Mohon tunggu...
Jihan Rahmasari
Jihan Rahmasari Mohon Tunggu... Writer

SEO

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengenal Hari Buku Nasional Tanpa Book Shaming

17 Mei 2021   15:22 Diperbarui: 17 Mei 2021   18:55 78 2 0 Mohon Tunggu...

Mulai dari 2002, tanggal 17 Mei di setiap tahunnya diperingati sebagai Harbuknas alias Hari Buku Nasional.  Bapak Menteri Pendidkan pada saat itu, Abdul Malik Fadjar mengemukakan rencananya untuk menjadikan hari ulang tahun Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) sebagai Hari Buku Nasional.

Apa Itu Hari Buku Nasional?

Hari Buku Nasional adalah perayaan yang dilakukan setiap tahunnya untuk mendorong tumbuhnya budaya literasi terutama pada minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat Indonesia. Bukan tanpa sebab, budaya literasi di Indonesia masih rendah. Bahkan, berdasarkan hasil laporan survei dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019, Indonesia berada di posisi ke-62 dari 70 negara mengenai masalah tingkat literasi.

Anggapan membaca buku menimbulkan kantuk masih saja terdengar hingga saat ini. Meskipun dunia semakin maju dengan teknologinya, hal itu belum membuktikan bahwa tingkat literasi turut berkembang. Masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf hingga termakan judul berita click bait. Di sinilah, peran kita sebagai pencinta buku perlu disalurkan.

Biasanya, jika kita jatuh cinta dengan satu judul buku atau penulis tertentu, muncul keinginan untuk memperkenalkan buku tersebut kepada teman atau bahkan keluarga. Merekomendasikan buku bacaan tentu memiliki nilai tersendiri bagi para pencinta buku. Sesuai dengan arti dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merekomendasi adalah saran yang menganjurkan. Sesorang yang meminta atau memberikan rekomendasi hanya akan menerima dua tanggapan, diterima atau ditolak. Tak jarang, beberapa di antara kalian mungkin secara tidak sadar merekomendasikan satu karya dengan merendahkan karya orang lain sehingga disebut dengan istilah Book Shaming.

Rekomendasikan Buku Tanpa Book Shaming

Kamu pasti sering mendengar istilah populer "Don't judge book by it's cover", kan? Kalimat kiasan jangan menilai buku dari sampulnya mengandung makna bahwa sebagai manusia, kita tidak boleh menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya saja. 

"Ih, wajahnya penuh luka. Pasti dulunya preman".

Kita tidak akan pernah tahu secara akurat menilai seseorang hanya berdasarkan penampilan luarnya saja. Sama seperti buku, anggapan bahwa sampul buku tidak menarik adalah cerminan dari isinya itu salah besar. Kita tidak bisa menilai bagus tidaknya suatu bacaan hanya karena dari sampul yang tidak berwarna, terlalu mencolok, dan sebagainya.

Istilah book-shaming mungkin masih asing di telinga para pemula. Serupa dengan pengertian body shaming, perilaku tidak terpuji ini menitik beratkan pada tindakan ofensif mengomentari jenis buku yang dibaca sehingga membuat seseorang merasa tidak percaya diri dengan bahan bacaan atau koleksinya. Sebagai contoh, mungkin kamu masih menemukan seseorang yang usil mengomentari buku komik hanya untuk anak kecil. Kenyataannya, buku komik diperuntukkan siapapun, tidak berdasarkan jenis kelamin apalagi usia pembacanya.

Tindakan book shaming tentu saja menuai banyak dampak negatif. Menghakimi rendah seseorang yang membaca buku bertema cinta-cintaan tidak membuktikan bahwa bacaanmu paling bagus. Semua karya memiliki nilai tinggi di mata pembaca. Mengkotak-kotakan jenis buku bacaan dengan tingkat intelegensi tidak menjadikanmu sebagai sosok superior di kalangan pencinta buku. Orang-orang yang saling menghargai dan tidak mengadu domba karya satu penulis dengan penulis lainnya lah yang akan mendapat sambutan hangat di mata pencinta buku.

Jadi, dalam meningkatkan minat literasi di Indonesia, mulai sekarang kita terapkan bahwa hak kebebasan untuk memilih jenis bacaan berlaku untuk setiap orang. Di Hari Buku Nasional tahun ini, sudah berapa banyak buku yang sudah kamu baca?

VIDEO PILIHAN