Yo Sugianto
Yo Sugianto Penulis

Menulis puisi, ngerokok dan ngopi

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Jangan Buat Elang Jawa Terbang Semusim Saja di Liga 1 2019

7 Desember 2018   13:11 Diperbarui: 8 Desember 2018   11:46 864 6 1
Jangan Buat Elang Jawa Terbang Semusim Saja di Liga 1 2019
Para pemain, ofisial, pelatih, dan manajemen PSS Sleman saat berfoto bersama merayakan lolos Liga 1.(Wijaya Kusuma/Kompas.com)

Euforia PSS Sleman masih terasa atas keberhasilannya mengepakkan sayapnya ke Liga 1 2019. Pencapaian yang wajar untuk dirayakan. Itu merupakan impian sejak 2007, saat mereka terakhir kali berkiprah di kasta tertinggi yang masih bernama Divisi Utama.

Menapakkan kaki ke Liga 1 2019 yang belum pasti kapan bergulirnya, PSS Sleman sudah harus berbenah diri. Tak lagi hanya bermodalkan manajemen yang (kira-kira sudah) professional seperti saat ini, tapi juga persiapan modal, pemain dan pelatih yang diharapkan mampu mengarungi kerasnya persaingan di Liga 1.

Beberapa hal yang perlu disiapkan oleh PSS Sleman untuk dapat bertahan nantinya di Liga 1 2019, tak sekedar numpang lewat dan menanti lagi untuk dapat kembali ke kasta tertinggi itu.

1.Stabilitas Tim

Mengarungi Liga 1 jelas berbeda jauh dengan saat di Liga 2. Atmosfir persaingan lebih berat dan keras. Stabilitas tim menjadi harus menjadi fokus utama PSS Sleman dengan tidak melakukan perombakan total pemain yang sudah ada.

Kita bisa bercermin pada langkah Persebaya Surabaya ketika berhasil promosi ke Liga 1. Mereka terlihat bergerak cepat melakukan langkah persiapan menyongsong kompetisi dibandingkan dua tim promosi lainnya. 

Sejumlah pemain yang menjadi pilar utama selama berjuang di Liga 2 dipertahankan.

Figur sentral PSS Sleman seperti Cristian Gonzales, Aditya Putra Dewa, Rifal Astori, Rangga Muslim, Ega Rizky, Bagus Nirwanto, Gufron, Ikhwan, Aditya Putra Dewa layak mendapatkan perpanjangan kontrak.

Gonzales di usianya yang sudah 42 tahun tampil menggila meski baru bermain di paruh kedua musim 2018 ini. Ia mencetak 15 gol, jadi top skor di PSS Sleman. 

Foto : pss-sleman.co.id
Foto : pss-sleman.co.id
Dua golnya di jala Kalteng Putra menjadi penentu langkah sang Elang Jawa menjadi tim promosi di Liga 1. Satu golnya di final makin mentahbiskan dirinya sebagai predator ganas.

Selain ketajamannya, Gonzales juga memberikan bukti ketangguhan fisiknya untuk mampu bermain penuh 90 menit. Penempatan posisi, insting dan passing-nya masih tajam.

Jika kemampuan fisik Gonzales diragukan, termasuk oleh pelatih PSS sendiri, Seto Nurdiantoro, tentu tim ini bisa mengecek kembali kebugaran bintangnya itu. Tipikal penyerang seperti pemain naturalisasi pertama itu tak butuh banyak gerak, ia lebih banyak menggunakan otak dan instingnya.

Sesaat setelah mengantarkan PSS Sleman promosi ke Liga 1, dalam obrolan di sebuah kafe, saya bertanya kiatnya menjaga konsistensi penampilan di usianya saat ini, Gonzales dengan santai mengatakan :

"Saya tidak mungkin mengandalkan kecepatan dalam usia saat ini. Saya banyak menggunakan otak dan insting saat bermain. Penempatan posisi dan kemampuan membaca arah permainan sangat membantu menjaga ketajaman. Bermain cerdik bisa menghemat tenaga, bisa lebih fokus untuk menjalankan tugas utama sebagai striker, yakni mencetak gol."

Satu lagi pentingnya Gonzales bagi PSS adalah perannya sebagai panutan pemain muda, serta pengalaman lima belas tahun berkiprah di Liga 1 akan jadi asset berharga.

Dari beberapa laga yang kadang diwarnai benturan keras sehingga pemain PSS atau lawannya harus menerima kartu kuning, terlihat Gonzales menenangkan sang pemain. Kharisma pemain yang pernah jadi maskot timnas ini menjadi kelebihan tersendiri yang menguntungkan Elang Jawa.

Ia juga jadi kesayangan suporter, terbukti jelas saat koreo istimewa dan apik ditunjukkan di babak kedua final Liga 2 menghadapi Semen Padang di Stadion Pakansari, Cibinong lalu. Perpaduan warna hijau dan putih membentang di seluruh sisi tribune barat penonton. 

Kemudian, dibentangkan spanduk raksasa di bagian tengah koreo tersebut. Gambarnya adalah Gonzales yang mengenakan kacamata hitam, dengan balutan pakaian seperti seorang raja.

2. Pelatih 

Dalam Liga 1 2018 terlihat banyak klub menggunakan jasa pelatih asing. Hanya enam klub yang menggunakan arsitek lokal.

Keputusan itu wajar saja, meski memang tidak jadi jaminan dapat menghadirkan prestasi yang diharapkan. Persebaya yang setengah musim menggunakan jasa Angel Alfredo Vera akhirnya berpaling ke pelatih lokal yang sarat pengalaman, Djajang Nurjaman. Sedangkan PSMS Medan yang ditinggalkan oleh Djajang dilatih oleh Peter Butler.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2