Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi Pilihan

Fisika untuk Hiburan 20 (Cahaya): Siluet, Potret, dan Fotografi

30 Juli 2021   18:37 Diperbarui: 30 Juli 2021   19:43 69 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fisika untuk Hiburan 20 (Cahaya): Siluet, Potret, dan Fotografi
Potret Josephine de Beauharnais. Sumber: https://azmartinique.com/sites/azmartinique.com/files/personnages-celebres/Josephine-de-beauharnais.jpg

Josephine Bonaparte, lahir Marie Josphe Rose Tascher de La Pagerie (23 Juni 1763-29 Mei 1814) adalah Permaisuri Prancis, istri pertama Kaisar Napoleon I. Josephine dikenal luas sebagai Josephine de Beauharnais.

Kita kembali ke topik Cahaya dalam Fisika untuk Hiburan, yang kali ini membahas judul terkait fotografi.

Saat ini kita dengan mudah membuat foto beresolusi tinggi bahkan hanya dengan menggunakan HP. Perelman, dalam bukunya Physics for Entertainment, Jilid 1, membahas tentang perkembangan fotografi mulai dari siluet, potret, hingga fotografi yang masih menggunakan film negatif.

Melongok kembali ke masa lalu membawa kita menyaksikan bagaimana penangkapan bayangan dilakukan sebelum dan sesudah abad ke-18, yang semuanya sampai sekarang bertujuan untuk mengkomemorasi kenangan-kenangan indah, yang karena sulit dilakukan pada zaman dahulu, membuat penangkapan bayangan yang penuh upaya dan kesabaran itu menjadi sebuah karya bahkan mahakarya seni yang sangat indah.

Siluet: Bayangan yang Terperangkap
Orang zaman dulu menemukan beberapa kegunaan dari bayangan, namun mereka tidak bisa menangkapnya sebelum mereka mengetahui tentang pembuatan siluet (Silhouette) atau citra bayangan itu.

Setelah fotografi ditemukan, orang pergi ke fotografer jika ingin membuat foto mereka atau foto teman dan kerabat mereka, namun pada abad ke-18 tidak ada fotografer. Para pelukis potret mematok harga yang mahal untuk karya mereka dan hanya orang kaya yang mampu membelinya.

Itulah yang menjadikan siluet tersebar luas, karena siluet mirip foto kilat (snapshot). Siluet sebenarnya adalah bayangan yang terperangkap, yang diperoleh secara mekanis dengan menggambarkan sebuah paralel tertentu antara bayangan dan foto di depannya, sedangkan fotografer menggambar pada cahaya ("photo" adalah bahasa Yunani untuk cahaya) untuk membuat gambar. Siluet menggunakan bayangan untuk tujuan yang sama dengan fotografi.

Cara lama membuat potret bayangan. Sumber: buku Physics for Entertainment, Book 1, hlm. 127.
Cara lama membuat potret bayangan. Sumber: buku Physics for Entertainment, Book 1, hlm. 127.

Gambar di atas menunjukkan bagaimana siluet dibuat. Orang yang duduk memutar kepalanya untuk mencetak sebuah profil karakteristik dan profil ini dijiplak dengan sebuah pensil. Kemudian bagian dalam guratan itu dihitamkan, dipotong, dan direkatkan ke latar putih. Inilah siluetnya.

Kiri: Cara memperkecil siluet. Kanan: Siluet dari Schiller (1790). Sumber: buku Physics for Entertainment, Book 1, hlm. 127.
Kiri: Cara memperkecil siluet. Kanan: Siluet dari Schiller (1790). Sumber: buku Physics for Entertainment, Book 1, hlm. 127.

Kapanpun diperlukan, siluet diperkecil dengan alat khusus yang disebut pantograf (lihat gambar di atas).

Catatan:
1. Saat ini pantograf masih digunakan untuk memperbesar atau memperkecil sebuah peta atau gambar. Dengan menggunakan alat ini, orang bisa mengubah ukuran peta sesuai dengan yang diinginkan.
2. Johann Christoph Friedrich (von) Schiller (10 November 1759-9 Mei 1805) adalah seorang dramawan, penyair, dan filsuf Jerman. Selama 17 tahun terakhir hidupnya (1788--1805), Schiller mengembangkan persahabatan yang produktif, dengan Johann Wolfgang von Goethe yang sudah terkenal dan berpengaruh. Mereka sering membahas masalah estetika, dan Schiller mendorong Goethe untuk menyelesaikan karya yang ditinggalkannya sebagai sketsa. Hubungan dan diskusi ini mengarah pada periode yang sekarang disebut sebagai Klasisisme Weimar. Mereka juga bekerja sama dalam  Xenien, kumpulan puisi satir pendek di mana baik Schiller dan Goethe menantang lawan dari visi filosofis mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN