Mohon tunggu...
Jasmine Afridanti
Jasmine Afridanti Mohon Tunggu... -

A Communications student who loves reading books and passionate in learning new things.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Standar Kecantikan Bukanlah Tolok Ukur yang Sesungguhnya

24 Juni 2020   13:30 Diperbarui: 24 Juni 2020   18:54 50 2 0 Mohon Tunggu...

Standar kecantikan seringkali menjadi topik perbincangan dan perdebatan di tengah masyarakat. Salah satu kriteria kecantikan adalah memiliki kulit 'putih'. Hal ini membuat kebanyakan perempuan merasa insecure dan tidak percaya diri dengan fisik mereka. Terutama di Indonesia, negara multikultural dengan beragam etnis dan ras, yang di dalamnya terdapat banyak perempuan yang terlahir dengan kulit kuning langsat dan sawo matang.

Christy Raina, Beauty Content Creator dan pembuat gerakan #TeamSawoMatang, mengungkapkan keresahannya mengenai standar kecantikan Indonesia di seminar online bertajuk "Harmony in  Diversity" (19/06/2020). Seminar ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi President University dan diisi oleh pembicara-pembicara dari dalam maupun luar Indonesia. Dalam seminar ini, para pembicara menyampaikan materi mengenai keberagaman dan keadilan sosial di tengah masyarakat.

Dalam skripsinya yang berjudul "Beauty Content Creator as the Conqueror of Indonesian Beauty Standards", Christy menjelaskan tentang bagaimana terbentuknya standar kecantikan di Indonesia. "Dalam observasi untuk skripsi, saya bertanya pada banyak orang, termasuk seorang psikolog, tentang apa yang pertama kali muncul di kepala mereka saat mendengar 'standar kecantikan'. Hasil observasi saya menunjukkan bahwa 'kulit putih' berada di tingkat pertama, mengalahkan tiga kriteria fisik lainnya," ujarnya.

"Alasan saya membuat pergerakan dengan hashtag #TeamSawoMatang adalah untuk menyuarakan bahwa 'cantik' bukan hanya tentang warna kulit, tapi jauh lebih dalam daripada itu. Kita tidak harus 'putih' untuk jadi cantik. Beauty has no skin color. Kalian cantik dengan apa adanya," tambah Christy.

img-20200623-213942-jpg-5ef2f441097f361ae93513c2.jpg
img-20200623-213942-jpg-5ef2f441097f361ae93513c2.jpg
Rasa insecure membawanya untuk terus melanjutkan pergerakan #TeamSawoMatang. Sebagai Beauty Content Creator, Christy merasa memiliki kesempatan untuk menyuarakan isu ini lewat sosial media.

Selain Christy, seminar online "Harmony in Diversity" juga diisi oleh para pembicara hebat lainnya dengan sub-topik yang berbeda-beda. Leonard Cortana, anggota Berkman Klein Center Harvard University, membahas mengenai Transnational Movement, termasuk gerakan "Black Lives Matter" dan "Papuan Lives Matter".

Dari industri perfilman, Alexander Matius, programmer film di Kinosaurus, berbicara mengenai bagaimana film-film Indonesia merepresentasikan ras Papua.

M. Raudy Gathmyr, peneliti Islam dan media yang juga menjabat sebagai Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi President University, membahas mengenai media dan Islamophobia yang terjadi di Indonesia.

Keberagaman adalah salah satu hal yang patut kita jaga dan hargai, terutama sebagai masyarakat Indonesia dengan beragam suku dan budaya. Dengan diselenggarakannya seminar online "Harmony in Diversity", Program Studi Ilmu Komunikasi President University berharap bahwa kita dapat menjaga dan menghargai keberagaman yang ada di antara kita serta menjunjung tinggi keadilan sosial.

VIDEO PILIHAN