Jimmy Haryanto
Jimmy Haryanto penulis bebas

Pecinta Kompasiana. Berupaya menjadi pembelajar yang baik, karena sering sedih mengingat orang tua dulu dibohongi dan ditindas bangsa lain, bukan setahun, bukan sepuluh tahun...ah entah berapa lama...sungguh lama dan menyakitikan….namun sering merasa malu karena belum bisa berbuat yang berarti untuk bangsa dan negara. Walau negara sedang dilanda wabah korupsi, masih senang sebagai warga. Cita-cita: agar Indonesia bisa kuat dan bebas korupsi; seluruh rakyatnya sejahtera, cerdas, sehat, serta bebas dari kemiskinan dan kekerasan. Prinsip tentang kekayaan: bukan berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak yang sudah kita berikan kepada orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Film

Amankah Menonton Film Ahok?

9 November 2018   16:51 Diperbarui: 9 November 2018   16:52 182 0 0

 

Sebelum kita bahas lebih lanjut kita berikan dulu kunci jawabannya agar tidak buang-buang waktu: AMAN dan PERLU!

 

Angin Kamis sore membawa aku meluncur ke Grand Indonesia setelah meliuk-liuk melewati kemacetan kota Jakarta. Begitu tiba di lantai delapan, aku tiba di tempat pembelian karcis (counter) Grand Indonesia. Kulihat telepon genggamku sudah menunjukkan pukul 18.00. Tertera di papan pengumuman Film A Man Called Ahok pukul 18.10. Namun antriannya cukup panjang. Saya hanya datang untuk neonton film itu karena ada di wa saya informasi tentang film itu.

 

Sebelum masuk, di benak saya kisah Ahok yang marah-marah sebagai gubernur DKI akan bisa disaksikan kembali.

 

Setelah membayar Rp 50.000 saya langsung masuk dan diminta duduk di bangku D.5. Karena hanya itu bangku yang kosong. Ketika saya masuk, seorang ibu membantu dengan bertanya "D ya?" "Ya Bu" jawabku dengan ramah. Lalu saya mencari tempat duduk yang ada di karcis, ternyata bersebalahan dengan seorang wanita yang kelihatannya tidak suka dengan kehadiranku di sebelahnya.

 

Namun saya tidak terlalu peduli karena saya tidak melakukan kesalahan. Setelah menyaksikan filmnya sedikit, saya bertanya "filmnya sudah mulai ya?" ternyata dijawab "Sudah."

 

Maka saya mulai mengikuti film itu. Kelihatannya belum terlalu jauh, namun adegan itu menunjukkan pendirian ayah Ahok yang sangat manusiawi dan mengutamakan menolong orang dari pada mencari keuntungan atau kepentingan dirinya sendiri.  

 

Kemudian muncul adegan di mana seorang pasangan yang meminta bantuan uang kepada ayah Ahok (Kim Nam) karena anak mereka mau melahirkan. Namun ayah Ahok tidak mampu memberikan uang. Ahok rupanya melihat dari kejauhan.Di bagian berikut film itu terkuak bahwa Ahok tanpa sepengetahuan orang tuanya tergerak untuk membantu keluarga itu. Maka tabungan Ahok dipecahkan namun tidak cukup. Akhirnya tabungan adiknya juga dipecahkan dan dikumpulkan untuk membantu. Setelah terkumpul Ahok memberi uang itu kepada keluarga itu.

 

Suatu saat keluarga itu memberikan sesuatu kepada ayah dan ibu Ahok sebagai ungkapan terima kasih karena di masa lalu telah membantu anaknya melahirkan lewat Ahok. Ayah Ahok yang heran mendengar pernyataan itu kemudian menanyi Ahok dan dengan rasa bersalah dan takut Ahok menjelaskannya. Ayah Ahok kagum namun tidak ditunjukkan kepada Ahok.

 

Berkali-kali saya tak kuasa menahan air mata. Mungkin wanita yang mengapit saya di bioskop itu meganggap saya sedikit cengeng. Tapi setiap melihat sikap Ahok kecil, remaja, dan dewasa menunjukkan sikap yang tidak lazim membuat air keluar dari mata yang sudah lelah bekerja sejak pagi.

 

Ahok akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD namun dia tidak bisa berbuata banyak karena mayoritas anggota DPRD hanya mengikuti kebiasaan yang sudah lazim. Kemudian Ahok mencalonkan diri menjadi bupati. Dan filmpun berkahir di situ.

 

Tidak ada adegan ketika dia mencalonkan diri jadi gubernur Bangka Belitung. Tidak ada juga adegan ketika Ahok terpilih menjadi anggota DPR RI. Tidak ada juga adegan ketika dia menjadi wakil gubernur DKI atau Gubernur DKI. Dengan demikian sangat aman untuk menonton film ini.