Yohanes Pambudi
Yohanes Pambudi Channel Officer BUMN BANK - owner komentarku.com

www.komentarku.com | Former Key Account Executive | Former Cluster Sales Manager | Channel Officer @ BUMN BANK |

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Kasus Garuda Indonesia dan Pentingnya Manajemen Risiko

14 April 2018   11:00 Diperbarui: 16 April 2018   12:17 2085 3 0
Kasus Garuda Indonesia dan Pentingnya Manajemen Risiko
Pesawat terparkir di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (15/3/2018).(KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN)

Kasus yang belakangan menjadi viral, yaitu gugatan seorang penumpang kepada maskapai Garuda Indonesia layak untuk kita pelajari dan ambil hikmahnya. Gugatan yang dilayangkan jumlahnya tidak main-main, B.R.A Kosmariam Djatikusomo menggugat PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) sebesar Rp 11,25 miliar (sumber).

Kalau saja gugatan ini dimenangkan oleh Kosmariam, tentu saja ini akan semakin memberatkan keuangan Garuda Indonesia. Apalagi belakangan kita ketahui bahwa tahun lalu Garuda Indonesia belum berhasil mencetak laba. Pada tahun 2017, Garuda menderita kerugian bersih sebesar 213,4 juta dollar AS. Angka tersebut menurun dibandingkan laba bersih yang dileroleh Garuda pada tahun 2016 sebesar 9,36 juta dollar AS (sumber).

Risiko operasional
Kasus di atas adalah bagian dari risiko operasional. Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal.

Risiko ini diakibatkan oleh tidak adanya atau tidak berfungsinya prosedur kerja, kesalahan manusia, kegagalan sistem dan/adanya kejadian-kejadian eksternal yang memengaruhi operasional perusahaan.

Berikut adalah keterangan dari kuasa hukum penggugat:

"Kami menilai pramugari Garuda lalai, karena para pramugari yang menyediakan makanan sedang ngobrol satu sama lain, sehingga menumpahkan air panas," katanya.

Berdasarkan keterangan tadi jelas, bahwa kejadian risiko operasional ini disebabkan oleh faktor kesalahan manusia.

Apakah ada kesalahan dalam melaksanakan prosedur kerja? Tentunya kita harus bertanya pada Garuda Indonesia.

Apakah "ngobrol" pada saat menyajikan makanan dan minuman kepada penumpang itu sudah diatur dalam SOP layanan mereka? Apabila sudah diatur, apakah diperbolehkan?

Jika tidak diperbolehkan, maka jelas bahwa ini adalah risiko operational yang juga disebabkan oleh tidak berfungsinya prosedur kerja.

Risiko pasar

Saham Garuda - dokumentasi pribadi
Saham Garuda - dokumentasi pribadi
Adalah risiko perubahan harga pasar pada posisi portofolio (saham di IHSG) dan rekening administratif, termasuk di dalamnya transaksi derivatif.

Dari pantauan saya pribadi pada tanggal 5 Maret 2018 setidaknya harga saham Garuda Indonesia (GIAA) di lantai bursa saham sempat menyentuh Rp 320 per lembar saham.

Namun karena ramainya pemberitaan kasus ini di media, harga saham GIAA pada penutupan kemarin hari Jumat tanggal 13 Maret 2018 hanya 296, atau turun sekitar 7,5%. Bukan angka penurunan yang kecil bila dilihat dari sudut pandang investor saham.

Kita harus memahami betul bahwa sepanjang perusahaan masih memiliki produk dan jasa, maka perusahaan tersebut selalu akan berada dalam bayang-bayang risiko operasional. Lebih gawatnya lagi, dari satu risiko bisa menimbulkan risiko yang lainnya.

Lantas bagaimana cara meminimalisasi risiko?
Tidak ada jawaban tunggal untuk menjawab pertanyaan di atas. Setidaknya beberapa langkah berikut dapat dilakukan untuk meminimalisasi risiko operasional.

  • Pastikan seluruh pegawai mengerti dan memahami profil risiko mereka. Ajarkan kepada mereka untuk dapat meminimalisasi kejadian maupun dampaknya.
  • Pastikan seluruh pegawai memiliki kemampuan dan ketrampilan bekerja yang memadai.
  • Pastikan seluruh pegawai menjalankan SOP dengan benar, dan lakukan evaluasi kedisiplinan pegawai dalam menjalan SOP secara konsisten.
  • Lakukan identifikasi dan penilaian risiko yang dihadapi perusahaan.
  • Lakukan pemantauan risiko tersebut secara berkala.
  • Lakukan pengendalian dan mitigasi resiko berdasarkan frekuensi kejadian dan dampaknya
  • Lakukan evaluasi secara berkala untuk setiap risiko yang dihadapi oleh perusahaan dan upayakan perbaikkan dari waktu ke waktu.
  • Alihkan risiko kepada pihak ketiga (asuransi misalnya) untuk risiko-risiko yang kejadiannya jarang, namun dampaknya besar.

Dengan demikian, seharusnya risiko-risiko yang dihadapi perusahaan dapat ditekan. Sehingga target pencapaian kinerja perusahaan tidak terganggu oleh berbagai macam risiko kejadian yang merugikan perusahaan.

Semoga bermanfaat.