Febriwan Harefa
Febriwan Harefa Guru

Menikmati dan terkadang menertawai berbagai keadaan di zaman modren ini.

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

Ina Yunus, Seorang Kartini Masa Kini dari Nias Selatan

21 April 2018   06:55 Diperbarui: 21 April 2018   20:41 2740 5 2
Ina Yunus, Seorang Kartini Masa Kini dari Nias Selatan
dokumentasi pribadi

Saya menyebut wanita ini sebagai Kartini masa kini. Ia bukan seorang yang berdampak bagi banyak orang disekelilingnya. Bukan seorang wanita yang mengabdikan diri untuk emansipasi wanita atau pendidikan wanita. Bukan seorang yang berasal dari kaum terdidik yang mempelajari teori feminisme atau tamatan post doktoral.

Wanita ini hanya tamatan SD. Pada saat usianya beranjak sekitar 18 tahun, orangtua wanita ini menjodohkannya dengan seorang pria yang berjarak 10 tahun dengannya. Tanpa perlawanan, iapun mengikuti perintah orangtua untuk menikah.

Sangat disayangkan wanita itu sekarang ini tinggal di sebuah gubuk yang berdinding kayu dan beralas tanah. Atap rumah hanya berdaun rumbia, yang mana ketika hujan datang sebagian besar bocor dan membasahi ranjang tempat mereka tidur.

Beberapa bulan yang lalu, saya bersama dengan beberapa teman dari PKPA Gunungsitoli berkunjung ke rumah wanita ini di desa Eusakhozi, kec. Huruna, Nias Selatan. Jalan yang kami lalui untuk sampai ke desa ini tidak mulus. 

Dari Gunungsitoli ke Kecamatan Huruna, kami mengendarai motor. Keadaan jalan dari Moi, Nias Barat menuju ke Huruna sangat kurang bagus. Karena saya yang mengemudikan motor, terkadang saya tidak tahu di depan saya ada jalan yang berlubang. Terkadang 100 meter jalan cukup mulus, kemudian jalan berlubang atau jalan yang longsor.

Setelah kurang lebih 2 jam mengendarai motor, kami akhirnya tiba di pusat kec. Huruna. Tetapi, desa yang kami akan kunjungi masih sekitar 7 km. Setelah melapor ke kantor Kecamatan Huruna, kami menuju desa Eusakhozi. Di rumah yang berada di ujung jalan yang bisa dilalui motor, kami memarkirkan motor kami.

Rintangan yang sesungguhnyapun dimulai. Menuju Desa Eusakhozi, kami harus berjalan kaki dengan medan jalan yang sulit. Jalan yang masih disusun bebatuan besar dan beberapa bukit kami harus lalui untuk bisa sampai di Desa Eusakhozi.

Jalan menuju desa. dok.pribadi
Jalan menuju desa. dok.pribadi
Seorang bidan yang merupakan warga Desa Eusakhozi, Nias Selatan mengantarkan kami ke rumah wanita tersebut. Masyarakat desa Eusakhozi mengenal wanita tersebut dengan nama Ina Yunus, karena dalam adat tradisi di Nias setelah seorang wanita berkeluarga ia tidak dipanggil lagi nama aslinya, tapi dipanggil Ina (Ibu) atau Ama (Laki-laki).

Rumah Ina Yunus berada di sebelah kanan jalan. Kami berenam masuk ke dalam rumah Ina Yunus. Buat orang yang tahu standar rumah layak. Rumah Ina Yunus jauh dari kata standar. 

Rumah yang hanya berdinding papan yang mulai lapuk, atap yang terbuat dari daun rumah. Beberapa bagian atap sudah mulai bocor dan ketika hujan akan membuat rumah menjadi basah. Jumlah kamar yang ada di rumah Ina Yunus hanya satu, sementara jumlah anggota keluarga yang tinggal ada 6 orang. 

Keadaan rumah Ina Yunus. dok.pribadi
Keadaan rumah Ina Yunus. dok.pribadi
Setelah kami memperkenalkan diri satu persatu dan tujuan kami datang kesini. Salah seorang dari kami menanyakan kepada Ina Yunus tentang kehidupan mereka sekeluarga. 

Ina Yunus menceritakan kepada kami. Setiap hari ia bekerja sebagai penyadap karet. Tiap hari getah karet yang dihasilkan sekitar 8 kg. Biasanya, getah karet dijual ke pengepul karet seminggu sekali. Total dalam seminggu Ina Yunus bisa menyadap getah karet sekitar 48 kg. Dengan harga karet yang murah sekitar 5 ribu/kg. .

Dalam seminggu pendapatan Ina Yunus sekitar 250 ribu. Meskipun demikian total pendapatan bersih sekitar 200 ribu, karena 50 ribu jasa untuk mengangkut getah karet dari desa ke ujung jalan.

Mendengar cerita Ina Yunus, saya hanya sedikit terharu, karena dalam sebulan saja pengeluaran saya bisa melebihi pengeluaran satu keluarga Ina Yunus. Sementara, Ina Yunus mempunyai 6 orang anak. Anak pertama Ina Yunus masih berada di bangku kelas 2 SMP, sedangkan anak terakhir masih berumur 1 tahun.

Ketika itu saya sempat menanyakan kemana Ama Yunus. Dengan suara terbata-bata, Ina Yunus menceritakan. Saat musim hujan 2 tahun lalu mengakibatkan hasil getah karet berkurang setiap hari. 

Sementara, pengeluaran rumah tangga setiap bulan semakin meningkat. Ama Yunus memutuskan untuk  bekerja sebagai buruh kelapa sawit di salah satu PT yang ada di Tapanuli. Tapi, sayang sampai sekarang Ama Yunus tidak mengirim sepersenpun pendapatan yang ia peroleh kepada Ina Yunus sekeluarga.

Akibatnya, Ina Yunus berjuang sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Terkadang, pendapatan keluarga Ina Yunus setiap bulan tidak tercukupi karena cuaca dan harga karet yang terkadang turun. Akibatnya, Ina Yunus menggunakan cara gali lubang tutup lubang.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Hari Senin, Ina Yunus mengutang di warung dan ia berjanji akan melunasi untangnya hari Sabtu, ketika ia menjual karet. Sementara, di desa Ina Yunus tidak mendapatkan bantuan PKH atau bantuan keluarga miskin. 

Ia hanya mendapatkan bantuan beras bulog setiap bulan. Anak Ina Yunus juga di sekolah tidak mendapatkan kartu pintar atau beasiswa kurang mampu.

Setiap hari, Ina Yunus hanya bisa memaksakan kehidupannya kepada Tuhan. Ia tidak bisa berbuat banyak. Seandainya ia ingin bekerja ke luar desa, tak ada yang menjaga anak-anaknya yang masih kecil. Dan juga di desa Eusakhozi tidak terdapat lapangan pekerjaan. Selain daripada menyadap karet dan bekerja di ladang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2