Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Itsbatun Najih wiraswasta

Mencoba menawarkan dan membagikan suatu hal yang dirasa 'penting'. Kalau 'tidak penting', biarkan keduanya menyampaikan kepentingannya sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Alasan Milenialis Kreatif Kepincut Minyak Kayu Putih Zaman Now

13 Januari 2018   23:59 Diperbarui: 14 Januari 2018   01:21 286 1 1

Milenialis Kreatif Kepincut Minyak Kayu Putih Zaman Now

Pada masa-masa kini, laju gerak sebagian anak muda terperangkap dalam ruang. Sebagian lain, aktif dalam aktivitas luaran, di tempat terbuka. Di ruang besar, tersekat bilik dan menghadapi komputer. Tapi, tetaplah betah karena ruang itu tidak panas, berpendingin udara. Selama berjam-jam dari pagi hingga sore berada dalam "cuaca" yang tidak menyebabkan keluar keringat. 

Dalam kondisi itu, secara berkelanjutan dalam tempo lama, rasanya --setidaknya saya--- dibuat kurang nyaman dan tidak kuat. Bila Anda sekalian merasa tetap enjoi, itu perkara lain. Namun, saya --sebagai awam---tetap melihat tubuh mesti dihangatkan. AC, sebagai gambaran modernitas kerja kantoran --di mana anak muda kreatif--- masih turut bekerja di dalamnya, Dalih saya, sekali lagi sebagai awam, masyarakat Indonesia tumbuh-berkembang dalam iklim tropis. Di mana kehangatan atau bahkan panas telah menjadi "watak". Dingin pun, di kala musim hujan, adalah dingin level moderat.

Cuaca normal itu bila dikaitkan dengan hawa AC pekerja kantoran, tentu dingin yang tidak alami. Kata seorang teman, berakibat tidak baik pada kesehatan kulit dalam jangka panjang. Tentu tidak hanya para pekerja kantoran. Pun, anak-anak muda yang memutuskan "bekerja" di rumah. Di ruang kerja (baca: kamar tidur), mereka mendesain gambar, menulis, membuat program/aplikasi, membuat konten digital. Mereka juga terdampak oleh suhu AC hingga seharian penuh. Kalau pun kamar kerjanya tidak ber-AC, ia tetap kurang mendapat kehangatan sinar matahari. Kurang sehat juga untuk kesehatan kulit.

Sementara itu, bagi mereka yang aktif di luar. Anak-anak muda yang hobi traveling dan menyusuri aneka spot menarik, untuk kemudian membikin vlog. Adalah intesitas yang cukup melelahkan dan menguras energi. Kini, cuaca juga sulit diprediksi. Aktivitas di luar ruangan menuntut konsekuensi anak kreatif zaman now mesti cermat menjaga kondisi kesehatan. Pagi cerah, selang sesaat turun hujan. Dengan demikian, mereka menyimpan potensi terjangkit flu, masuk angin, dan demam.  

Anak muda sekarang merupakan generasi milenial dengan fokus di jagat digital. Baik mereka yang berkarya dalam ruang ber-AC, dan yang aktif di luar ruangan. Kita tahu, mereka adalah orang-orang yang secara kesehatan masih terbilang masih prima. Belum terkontaminasi dengan mudahnya terjangkit masuk angin sebagai pintu awal masuknya penyakit. Saya lekas teringat para tetua, para orang tua di sekeliling saya. Mereka, bila merasa tidak enak badan, adalah seperti identitas tersendiri untuk selalu membawa obat luar/obat oles semisal minyak akyu putih atau semacamnya.

Anda tentu tahu, ciri khas bau yang diuarkan dari minyak oles itu. Pasti agak gimana gitu. "Wajarlah, ini kan memang minyak angin, obat. Bukan parfum", kata para orang tua. Yang saya amati, kecenderungan kawula milenial rupanya lebih memilih obat dalam semisal pil atau yang berbentuk cair. Saya menduga kuat keogahan ini disebabkan karena uaran bau, bau khas orang tua, khas emak-emak dan khas bapak-bapak. Tentulah, golongan milenialis kreatif zaman now sebisa mungkin menghindari stereotip macam demikian yang bisa menjatuhkan gengsinya.

Dan syukur-syukur, kini problem itu terjawab. Adalah minyak Kayu Putih Aroma (KPA) Caplang berhasil mewadahi itu untuk kemudian patut dijadikan solusi. KPA, menawarkan kehangatan yang bersumber dari bahan-bahan alami. Cocok sebagai pegangan sehari-hari milenialis kantoran yang bekerja dalam terpaan udara AC. Pantas pula bagi milenialis yang beraktivitas di luar ruangan, bagi vlogger, traveler dkk. Ketika rasa capai mendera dan gejala demam mulai terasa, saya kira pertolongan pertama tak lain tak bukan dengan memberikan olesan minyak KPA.

Dan ini kuncinya: ada embel-embel aromatherapy. Uaran bau minyak kayu putih yang selama ini berkesan jauh dari identitas kawula muda yang lekat dengan keharuman parfum, lekas tertutupi dan terobati dengan sensasi tambahan aroma yang menyegarkan dan mengharumkan.  Dengan itu, kiranya bakal ada pergeseran corak pandang bagi milenialis kreaitf untuk tidak lagi canggung dan malu-malu menggenggam minyak kayu putih. Suplemen aromatherapy yang cukup kuat itu membawa dampak signifikan bahwa minyak kayu putih ternyata bisa fashionable , stylis, dan kekinian.    

Seperti halnya para penulis konten media digital --profesi kreatif yang makin banyak di era now, saya juga dihadapkan pada aktivitas serupa. Tak jarang, hingga memakan waktu sampai larut malam. Namun biasanya justru dimulai kala tengah malam---di mana keheningan malam membuahkan banyak inspirasi. Meski menulis di rumah, tetap saja udara malam tidak bisa terhindarkan. Hawa dingin lekas menusuk tulang. Konon, beraktivitas di malam hari, tidak baik dan sedikit-banyak mengganggu kesehatan badan. Apalagi, bila ia alergi terhadap udara dingin. Imbasnya, sebagaimana saya, kerap bersin-bersin untuk kemudian berhenti sendiri setelah  15-20 menit.

Sudah saya membuktikan, meski dihangatkan oleh secangkir kopi dan camilan agar menghindarkan masuk angin, ternyata tidak banyak membantu dalam menormalkan suhu badan kala beraktivitas di malam hari. Efek menyeruput kopi panas hanya bertahan sesaat untuk kemudian dicekam kembali oleh dingin malam. Biasanya, keesokan harinya, rasa tidak enak badan mulai menggelayuti. Gejala masuk angin perlahan terasa.

Nah, ini berbeda imbas ketika selain kopi tentunya, para penulis konten digital yang kerap beraktivitas di malam hari itu, menjadikan minyak KPA sebagai mitra setia penghangat badan. Kita tahu, kehangatan yang ditimbulkannya, saya rasa bisa menetralisir dingin malam. Kondisi suhu badan bisa terasa hangat seperti layaknya menulis di siang hari. Suhu badan stabil. Keesokan harinya, gejala masuk angin, bersin-bersin, agak demam, juga nihil. Ini membuktikan bahwa minyak kayu putih efektif mampu menjaga kondisi suhu badan.

Apalagi, minyak kayu putih Caplang ciamik bertransformasi. Sebagaimana paparan di atas, saya rasa, kombinasi aromatherapy adalah kunci merangkul para milenialis kreatif. Bila dioleskan, minyak kayu putih zaman now itu menguarkan aroma harum aroma lavender seperti yang saya gunakan. Ada sensasi wangi yang menghangatkan. Ada kesan stylish dan fashionable seperti bentuk mini dan warna tutup botol eye catching. Sehingga rasa-rasanya para milenialis kreatif tidak canggung menenteng-menggenggamnya.

Oiya, selain terpaan hawa dingin, malam juga menjadi waktunya serangga dan terutama nyamuk mencari mangsa. Rawan tergigit. Sekali lagi, olesan minyak kayu putih berkhasiat menjadi tameng.  Lebih dari itu, saya rasa tidak perlu sampai mencari dengan rinci penelitian ilmiah tentang korelasi keharuman dengan tingkat produktivitas, stimulus, dan semacamnya. Secara sederhana saja, wangi parfum atau aromatherapy pasti menghasilkan suasana positif.

Sebagai penulis, sensasi keharuman aromatherapy dari minyak KPA Caplang ini praktis menghadirkan stimulus dalam berkarya dan memicu datangnya banyak ide dan inspirasi. Walhasil, menulis di malam hari yang berkodrat dingin, di saat kini musim hujan masih berlangsung, di kala serangga diam-diam mencari mangsa,  minyak kayu putih bisa menjadi teman. Terakhir sekali, sensasi aromatherapy lavender menjadi faktor utama pula penulis kepincut dengan minyak kayu putih Caplang. Kita tahu, para penulis tidak bisa dilepaskan dari buku dan kliping koran yang kerap menguarkan bau kertas kurang sedap, apek, dan menyengat.