Iis Siti Aisyah
Iis Siti Aisyah Teacher | Reader | Freelance Writer

Penikmat buku dan coklat secara bersamaan

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Membangun Bahasa, Mencipta Generasi Bangsa

1 Juni 2018   20:59 Diperbarui: 2 Juni 2018   03:08 1567 12 3
Membangun Bahasa, Mencipta Generasi Bangsa
psycholawlogy.com

Pernah dihadapkan pada suatu pembelajaran yang membosankan ketika sekolah? 

Saya, jujur saja, paling tidak suka dengan pelajaran yang satu ini: "Bahasa Indonesia". Alasannya sangat simple, tapi bingung juga kalau ditanya apa yang buat membosankannya. 

Ngantuk, ga semangat, dan satu lagi, terasa pelajaran yang sangat mudah dan tidak perlu dibuat ribet dengan beberapa kali pertemuan. Materi yang diberikan seperti gampang tapi lihat nilai ko ancur ya. Begitulah kira-kira menggambarkan pelajaran yang satu ini.

Entah ini karma atau bukan, justru saya yang tidak suka pelajaran ini, akhirnya mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ketika kuliah. Memang, tidak seperti pelajaran di sekolah yang akhirnya menjadi malas belajar, karena perbedaan kelas pendidikan tentu tidak mungkin sama, kuliah lebih banyak dengan diskusi-diskusi dan debat-debat teoritis yang entah kapan pelaksanaannya. 

Akhirnya saya pun harus merasakan bagaimana mengajar di kelas sebagai guru Bahasa Indonesia.  

Bagaimanapun, saya tidak mungkin terus memikirkan hal tersebut, justru saya tertantang untuk menghilangkan image, pelajaran ini mudah dan digampangkan.

Bukan berarti mempersulit, tetapi pada kenyataannya, bahasa adalah pelajaran sepanjang hayat yang terus dipakai manusia untuk bersosial, baik itu secara tulis maupun lisan.

Peran guru bahasa pun menurut hemat saya bukan lagi tentang materi dan kemampuan tulis yang baik, tetapi bagaimana fungsi bahasa tersebut bisa bermanfaat untuk kehidupan anak didik tersebut. 

Maka, pada suatu waktu saya memosisikan diri sebagai kawan anak didik saya dalam berbicara dan tidak jarang mereka curhat tentang kehidupan mereka kepada saya.

Mungkin itulah yang anak didik inginkan sebenarnya, bukan dijejali materi, tetapi mengaitkan materi dengan kehidupan ini. Setidaknya mereka bisa berbagi masalah (yang menurut saya di usia saya sekarang) tentu bukan masalah berat. Namun, di usia mereka jelas perlu pencerahan dan saran yang tidak menyalahkan. 

Mengapa saya menulis tentang ini? Karena saya terinspirasi dari tulisan Pa Tjip di kompasiana juga, tentang rapuhnya generasi bangsa ini, ketika takut gagal masuk sekolah favorit berakhir dengan gantung diri. Ini bagian menghenyakkan: apakah orang pintar itu harus selalu mendapat nilai yang baik dan selalu sukses dengan instan? 

Saya teringat dengan teori keseimbangan IQ, EQ, dan SQ yang pernah diajarakan oleh Ary Ginanajar seorang motivator ESQ. Selain itu, teman saya juga berkomentar hal serupa di facebook, menurutnya bunuh diri tersebut adalah bagian dari kekurang seimbangan antara kepintarannya itu dengan Emotional Quatient (EQ) dan Spritual Quotient (SQ).

Dan, saya justru teringat dengan buku yang pernah saya baca tentang kecerdasan lain yang dikenalkan oleh Paul Stoltz, menurutnya, ada kecerdasan lain selain, IQ, EQ, dan SQ, yaitu yang disebut dengan AQ (Adversity Quotient). 

AQ adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan hidup dan bertahan hidup, atau bisa juga disebut dengan ketahanan atau daya tahan seseorang ketika mengahadapi permasalahan.

Stoltz menuturkan ada 3 tipe orang dalam mengahadapi permaslahan:

1. Mudan Menyerah ( Quiter)

2. Banyak Perhitungan (Camper)

3. Ulet dan Menyelesaikan Masalah dengan Baik (Climber)

Memang sangat sulit mengukur keseimbangan dan kecerdasan anak tersebut dari segi EQ, SQ, ataupun AQ tetapi mungkin bisa dilatih sejak kecil dengan cara banyak diajak memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan bagaimana iman mengatur segalanya. 

Di sinilah bahasa sangat diperlukan dalam keluarga, bukan hanya di sekolah, yaitu dengan cara banyak diajak untuk berdiskusi ataupun berbincang santai namun berisi, sehingga anak merasa memiliki orang yang bisa untuk diajak berbagi dan tidak untuk dipendam sendiri. 

Semoga, tidak ada kejadian lagi anak pintar bunuh diri, bangsa ini butuh orang yang bukan hanya berani, tetapi kuat secara iman, emosi, dan kecerdasan lainnya.