Mohon tunggu...
James Martua Purba
James Martua Purba Mohon Tunggu... Petani - Digital Cooperative and Financial Enthusiast

Berbagi pengalaman, pengetahuan dan kebaikan untuk kebersamaan. Percaya dengan gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan semua akan baik-baik saja. *Love GOD, Indonesia and Family* purbajamesnw@gmail.com, WA : 081321018197

Selanjutnya

Tutup

Financial

"Koperasi" Halak Hita, Bank Emok, Partagi: KOLABORASI dan Digitalisasi

6 Agustus 2022   00:51 Diperbarui: 2 September 2022   00:55 296 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Finansial. Sumber ilustrasi: PEXELS/Stevepb

BANK KELILING alias bangke alias rentenir di Jawa Barat, disebut "bank emok", yaitu bank berjalan  yang memberikan pinjaman mikro dengan bunga mencekik  kepada ibu-ibu rumah tangga (berkelompok). Emok sendiri dalam bahasa Sunda artinya duduk lesehan. Jadi pemberian   pinjaman dilakukan sambil  duduk lesehan. Gayanya meniru  Graemen Bank Banladesh yang nasabahnya adalah ibu-ibu.

Muhamad Yunus dengan Graemen Bank, seorang bankir dari Bangladesh mengembangkan konsep kredit mikro dengan  pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum, tentu saja bunganya tidak mencekik. Graemen mampu mensejahterakan kelompok miskin, sehingga Muhamad Yunus dengan Graemen Bank meraih  pemenang Nobel Bidang Ekonomi  pada tahun 2006.

Lalu, di lingkungan "halak hita"  di Sumut, bank keliling  dikenal istilah dengan istilah "partagi" (penagih) yang rajin mengunjungi nasabahnya melakukan penagihan door to door.  Partagi yang sebagian besar  berasal dari Sumut , di Jawa Barat mereka sering disebut sebagai pekerja di CV Punten, artinya kalau mau menagih selalu dimulai dengan kata punten. Dalam bahasa Sunda, punten  bermakna permisi dan maaf (mau nagih nih). Yang paling menggelikan tentu saja bank keliling sering mengaku  berasal dari Koperasi  atau BPR. Kita tahu bahwa bank keliling dimiliki oleh perorangan atau pemodal besar.

Halak kita memang terkenal ulet dalam berusaha dan menguasai bisnis jasa keuangan dengan baik. Mereka menyebar hampir di manapun mereka berada. Agar terlihat resmi,dan naik kelas sebagian mendirikan BPR dan "koperasi". Koperasi dalam tanda petik karena koperasi yang dibentuk  atau didirikan biasanya  dikuasasi oleh keluarga terdekat, dengan jumlah pendiri (founder) 9 orang. Banyak yang sukses dan kaya raya, hingga mampu menjadi  wakil rakyat atau kepala daerah, karena memiliki modal uang yang kuat.

Apapun itu memang masalah ekonomi, mikro maupun makro membutuhkan sebuah lembaga resmi Bank maupun Koperasi. Kedua institusi yang bergerak di jasa keuangan memang diatur ketat oleh Pemerintah melalui regulasi

MENGGUNAKAN NAMA KOPERASI

Koperasi adalah sebuah badan usaha yang beranggotakan sekumpulan orang yang kegiatannya berlandaskan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan dan gotong royong.

Nah, banyak terjadi bank emok dan partagi banyak yang mengaku berasal dari Koperasi. Koperasinya resmi berbadan hukum,  namun pendirinya berasal dari keluarga : bapak,ibu, anak, menantu, ipar yang berada pada ring-1 keluarga. Meskipun sekarang dalam pendirian Koperasi , Notaris meminta harus ada Surat Keterangan bahwa Pengurus tidak ada hubungan keluarga. Pembenarannya, "koperasi"  tadi memang didirikan secara gotong royong dan kekeluargaan (maksudnya keluarga sendiri). Model koperasi seperti ini biasanya  basisnya bukan anggota tetapi modal. Pengurusnya dari kalangan keluarga saja, yang penting modalnya besar. Anggota koperasi adalah nasabah yang mungkin tidak perlu menyimpan, tapi rajinlah meminjam.

KOLABORASI

Sekarang bukan eranya persaingan atau kompetisi. Habis energi jika selalu ingin berperang. Saatnya berkolaborasi. Menurut KBBI, kolaborasi atau persaingan  adalah : (perbuatan) kerja sama (dengan musuh dan sebagainya); Dapat disederhanakan, kolaborasi sebagai proses kerja sama dengan musuh (pesaing) untuk melaksanakan gagasan atau ide serta menyelesaikan masalah untuk mencapai tujuan saling menguntungkan.

Masalahnya,apakah mak emok atau partagi mau berkolaborasi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan