Isson Khairul
Isson Khairul research l media monitoring l content writing l public relation

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama FEATURED

Tol Trans Jawa vs Ekonomi Lokal di Pantura Jawa

7 Agustus 2017   13:26 Diperbarui: 12 Juni 2018   11:58 2555 6 4
Tol Trans Jawa vs Ekonomi Lokal di Pantura Jawa
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, (tengah) ketika berkunjung ke kampus Politeknik Keselamatan dan Transportasi Jalan (PKTJ), Tegal, Jawa Tengah, Minggu (06/08/2017). Ia meminta kehadiran jalan Tol Trans Jawa Jakarta-Semarang, yang akan selesai tahun 2018, tidak hanya bisa memberi kelancaran akses bagi masyarakat, tapi juga seharusnya bisa meningkatkan ekonomi lokal di wilayah Pantura Jawa, seperti Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan. Foto: muhammad irsyam faiz-tempo.co

Tol Trans Jawa Jakarta-Semarang ditargetkan selesai sebelum Lebaran 2018. Seharusnya, tol ini bisa meningkatkan ekonomi lokal di wilayah Pantura Jawa. Bagaimana kesiapan Pemda dan dunia usaha setempat?

Minggu (06/08/2017) Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi,  berkunjung ke Tegal, ke kampus Politeknik Keselamatan dan Transportasi Jalan (PKTJ). Di sana, ia mengingatkan pentingnya tenaga terdidik, untuk meningkatkan keselamatan di jalan. 

Selain itu, Budi Karya juga menggarisbawahi, Tol Trans Jawa Jakarta-Semarang ditargetkan selesai sebelum Lebaran 2018. Tol ini tentulah membutuhkan tenaga terdidik di bidang keselamatan. Dan, yang tak kalah penting, Budi Karya minta agar Pemda sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa action, supaya keberadaan Tol Trans Jawa ini bisa meningkatkan ekonomi lokal di wilayah Pantura.

Komplain Pemda Pekalongan 

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, bercerita, ia pernah dikomplain oleh pemda Pekalongan, Jawa Tengah, karena penjualan batik di wilayah tersebut menyusut, setelah adanya jalan tol Trans Jawa. 

Pada musim mudik Lebaran, misalnya, para pemudik memilih melalui jalan tol. Akibatnya, para pedagang sepanjang jalan Pantura, seperti di wilayah Pekalongan itu, sepi pembeli. Padahal, musim mudik yang sekali setahun itu, selama ini adalah musim panen bagi para pedagang di berbagai wilayah sepanjang jalan Pantura.

Dari penelusuran saya, Pasar Grosir Batik Setono di Pekalongan, di jalur utama Pantura, agaknya bisa kita dijadikan contoh. Setidaknya, untuk mendapatkan gambaran tentang penyusutan penjualan batik di sana. 

Pada mudik Lebaran 2016, omset pedagang di sana rata-rata mencapai Rp 3-5 juta per hari. Karena, seluruh pemudik melewati jalur Pantura, dan sebagian besar belanja batik di Setono. Pada mudik Lebaran 2017, omset mereka hanya di kisaran Rp 500-700 ribu, itu pun tidak setiap hari. Karena, sebagian besar pemudik melalui jalan tol darurat.

Kendaraan pemudik Lebaran 2017, ketika melintasi jalan tol darurat Brebes Timur dan Pemalang-Batang di Batang, Jawa Tengah, pada Kamis (22/06/2017). Di satu sisi, kemacetan parah di jalan Pantura tiap kali musim mudik, teratasi. Di sisi lain, beralihnya pemudik ke jalan tol, membuat para pedagang sepanjang jalan Pantura Jawa, sepi pembeli. Foto: garry andrew lotulung-kompas.com
Kendaraan pemudik Lebaran 2017, ketika melintasi jalan tol darurat Brebes Timur dan Pemalang-Batang di Batang, Jawa Tengah, pada Kamis (22/06/2017). Di satu sisi, kemacetan parah di jalan Pantura tiap kali musim mudik, teratasi. Di sisi lain, beralihnya pemudik ke jalan tol, membuat para pedagang sepanjang jalan Pantura Jawa, sepi pembeli. Foto: garry andrew lotulung-kompas.com
Disebut jalan tol darurat, karena belum sepenuhnya selesai dikerjakan, tapi sengaja dibuka pengelola tol untuk mudik Lebaran 2017 lalu. Komplain pemda Pekalongan tersebut, mungkin hanya satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa signifikannya dampak beralihnya pemudik dari jalan Pantura yang non-tol ke jalan tol Trans Jawa. Pada Minggu (06/08/2017) itu, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan, ia sudah menugaskan seluruh operator dan prakarsa, agar ada kehadiran masyarakat setempat di jalan tol Trans Jawa.

Yang dimaksud dengan kehadiran masyarakat setempat, tentulah keterlibatan warga, terkait pemanfaatan ekonomi dari jalan tol Trans Jawa. Dalam konteks itu, Budi Karya Sumadi meminta pemerintah daerah sepanjang Pantura, untuk memanfaatkan rest area jalan tol, guna memasarkan produk khas lokal. 

Misalnya, batik di Pekalongan, bawang dan telur asin di Brebes. Dengan telah dibukanya opsi tersebut oleh Budi Karya Sumadi, menurut saya, para pimpinan daerah di Pantura sebaiknya segera action, untuk menindaklanjutinya. Peluang itu harus cepat direspon. Para pimpinan daerah di Pantura, harus segera mengambil inisiatif.

Fluktuasi dari Cirebon

Dari penelusuran saya, apa yang dirasakan warga Kota Cirebon, Jawa Barat, mungkin juga bisa kita jadikan contoh. Pada mudik Lebaran 2015, warga dan pelaku usaha di Cirebon penuh suka-cita. Para pemudik keluar Tol Cipali dari Palimanan, jadi banyak yang singgah di Cirebon. Perekonomian di kota yang kerap disebut sebagai Kota Udang ini, semakin meningkat. 

Jenny Sujarwati, Kepala Cabang Utama Bank Central Asia (BCA) Cirebon, mendeteksi peningkatan perekonomian Cirebon dari semakin banyaknya usaha kecil tumbuh di kota itu. Artinya, usaha warga setempat, menggeliat. Perputaran uang pun terasa deras.

Ini Rest Area KM 166 dari arah Cikopo menuju Palimanan, bagian dari jalan tol Trans Jawa yang berada di Jawa Barat. Rest Area ini berada di Majalengka, dengan wilayah sekitar: Cikopo, Purwakarta, Palimanan, dan Cirebon. Budi Karya Sumadi meminta pemerintah daerah sepanjang Pantura, untuk memanfaatkan rest area jalan tol, guna memasarkan produk khas lokal. Foto: isson khairul
Ini Rest Area KM 166 dari arah Cikopo menuju Palimanan, bagian dari jalan tol Trans Jawa yang berada di Jawa Barat. Rest Area ini berada di Majalengka, dengan wilayah sekitar: Cikopo, Purwakarta, Palimanan, dan Cirebon. Budi Karya Sumadi meminta pemerintah daerah sepanjang Pantura, untuk memanfaatkan rest area jalan tol, guna memasarkan produk khas lokal. Foto: isson khairul
Jenny Sujarwati sempat mencatat, rata-rata setoran tunai ke BCA Cirebon mencapai Rp 20 miliar per hari. Di akhir pekan, jumlahnya lebih dari itu. Tahun 2016, ketika jalan tol Trans Jawa sudah tembus hingga Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, situasi di Cirebon berubah. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki, mengungkapkan, tingkat hunian kamar pada Lebaran 2016, menurun drastis, bahkan tidak mencapai 50 persen. Ia menyimpulkan, pemudik memilih beristirahat setelah keluar dari Tol Brebes. Indikasinya, okupansi hotel di kawasan Tegal meningkat signifikan.

Fluktuasi yang dirasakan warga dan dunia usaha di Cirebon tersebut, sebelum dan setelah jalan tol Trans Jawa tersambung hingga Brebes, menunjukkan kepada kita, dampaknya cukup signifikan bagi perekonomian warga setempat. 

Menurut saya, apa yang dialami Cirebon dan Pekalongan, juga akan dirasakan oleh Brebes, Tegal, dan Pemalang, ketika jalan tol Trans Jawa benar-benar sudah tersambung 100 persen hingga Semarang. Dengan kata lain, seluruh stakeholder di wilayah Pantura, nampaknya belum siap mengantisipasi berbagai dampak dari keberadaan jalan tol Trans Jawa ini.

Mungkin belum terlambat, jika Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menginisiasi pertemuan dengan para pimpinan daerah di Pantura secara komprehensif. Setidaknya, pertemuan tersebut bisa menjadi langkah antisipasi, agar para pimpinan daerah Pantura tersebut menyusun rencana, yang relevan dengan situasi-kondisi wilayah masing-masing. 

Pembekalan strategi terhadap para kepala daerah itu, bisa meminimalkan dampak sosial-ekonomi yang mungkin terjadi. Jangan sampai, tersambungnya jalan tol Trans Jawa Jakarta-Semarang, justru meredupkan ekonomi rakyat di wilayah sepanjang jalan Pantura.

Warga sepanjang Pantura menjajakan dagangan di pinggir jalan tol Trans Jawa. Ini bagian dari upaya warga setempat untuk meraih nilai ekonomi dari tol tersebut, tapi dilakukan secara serampangan. Ini membahayakan keselamatan mereka, juga berbahaya bagi pengendara. Stakeholder yang relevan dengan jalan tol Trans Jawa, hendaknya mengelola hal ini, agar jalan tol berkontribusi langsung pada ekonomi rakyat setempat. Foto: isson khairul
Warga sepanjang Pantura menjajakan dagangan di pinggir jalan tol Trans Jawa. Ini bagian dari upaya warga setempat untuk meraih nilai ekonomi dari tol tersebut, tapi dilakukan secara serampangan. Ini membahayakan keselamatan mereka, juga berbahaya bagi pengendara. Stakeholder yang relevan dengan jalan tol Trans Jawa, hendaknya mengelola hal ini, agar jalan tol berkontribusi langsung pada ekonomi rakyat setempat. Foto: isson khairul
Potensi Lokal, Ekonomi Lokal

Kita tahu, ketika tol Jakarta-Semarang selesai, sejumlah wilayah di Pantura Jawa seharusnya bisa memanfaatkan tol ini untuk meningkatkan ekonomi setempat. Sebagian wilayah Jawa Barat, sebagian lagi Jawa Tengah. Sebutlah, misalnya, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan. 

Sejumlah wilayah tersebut, juga wilayah di sekitarnya, tentulah memiliki potensi lokal untuk dikembangkan lebih luas. Kemudahan akses karena adanya jalan tol, sudah seharusnya disambut sejumlah pemerintah daerah berbagai wilayah tersebut, sebagai peluang.

Peluang? Iya, peluang ekonomi dengan memberdayakan warga serta meningkatkan kualitas dunia usaha yang sudah ada. Dalam konteks ekonomi, peluang tentulah tidak datang dengan sendirinya. 

Seluruh stakeholder di tiap wilayah tersebut, hendaknya bergerak, mencari berbagai kemungkinan agar tercipta peluang ekonomi yang bisa dieksekusi. Ini tentu membutuhkan perencanaan yang melibatkan pemda dan swasta. Pemerintah pusat sudah sejak jauh-jauh hari mengingatkan agar pemda menghilangkan berbagai aturan daerah, yang menghambat investasi.

Kebijakan pemda Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, dan Pekalongan misalnya, haruslah pro-bisnis, agar keberadaan jalan tol Jakarta-Semarang ini memberi manfaat ekonomi untuk warga. Dan, jangan lupa, sejumlah wilayah Pantura Jawa sesungguhnya bersaing, berkompetisi, untuk meraih manfaat ekonomi semaksimal mungkin. 

Ini kredo bisnis, ini konsekuensi ekonomi. Inilah tantangan bisnis. Jika strategi pemda dan swasta di berbagai wilayah tersebut tidak berubah, artinya sama saja dengan sebelum dan setelah adanya jalan tol, maka boleh jadi ekonomi rakyat di sana akan terus menyusut.

Untuk menarik minat pengguna jalan tol Trans Jawa, agar mereka tidak hanya lewat saja, Cirebon mengembangkan potensi wisatanya. Khususnya, wisata kuliner, wisata belanja batik, dan wisata alam. Ini bagian dari upaya warga dan pelaku usaha setempat, untuk meraih nilai ekonomi dari tol tersebut. Langkah positif yang bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Pantura. Foto: kompas.com
Untuk menarik minat pengguna jalan tol Trans Jawa, agar mereka tidak hanya lewat saja, Cirebon mengembangkan potensi wisatanya. Khususnya, wisata kuliner, wisata belanja batik, dan wisata alam. Ini bagian dari upaya warga dan pelaku usaha setempat, untuk meraih nilai ekonomi dari tol tersebut. Langkah positif yang bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Pantura. Foto: kompas.com
Dulu, tanpa bikin event, tanpa berpikir tentang brand kota, tanpa memberdayakan komunitas setempat, tanpa membenahi infrastruktur, dan tanpa menciptakan aturan untuk kemudahan berusaha, ya semua berjalan begitu saja. Kini, sejumlah kota, yang juga memiliki industri batik, misalnya, agresif mengeksplorasi diri. Agresif pula mengkampanyekan diri dengan memberdayakan berbagai komunitas. 

Keberadaan jalan tol Trans Jawa telah membuka ruang publik. Publik punya alternatif. Peta persaingan berubah. Dan, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, tentu ingin warga sepanjang Pantura terangkat kesejahteraan mereka, ditopang oleh jalan tol Trans Jawa.

isson khairul --dailyquest.data@gmail.com

Jakarta, 07 Agustus 2017