Mohon tunggu...
Iwan Setiawan
Iwan Setiawan Mohon Tunggu... Penulis "keluarga" yang ingin selalu produktif.

Pustakawan, dan bergiat di pendidikan nonformal.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Sepucuk Surat untuk Mamah Saodah

9 Mei 2021   17:31 Diperbarui: 9 Mei 2021   17:39 320 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sepucuk Surat untuk Mamah Saodah
Dokumen Pribadi


Teruntuk,
Mam Saodah di Bogor

Asalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh


Bagaimana kabar Mam? Kami selalu berdoa semoga Mam senantiasa sehat wal afiat, lahir dan batin. Semoga ibadah puasa yang sedang Mam dan kita semua jalankan mendapat kebaikan sebagaimana kebaikan dan ganjaran orang yang berpuasa.

Keadaan kami di sini alhamdulillah sehat wal afiat. Puasa kami lancar dan ade Naura juga ikut berpuasa. Sampai hari ini belum bolong puasanya. Ia sangat rindu sama Mam. Hampir tiap hari ia bertanya, "Kapan kita ke rumah nenek?" Kami selalu menjawab, nanti hari Lebaran.

Kedua kakaknya juga sama-sama rindu sama nenek. Ahmad yang sekarang punya penghasilan dari membantu dosen-dosennya, malah bersedia menanggung ongkos untuk kami semua. Ia bikin kami terharu. Kapan pun kami pergi, ia telah siap dengan uang di sakunya. Reza tak mau kalah dari kakaknya. Ia juga bersedia menyumbangkan jatah uang jajan bulanannya untuk dijadikan bekal ke rumah nenek. Mereka semua telah sangat rindu. Ingin cepat bertemu nenek.

Saya dan Ira juga sama-sama rindu. Ingin secepatnya menemui Mam. Rencana kami hari Lebaran mau pulang menemui Mam. Tahun lalu kami berlebaran tidak bersama Mam karena terhalang virus Corona yang sedang ganas-ganasnya menyerang. Semula kami yakin tahun ini dapat berlebaran di tempat Mam. Virus yang ditakuti itu katanya telah bisa diatasi, dengan hadirnya vaksin. Dengan demikian kegiatan mudik doperbolehkan. Kami bisa pulang ke tempat Mam. Namun ternyata, Pemerintah masih melarang kegiatan mudik. Karena kekhawatiran pada virus yang kembali mengganas bila banyak warga yang mudik. Bukan mudiknya yang membuat virus Corona kembali merajalela. Kerumunan orang yang terjadi saat mudik itu yang berpotensi menyebarkan virus.

Mam, seiring rasa rindu, kami memohon maaf karena rencana mudik itu harus tertunda. Kami urung merayakan hari raya bersama Mam. Kami merasa sedih melihat keadaan Mam merayakan Lebaran hanya bersama dik Leny berdua. Namun, kami tak bisa berbuat apa-apa. Bila kami memaksakan diri untuk tetap mudik, kami dapat membahayakan diri juga Mam yang kami datangi. Demi rasa sayang kami, kami menunda untuk mudik.

Selain itu, lewat surat ini juga Mam, saya sampaikan tiga berita duka. Yang pertama, Bi Iyah meninggal dunia karena sakit. Mam tentu masih ingat almarhumah kan? Bi Iyah yang orang Gang Nurkim itu, yang telah bekerja puluhan tahun di tempat Ceu Euis.  Bi Iyah meninggal karena sakit typus.

Berselang empat puluh hari lebih sedikit dari almarhumah Bi Iyah, Ceu Euis pun pergi untuk selamanya. Almarhumah Ceu Euis meninggal karena Covid-19, Mam. Ia sempat dirawat selama seminggu di rumah sakit. Suami Ceu Euis pun sama. Ia meninggal dunia karena terserang virus Corona. Kang Rahmat pergi menyusul istrinya hanya berselang empat hari. Kasihan Teh Tia, anak bungsu mereka. Ia kelihatan sedih terus setelah ditinggal tiga orang dekatnya.

Soto Mang Wawan

Mam, Ahmad sudah tak sabar ingin makan soto bersama. Ia selalu bercerita, nanti tempat pertama yang akan ia kunjungi setelah makam Bapak adalah kios soto Mang Wawan. Ia ketagihan makan di sana. Mam masih ingat enggak, waktu ia makan soto sampai dua mangkuk? Mukanya sampai keringetan, lidahnya kepedesan, tapi ia tak menyerah makan soto sampai suapan terakhir :)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN