Hijau

Nyanyian Sumbang Mangrove Teluk Ambon

10 Oktober 2017   12:49 Diperbarui: 10 Oktober 2017   13:36 620 0 0
Nyanyian Sumbang Mangrove Teluk Ambon
passo-59dc5f579e0d88269d4fae52.jpg

Nyanyian Sumbang Mangrove Teluk Ambon

 Lahan konservasi mangrove itu ternyata beralih fungsi, dimana saat sekarang ini kegiatan pembangunan yang menggusur areal tanaman mangrove masih terus berlangsung di beberapa lokasi. Menurut peneliti mangrove P2LD-LIPI Suyadi, di Teluk Ambon hutan mangrove merupakan ekosistem yang penting untuk mendukung pembangunan dan perlindungan Kota Ambon, selain sebagai pelindung laut sekaligus pelindung daratan, hutan mangrove di kawasan ini memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi dan pencegah sedimentasi.Kini luasan hutan mangrove di Teluk Ambon terus berkurang. Jika dibandingkan dengan tahun 1999 luas hutan mangrove tersebut berkurang hingga 4 ha dengan laju deforestasi dari tahun 1999 sampai 2006 sekitar 0,67 ha per tahun.

Kondisi ini juga diperparah dengan laju sedimentasi sebagai salah satu faktor utama matinya mangrove di beberapa wilayah, dimana kian hari makin meluas, dimana luas sedimentasi di tahun 1994 adalah 72 hektar, meningkat hingga 100% pada tahun 2013 menjadi 142 hektareKondisi mangrove di Teluk Ambon kian memprihatinkan, anggaplah dia berada di titik nadir sebuah kehidupan, pemanfaatan lereng gunung, dan pesisir Teluk menjadi pemukiman dan aktivitas lainnya memberi dampak yang makin serius. Kondisi ini diperkirakan akan memberikan dampak negatif bagi beberapa ekosistem pesisir di Teluk Ambon

 Kondisi hutan mangrove yang tersisa saat ini kian rnemprihatinkan. Mangrove di daerah Passo yang masih cukup luas diduga mengalami pencemaran akibat banyaknya sampah dan timbunan lumpur karena erosi. Sedangkan mangrove di tempat lain seperti Poka, Galala, Halong, telah terfragnentasi berat dan tinggal berupa spot-spot hutan mangrove yang berukuran kecil dan tidak lagi produktif. Meffe dan Carrol (1994) mencatat bahwa daya dukung hutan yang telah terfragmentasi menjadi bagian-bagian kecil terhadap biota yang ada di dalamnya menjadi sangat rendah, kawasan Tawiri bahkan kini hutan mangrovenya terus mengalami penebangan akibat aktivitas yang kini masih terus berlangsung. Kualitas vegerasi mangrove di Teluk Ambon juga sangat buruk. Hal ini ditunjukkan oleh kerapatan dan indeks nilai penting yang lebih rendah dibanding dengan hasil penelitian yang ada sebelumnya