JepretPotret
JepretPotret Menjepret Memotret

IF..Then...Else....END IF

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Menantikan Gol Super Subasic

2 Juli 2018   09:59 Diperbarui: 2 Juli 2018   10:00 315 0 0
Menantikan Gol Super Subasic
Danijel Subasic [Foto: AP]

Rene Higuita, Rogerio Ceni, Jose Luis Chilavert... Tiga sosok asal Amerika Latin yang tentunya telah dikenal oleh para penggila bola sejagat, sebagai kiper yang memiliki spesialisasi sebagai pembobol gawang lawan yang sangat menakutkan. Mereka seringkali mengambil alih peran striker maupun gelandang serang dalam urusan mencetak gol. 

Rene Higuita, kiper timnas Kolombia yang nyentrik, tak hanya dikenal dapat mencetak gol namun dapat beraksi melakukan penyelamatan gawangnya dari gol lawan dengan cara nyleneh. Seringkali naik membantu penyerangan, namun pernah apes kebobolan akibat terlalu jauh pergi dari area gawangnya. 

Sementara Rogerio Ceni yang merupakan simbol klub Sao Paulo asal Brasil, dikenal sebagai kiper pencetak gol terbanyak sepanjang masa. 61 gol melalui tendangan bebas dan 69 gol tendangan penalti, dilesakkan Ceni selama kurun waktu 1990 hingga 2015. 

Lalu ada kiper timnas Paraguay Jose Luis Chilavert, yang terkenal dengan aura kostum pitbullnya yang menakutkan. Total 60 gol dilesakkan Chilavert sepanjang karirnya. Namun empat dari total delapan gol Chilavert yang dipersembahkan bagi negaranya, membantu meloloskan Paraguay ke Piala Dunia 2002. Hal ini berbeda dengan Ceni, yang tak dapat dilakukannya bersama Brasil. Chilavert pula yang menjadi kiper pertama pencetak trigol (hattrick), saat membela Velez Sarsfield pada tahun 1999. 

Di daratan benua biru, banyak pula kiper yang mampu membobol gawang lawan. Bahkan terselip kisah heroik yang akan selalu dikenang sepanjang masa oleh siapapun. Sebut saja nama Pat Jennings, Hans Joerg Butt, Peter Schmeichel. Menariknya Butt dapat membobol gawang Juventus dalam pertandingan Liga Champions dengan tiga klub yang berbeda.  

Bahkan dalam musim 2003/2004 di Divisi Satu dan Liga Premier Inggris, tercatat banyak kiper yang dapat mencetak gol. Mulai dari Mart Poom (Sunderland), Brad Friedel (Blackburn Rovers), hingga Paul Robinson (Leeds United) dengan gol spektakulernya dari jarak 80 meter. 

Namun gol yang dicetak oleh Scott Barrett, Andres Palop, dan Jimmy Glass,  menyelipkan kisah heroik yang  berakhir dengan dramatis. Scott Barrett berhasil membawa Colchester meraih tiket promosi ke Football League. Dalam laga pamungkas versus Wycombe pada 1992, skor masih sama kuat hingga jelang penghujung waktu. Barrett berhasil membuat gol penentu yang berakhir dramatis tersebut.  

Kemudian kiper Sevilla Andres Palop berhasil menyarangkan bola ke gawang Shakthtar Donetsk di menit ke-94. Gol sundulan dari sepak pojok tersebut, mengantarkan Sevilla lolos ke perempat final Piala UEFA 2007. Palop juga yang menjadi pahlawan kemenangan Sevilla di Final Piala UEFA 2007, saat menggagalkan tiga penalti dari Espanyol. 

Sementara Jimmy Glass merupakan kiper Carlisle United yang dipinjam dari Swindon Town pada tahun 1999. Tercatat hanya tampil dalam tiga pertandingan dalam kompetisi Football League di Inggris. Dalam pertandingan laga pamungkas melawan Plymouth Argyle, Carlisle terancam terdegradasi dan membutuhkan kemenangan.

Kedudukan imbang 1-1 hingga Carlisle mendapatkan tendangan penjuru jelang 10 detik akhir pertandingan. Glass berhasil menyambar bola rebound kiper Plymouth, yang sempat berhasil menghalau sundulan rekan setim Glass. Carlisle selamat dari jurang degradasi, berkat kiper pinjaman di akhir masa pinjamannya. 

Lalu bagaimana dengan Piala Dunia 2018 di Rusia saat ini? Kiper Jerman Manuel Neuer, telah berupaya beberapa kali naik membantu penyerangan untuk mencetak gol saat melawan Meksiko dan Swedia.  Namun upaya terakhir berbuah malapetaka, saat melawan Korea Selatan pada pertandingan pamungkas fase Grup F. Jala Neuer harus terkoyak dua kali, hingga memaksa tim Jerman pulang lebih awal. 

Penyelamatan Danijel Subasic [Foto: AFP]
Penyelamatan Danijel Subasic [Foto: AFP]
Ternyata ada salah satu kiper yang hadir di Rusia, memiliki kemampuan mencetak gol. Oi, oi, Siapa Dia? Oh ternyata, dia adalah Danijel Subasic yang telah membela klub AS Monaco Prancis saat masih terpuruk di Ligue 2 Prancis pada Januari 2012. Gol ala Subasic terbilang spektakuler melalui tendangan bebas, yang dilakukan saat AS Monaco melawan US Boulogne dalam laga pamungkas Ligue 2 pada tahun 2012. 

Subasic mengawali karir yunior di klub lokal Zadar dari 2003 hingga 2008. Lalu dipinjamkan ke Hajduk Split selama setahun, yang seterusnya dipermanenkan hingga 2012. Kemudian Subasic terbang ke Prancis, bergabung dengan AS Monaco yang sedang terpuruk di Ligue 2. Tercatat 215 penampilan Subasic bersama Monaco hingga kini, dengan torehan 1 gol tendangan bebas.

14 Nopember 2009, Subasic menjalani debut penuh dengan kemenangan 5-0 bersama timnas Kroasia dalam pertandingan persahabatan melawan Liechtenstein. Seusai pensiunnya kiper Stipe Pletikosa dari pentas internasional pada tahun 2014, Subasic telah menjadi pilihan utama hingga saat ini. 

Dalam tiga pertandingan fase Grup D Piala Dunia 2018 ini, Subasic telah sukses  mengamankan gawang Kroasia dari banyak upaya percobaan pembobolan oleh Nigeria, Argentina dan Islandia. Jala ayah dua anak dari pasangan setianya Antonije Bozze ini, hanya dapat sekali dibobol oleh Islandia. Malah gawang lawan yang dibombardir oleh para kompatriotnya. Nigeria dilibas 2-0, Argentina dibantai 3-0, serta Islandia ditekuk 2-1. 

Kiper berusia 34 tahun asal Zadar Kroasia, baru saja  menghadapi tim Dinamit Denmark dalam pertandingan babak 16 besar (perdelapan final) di Stadion Nizhny Novgorod pada Minggu (01/072018) atau Senin dinihari WIB tadi. Ini mengingatkan kenangan indah akan gol spektakuler Davor Suker ke jala Peter Schmeichel, saat Kroasia berjumpa Denmark dalam fase Grup D Piala Eropa 1996 di Hillsborough Inggris. 

Jangan nonton bola tanpa Kacang Garuda. Lolos dari jebakan offside, Suker men-chip bola dari jarak jauh sisi kanan pertahanan Denmark. Bola terbang bagaikan burung Garuda melewati atas Schmeichel yang berusaha keluar dari kotak penalti. Schmeichel berusaha terbang sambil mengangkat tinggi tangannya, namun bola tak dapat dijangkau dan meliuk masuk ke jalanya. Gol penutup ini mengantarkan kemenangan 3-0 Kroasia. 

Menariknya putra Peter Schmeichel yakni Kasper Schmeichel, yang akan mencoba membalas kekalahan ayahnya oleh Suker cs pada 22 tahun yang lalu. Alih-alih Kroasia dapat meledakkan gawang Dinamit yang dikawal Kasper, justru jala Subasic harus meledak terlebih dahulu saat pertandingan baru berjalan kurang dari satu menit oleh Mathias Jorgensen. Untunglah tiga menit kemudian kedudukan menjadi 1-1, lewat gol yang dilesakkan oleh Mario Mandzukic. 

Penyelamatan Subasic versus Denmark [Foto: AFP]
Penyelamatan Subasic versus Denmark [Foto: AFP]
Sepertinya impian Kasper akan menjadi nyata, saat menggagalkan tendangan penalti Luca Modric pada menit ke-106. Kedudukan imbang 1-1, bertahan hingga perpanjangan waktu berakhir. Namun Kasper hanya dapat menggagalkan dua tendangan penalti Kroasia dalam drama adu penalti. Sementara Subasic sukses menggagalkan tiga tendangan Denmark. Kemenangan Kroasia ini, membawa Subasic akan menantang ketangguhan Denis Cherysev cs di babak perempat final mendatang. 

Spirit tim Kroasia dalam Piala Dunia 1998 di Prancis, akan coba diulangi kembali oleh anak asuh Zlatko Dalic di Rusia. Kroasia yang saat itu baru memisahkan diri dari Yugoslavia, secara mengejutkan dapat menjadi semifinalis Piala Dunia dan meraih posisi ketiga. Kehebatan Davor Suker, Robert Jarni, Igor Tudor, Robert Prosinecki, Zvonimir Boban, akan dinapak tilas oleh generasi saat ini seperti Dejan Lovren, Luca Modric, Ivan Perisic, Ante Rebic, Mario Mandzukic, serta tentunya Danijel Subasic. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2