Mohon tunggu...
Isnaini Khomarudin
Isnaini Khomarudin Mohon Tunggu... editor lepas dan bloger penuh waktu

editor lepas | bloger penuh waktu | desainer isi buku | juga menulis di belalangcerewet.com dan hudu.xyz

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Plus Minus Berdonasi Online

6 Mei 2021   23:42 Diperbarui: 7 Mei 2021   00:22 308 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Plus Minus Berdonasi Online
Panti asuhan untuk menampung anak panti lain yang kebakaran. (Foto: dok. pri) 

Akhir tahun 2015, sebuah panti yatim di daerah Sukasari Bogor terbakar cukup parah. Anak-anak terpaksa diungsikan ke cabang lainnya sambil menunggu panti yang kebakaran bisa kembali difungsikan. Berita itu menyebar dari medsos, termasuk grup WhatsApp Bernas (Berbagi Nasi) Bogor. Komunitas kami segera bergerak untuk menggalang donasi. Tak ada portal khusus untuk disambangi calon donatur, semua dikerjakan serbacepat, mengandalkan asas kepercayaan. Relawan menyebarkan pesan berantai agar menjadi hype dan membetot perhatian.  

Singkat kata, bantuan kemudian berdatangan. Donasi bukan hanya dalam bentuk barang tetapi juga mengalir dalam bentuk uang. Yang tinggalnya dekat, uang langsung kami terima. Sedangkan bagi mereka yang tinggal berjauhan, donasi kami terima melalui transfer. Uang dikirim langsung ke rekening salah satu relawan agar dana terkonsentrasi di sana. Nah, salah satu donatur berasal dari Singapura, yang berkenan mengirimkan uang cukup besar untuk dibelikan seragam sekolah, perlengkapan sekolah, dan mushaf Al-Qur'an yang turut terbakar.

Relawan dikira penipu

Donasi kami terima dan segera dibelanjakan sesuai amanah. Tak lama setelah donasi disampaikan kepada pihak panti, bukti-bukti foto lantas kami kirimkan kepada donatur yang baik hati itu. Ia berterima kasih karena mendapat kesempatan untuk menolong adik-adik di Indonesia yang pantinya kebakaran. Semua berjalan lancar sampai terjadi sebuah kesalahpahaman. Ya, akibat miskomunikasi hubungan donatur dan relawan sedikit rekak. 

Kesalahpahaman itu dipicu oleh kiriman sebuah video kepada donatur tersebut. Seorang relawan mengirimkan sepotong tayangan berisi seorang lelaki yang berniat menjual ginjalnya seharga 1 M demi memenuhi kebutuhan, juga untuk mendukung kegiatan sosial.  Dari angka itulah masalah bermula. Relawan yang kemampuan berbahasa Inggrisnya terbatas tak mampu menjelaskan bahwa harga 1 M yang dimaksud adalah 1 miliar atau one billion dalam bahasa Inggris. Di sisi lain, sang donatur menganggap 1 M adalah 1 million alias satu juta rupiah.

Gara-gara video tanpa penjelasan memadai itu, donatur jadi mencurigai kami para relawan telah memanfaatkannya dalam penggalangan donasi. Dia tergoda berpikir seperti itu lantaran merasa musykil bagaimana mungkin ada orang yang menjual organ tubuh vitalnya seharga 1 juta rupiah saja? Maka dia pun seolah menyimpulkan bahwa donasi untuk panti yatim sebelumnya boleh jadi hasil manipulasi belaka. Sungguh miris ya, akibat keterbatasan berbahasa misunderstanding terjadi dan berakibat cukup parah. 

Bangunan panti asuhan yang terbakar habis (Foto: dokumentasi Bernas Bogor)
Bangunan panti asuhan yang terbakar habis (Foto: dokumentasi Bernas Bogor)

Perlunya legalitas

Berangkat dari kasus itu, saya bisa memetik satu pelajaran penting. Bahwa penggalangan donasi secara online hendaknya didukung dengan kelengkapan organisasi yang jelas untuk menghindari kecurigaan penggalanan dana dan pendistribusiannya. Jika bicara dalam konteks masa kini, ya komunitas setidaknya berbentuk yayasan yang berbadan hukum dan memiliki platform online yang bisa diandalkan. Dan yang tak kalah penting adalah rekening donasi harus sama dengan nama yayasan yang dijadikan sebagai patokan. Sama seperti Nasi Bungkus Community (NBC), komunitas yang kini saya ikuti yang sudah berbentuk yayasan dengan nomor rekening khusus komunitas, bukan atas nama pribadi.

Keunggulan donasi online adalah kecepatan dan kepraktisannya dalam mengirimkan dana. Tanpa meninggalkan rumah, kita bisa membantu sesama untuk orang yang jauh jaraknya. Berbekal jaringan Internet, kita mungkin menolong  orang-orang yang nun jauh bahkan mungkin tak kita kenal. Kini juga makin banyak lembaga amil zakat (LAZ) yang memiliki platform online donasi tanpa mengharuskan kita menginstal aplikasi. Dana cepat masuk dan bisa dimonitor arusnya.

Donatur jadi tumbuh kepercayaannya terhadap transparansi penggalangan donasi karena nama rekening selaras dengan organisasi dan banyak metode pembayaran donasi. Banyak kanal media sosial yang bisa dicek untuk melakukan verifikasi. 

Akan tetapi, di balik kemudahannya, berdonasi online juga bisa saja terancam peretasan atau hacking oleh pihak yang jahat. Data dan dana bisa diretas tanpa sepengetahuan kita. Tentu saja dalam hal ini dibutuhkan perlindungan ketat dengan firewall yang sulit ditembus hacker.  Kelemahan kedua berdonasi online adalah kadang orang-orang terdekat malah terlupakan karena kita fokus pada yang jauh gara-gara kemudahan mengirimkan donasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN