Mohon tunggu...
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Itsbatun Najih Mohon Tunggu... pekerja sosial

Mencoba menawarkan dan membagikan suatu hal yang dirasa 'penting'. Kalau 'tidak penting', biarkan keduanya menyampaikan kepentingannya sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Penguatan Karakter di Tengah Pelemahan

4 November 2019   16:16 Diperbarui: 4 November 2019   16:23 20 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penguatan Karakter di Tengah Pelemahan
sumber: rosda.co.id

Term Pendidikan Karakter digalakkan sedemikian rupa, akhir-akhir ini. Dimulai dari sekolah-sekolah melalui aturan Negara semisal Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015, Perpres Nomor 87 Tahun 2017, dan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018. Aturan-aturan formal semacam itu menjadi permakluman. Maklum, lantaran kondisi dan polah sosial berubah drastis. Bila terjadi pembiaran, dikhawatirkan rupa-rupa kejadian destruktif kian menggila. Buku ini hendak memberikan sejumput sumbangsih penjabaran pendidikan karakter; utamanya untuk hari ini yang sering disebut era milenial.

Era milenial kerap mengandung paradoks. Pengetahuan dan wawasan bisa diperoleh amat gampang. Lewat kepesatan laju teknologi, semisal kehadiran ponsel pintar, rasanya sekolah hanyalah sarana mendapat selembar ijazah. Guru, sudah bukan terposisikan sumber ilmu yang mesti digali. Kehadirannya diposisikan mitra belajar. Karena teranggap "mitra", mengandaikan konsekuensi kesetaraan derajat proses belajar. Imbasnya, mau-tidak mau, terjadi pergeseran paradigma: guru bak teman sebangku; bukan lagi laiknya orang tua. Tak mengherankan bila buku ini lantas mendaftar rigid kasus kekerasan siswa terhadap guru di banyak daerah sebagai efek sampingan yang merusak.

Baru-baru ini diwartakan seorang siswa SMK di Minahasa menusuk gurunya hingga meninggal dunia lantaran tersinggung ditegur merokok. Kasus ini mengacaukan akal sehat plus sebabkan pilu rasa; nurani tercabik-cabik. Sikap "berani" siswa tersebut boleh jadi imbas dari konsepsi guru adalah mitra belajar siswa. Sehingga, melakukan kekerasan macam menjotos dan menendang guru, derajatnya seperti halnya bertindak serupa terhadap sesama siswa. Sebab itu, buku ini lugas mewedarkan urgensi penguatan pendidikan karakter di sekolah yang berinti pada gugahan kesadaran akan fungsi dan tata nilai yang mulai hilang: keteladanan guru dan ketakziman siswa.

Fenomena lain yang patut ditelisik dari kasus di atas, perihal ketersinggungan. Bahkan hampir-hampir saban hari, terbeberkan dari banyak kasus penganiayaan hingga pembunuhan tersebab tersinggung ditegur atas perkara sepele sekalipun. Jangan-jangan tersebab itulah, keakraban sosial kita terasa amat renggang. Tindakan tegur-menegur --dengan sikap sopan-- demi menghadirkan kenyamanan hidup antarsesama telah menjadi barang tabu. Lantas muncullah sikap apatis, skeptis, dan tak acuh terhadap lingkungan sekitar berdalih menghindari adu mulut--adu otot. Seakan-akan, orang-orang sekarang merupakan pribadi-pribadi sensitif-mudah tersinggung hingga memunculkan ketidakpedulian satu sama lain.

Sikap asosial macam di atas juga ditandai kian menguatnya laku individualistis. Era milenial menyorongkan fenomena bahwa percakapan lebih asyik dengan ponsel pintar yang senantiasa tergenggam. Tengoklah di pusat-pusat keramaian macam stasiun-terminal dan lingkungan sekitaran; orang-orang hari ini justru tampak kesepian.

Nyaris tak ada aktivitas bercengkerama yang luwes antarpenumpang; pun frekuensi interaksi bersama tetangga bisa dihitung jemari. Waktu terbesar tercurah dengan mengakrabi gawai, bermedia sosial. Buku ini lantas menapaktilasi keunggulan budaya kita berupa prinsip gotong-royong-keguyuban yang senyatanya merupakan modal sosial dan kunci sukses mengatasi ragam persoalan kemasyarakatan tempo-tempo silam.

Meski demikian, sisi lain bermedia sosial --seperti diungkapkan buku---telah pula membeber fragmen-fragmen pemuliaan kemanusiaan. Seperti halnya donasi berlimpah atas suatu bencana alam, memviralkan kisah-kisah heroik dan inspiratif, atau sigap nan masif mengkritik kebijakan publik yang melenceng; kesemuanya ini merupakan imbas positif yang mesti pula diakui. Namun, bila ditengok secara menyeluruh, malah menemukan fakta ironis. Yakni, berbanding lurus dengan membanjirnya hoaks, mewabahnya ujaran kebencian, serta semburan makian-rundungan.

Buku ini terbagi menjadi 44 pasal tentang penguatan karakter yang sebagiannya, bisa dijadikan referensi bermedia sosial. Senyatanya, diperlukan seperangkat kecakapan ekstra agar tidak tersesat dalam belantara rimba jagat maya. Seperti misalnya uaran buku untuk berpikir kritis sebagai salah satu item pendidikan karakter kekinian. Dengan kata lain, banjir informasi yang tertuang dalam layar gawai, menuntut untuk tidak langsung membenarkan-mengiyakan. Melainkan terlebih dahulu menganalisis, memverifikasinya, dan menilai penting-tidaknya di-share.

Sementara sebagian besar pasal sisanya, menukikkan langkah sebagai sorongan panduan hidup keseharian. Terutama ampuh menanggulangi sifat pengkultusan materiil yang kian membuncah pada banyak orang, hari-hari ini. Semisal mengagungkan tokoh politik, partai politik-ormas sembari menghinadinakan liyan; sampai-sampai sebabkan putus ikatan keluarga dan pertemanan. Secara tersirat pesan penting buku: ajakan memprioritaskan kepentingan bersama di lingkungan terdekat; dimulai keluarga, tetangga, sekolah, dan lingkup kerja. Ketimbang energi terkuras habis tiada guna yang ujung-ujungnya untuk memenuhi kepentingan politik pragmatis segelintir elite.

Buku ini juga amat perlu dialamatkan kepada pejabat; mengandaikan keberpunyaan integritas dan terutama rasa malu. Gagal menjalankan tugas, melanggar kesusilaan/etika, atau sekadar diterpa isu korupsi, si pejabat mestinya buru-buru undur diri; tak perlu menunggu sampai diberhentikan atau divonis bersalah di pengadilan. Pejabat mesti menyadari bahwa dirinya merupakan anutan publik perihal tanggung jawab. Pejabat berintegritas bakal berbanding lurus dengan kemajuan sebuah negara; maju ekonomi serta berkeadaban. Sebaliknya, pejabat nir-integritas bakal dicontoh oleh publik dan menghasilkan kemunduran negara dengan maraknya praktik koruptif yang kadung dianggap biasa.

Walhasil, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi senyatanya tidak berbanding lurus dengan laju keadaban. Kebanalan sikap-ucapan, kian individualistis, merebaknya bencana sosial macam kelaparan-kepapaan, dan banyaknya bencana alam tersebab eksploitasi-kerakusan; kesemuanya menandakan telah mengendurnya nilai-nilai luhur kehidupan saat ini. Maka dari itu, pendidikan karakter hakikatnya senantiasa terus-menerus dibincang-dipraktikkan; menjadi kontrol laku. Dus, karena buku ini bukan berkhotbah, uraian pendidikan karakter yang diuarkan bersifat dialogis dan bernarasi kekinian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x