Mohon tunggu...
jaucaw
jaucaw Mohon Tunggu... Lainnya - pelajar

mas-mas pada umumnya

Selanjutnya

Tutup

Diary

Saling Membantu Ya!

2 Desember 2022   12:38 Diperbarui: 2 Desember 2022   12:47 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Halo semuanya,

Belakangan ramai perbincangan tentang pencopotan label otoritas keagamaan oleh oknum keagamaan yang lain, di wilayah yang sedang dilanda kesedihan.
First at all, turut berduka cita untuk korban sabda alam yang menimpa daerah dan masyarakat tersebut. semoga yang meninggal dunia ditempatkan di rumah terbaik-Nya, yang cedera dan luka segera dilimpahkan kesehatan, serta yang mengalami kerugian, baik materi maupun imateri senantiasa diberikan jalan keluar dan membaik secepatnya.

Sangat melelahkan saat segala peristiwa harus diwarnai isu sensitifitas agama yang semakin hari tidak semakin menghilang, tapi justru semakin sensitif. Secara nilai, sebenarnya apa yang kurang dari berbagai prinsip yang kita pegang. Kitab berbagai agama dan keyakinan tentu mengajarkan untuk berbuat baik dan meminimalisir pertikaian dengan semua orang, tanpa pandang bulu. 

Pancasila dengan sila-sila ala Indonesia juga mengajarkan persatuan yang utuh, bukan cerai-berai. Namun tampaknya nilai itu masih belum terinternalisasi secara paripurna. Internalisasi nilai dan norma yang paripurna adalah pemahaman akan kompleksitas nilai yang secara simultan melahirkan tindakan.

Kembali ke konteks, setidaknya ada dua premis yang membangun komentar ini, pertama adalah penonjolan label otoritas keagamaan yang memberikan bantuan, dan agresifitas oknum agama yang cenderung berlebihan terhadap tindakan agama lain.

Saat SD dulu, guru agama dhawuh, kalau membantu/memberi itu usahakan tangan kanan yang melakukan dan tangan kiri jangan sampai tahu. Kendatipun ini sederhana, nyatanya tidak sesederhana itu untuk dipraktikkan dalam tindakan. Idealnya, membantu/memberi tidak perlu dilatarbelakangi dan ditunggangi kepentingan apapun. Ini bukan fokus hanya untuk otoritas agama tersebut, tapi seharusnya semua orang dan komunitas paham dan melakukannya. Namun disisi yang lain, kelakar eksistensi  dan relasi penyalur dengan pihak yang membantu/memberi (biasanya berbentuk bukti dokumentasi tindakan) sebagai bentuk pertanggungjawaban nampaknya menjadi pertimbangan lain yang juga perlu  dirawat.

Terlepas dari itu, kembali kepada masing-masing mau menggunakan konteks yang mana. Sebab setiap kepala punya isinya sendiri.  

Tentang agresifitas oknum agama terhadap tindakan otoritas agama lain, tentu ini bukan hal yang seharusnya ada ditengah kesedihan. Diksi agresif mungkin berkonotasi negatif, karena peristiwa ini sangat sarat akan sensitifitas yang semakin menjadi. Seolah-olah, terlihat tidak senang saat orang yang beragama lain melakukan hal baik.

Lagi-lagi ini masih berkutat tentang ketidakmampuan menerima perbedaan. Kurang apa lagi? Empat pilar bangsa ini salah satunya Bhineka Tunggal Ika yang memotivasi untuk bersatu meskipun berbeda. Doktrin agama terang benderang menuntun cara menyikapi perbedaan (Baca QS. Al-Hujurat:13). Gaung untuk berdamai dengan perbedaan berulangkali disuarakan oleh berbagai kalangan. Kurang apalagi?

Sependek paham saya tentang Islam, Nabi Muhammad dalam berdakwah dibantu oleh pamannya, Abu Thalib yang hingga wafat tidak mengimani agama Nabi Muhammad. Fine-fine saja hingga per detik ini. Sependek paham saya tentang membantu, ulama madzhab menghukumi boleh jika orang dengan agama lain membantu orang yang beragama Islam.  Disisi yang lain, orang  Islam juga harus berada di garis terdepan untuk membantu, baik pada yang beragama Islam maupun yang tidak, karena memang harus demikian wajarnya berlaku untuk semua orang.

Di sisi sosial, bukannya Gus Dur pernah bilang, tidak penting apapun agamamu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu. Disisi personal,  saya juga sepakat  dengan Sudjiwo Tedjo dan MN. Kamba dalam karya duetnya 'Tuhan Maha Asyik'. Salah satu POV nya adalah, sesungguhnya membantu orang lain itu sama saja dengan membantu dirimu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun