Mohon tunggu...
epiaresih
epiaresih Mohon Tunggu... fresh graduate Jurnalistik UIN Alauddin Makassar

aktif sebagai reporter kampus LPM Washilah UIN Alauddin Makassar 2015-2019 anggota regional yukNgaji Makassar

Selanjutnya

Tutup

Film

Review: Banyolan Selepas Menonton "Dua Garis Biru"

4 Juni 2020   06:25 Diperbarui: 4 Juni 2020   06:40 10 2 0 Mohon Tunggu...

Menghitung detik... Rujab yang hening beberapa menit akan kembali gempita, seperti sore yang biasa, satu demi satu Reporter UKM LIMA datang dengan runyam kepala membawa keluh masing-masing, liputankah, tugas kuliah, beban revisi ataukah perkara urusan hati.

Jika sudah demikian, sendirinya tongkrongan sederhana kembali membentuk rupa, bersila diteras rumah sesekali menatap pemandangan langit yang diganggu kelemping kabel tiang listrik, dan sambil menyeruput nutrisari dingin digelas plastik, bila sedang musim akan ada kudapan mangga ditemani cocolan sambal kecap masako dan cabe rawit.

Hammock di ruang tamu yang hanya satu-satunya tiap waktu menjadi sengketa, bila ingin merebahkan badan sambil berayun malas, tipu muslihat harus dimainkan agar yang bersantai diatasnya segera enyah menyingkir, dan sigap mengganti posisi berbaring nyaman sambil tenggelam memainkan gawai.

Generasi layar sentuh dikenal dengan gelagak apatis tapi hiperaktif, contoh parsial diantaranya "derek koloni mabar," yang selalu terlena dalam pertarungan jempol PUBG, Mobile Legend yang maya, melupakan dunianya yang nyata.

Bila dalam klan hewan generasi layar sentuh sedikit merip dengan amfibi (hidup di dua dunia), layaknya sama dengan generasi yang tumbuh bersama gawai layar sentuh, di dunia sebenarnya mereka disebut rakyat, bila sedang berselancar di jagat maya mereka disebut netizen.

Sebuah quote "maha benar netizen dengan segala komentarnya" dari beberapa kasus, power netizen bukan sesuatu hal yang dianggap ecek-ecek, baru-baru ini bos Xiomi Lei Jun habis habisan dibully netizen bar-bar sebab kedapatan menggunakan Apple iPhone, karakter netizen yang tensi ketusnya tinggi, tidak peduli dengan siapa sebenarnya yang dihadapi, buas mengejek siapa saja, predisen Trum juga pernah jadi bulan-bulanan.

Pada 2019 lalu sebuah film sex education, Dua Garis Biru yang disutradarai Gina S. Noer, yang sebelumnya mendulang sukses menggarap film Ayat-ayat Cinta (2008), Hari Untuk Amanda (2010), Posesif (2017), Kulari ke Pantai (2018), dan Keluarga Cemara (2018).

Dua Garis Biru Sempat dituding tidak pantas untuk di tonton, kontroversi di awal rilis dan promosi Juli 2019. Sejumlah pihak menilai film ini melegalkan kebebasan dalam berpacaran, sentuhan improvisasi film yang awalnya di tuduh mereduksi jalan cerita film Korea Selatan Jenny and Juno (2006) terbantahakan dengan respon penonton yang positif setelah penayangan perdana.

Respon pro-kontra atas film yang disinyalir sebagai sex education ini lagi-lagi tidak luput dari komentar netizen, para psikolog anak dan pemerhati anak dan perempuan paling terdepan memberi komentar, namun kali ini penulis mereview film ini berdasarkan komentar dari klannya sendiri.

Sengaja membawa pembaca terlebih dulu sedikit mengenal klan penulis yang mendahulukan nalar skeptisme menyoal film Dua Garis Biru ini, mengingat kehamilan di luar nikah adalah masalah yang terbilang proksimal oleh penulis dan klannya sebagai muda-mudi.

Semiotika yang dibungkus dengan narasi yang kuat dan padat, menjadikan film ini begitu berkesan dibenak para penonton, dikonfirmasi oleh liputan6.com Dua Garis Biru berhasil merangkul lebih dari178 ribu penonton, terbanyak kedua sepanjang tahun 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x