kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x