Mohon tunggu...
Isnaeni
Isnaeni Mohon Tunggu... Guru - Belajar dengan menulis.

Belajar sepanjang hayat

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Setelah S2, Apa Bedanya?

21 Januari 2024   22:03 Diperbarui: 21 Januari 2024   22:34 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Setelah menjadi guru Saya sering memberikan motivasi kepada siswa agar melanjutkan sekolah sampai jenjang yang tertinggi. Namun kenyataannya Saya sering terbentur dengan pertanyaan untuk apa kuliah setinggi-tingginya kalau tidak ada peningkatan dalam kehidupan seperti peningkatan penghasilan, kenaikan jenjang karir atau status di masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, peningkatan jenjang pendidikan biasanya berpengaruh dalam peningkatan penghasilan seseorang. Namun dalam kenyataannya tidak selamanya demikian, banyak orang dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi bisa memperoleh kesuksesan secara materi. Bapak Saya pernah berkata "buat apa kuliah? Bapak juga tidak kuliah bisa berhasil". Beliau memang sekolahnya hanya di madrasah dan belajar secara otodidak namun bisa membuat usaha dagang di rumah.

Pandangan Bapak berbeda dengan pandangan Ibu yang melihat dengan pandangan lain bahwa sekolah atau kuliah itu untuk mencari ilmu, kalau soal pekerjaan atau rezeki itu akan mengikuti. Pendapat Bapak dan Ibu Saya ini sering berbenturan dan mencari jawaban yang sebenarnya untuk apa kuliah atau sekolah. Dan pertanyaan itu bisa datang saat memberi motivasi orang lain, terutama ketika di kelas sedang mengajar.

Sekolah atau kuliah memang memerlukan biaya, baik itu biaya sekolah/kuliah maupun biaya hidup dan transportasi. Zaman Saya sekolah masih belum ada dana BOS, sehingga biaya sekolah masih berupa SPP, UDT,UDB dan sebagainya. Banyak  diantara teman SD atau SMP yang tidak melanjutkan karena alasan biaya. Banyak yang beralasan lebih baik kerja dari pada sekolah mengeluarkan uang atau yang perempuan menikah lebih awal karena bisa mengurangi beban keluarga.

Biaya transpor juga menjadi kendala karena masih jarangnya sekolah lanjutan di daerah waktu itu.  Biaya pergi pulang ke sekolah cukup besar karena harus naik kendaraan angkutan umum beberapa kali. Jalan lain adalah dengan cara tinggal di kosan atau mondok di pesantren yang dekat dengan sekolah. Ke sekolah dengan dilaju atau kosan tetap memerlukan biaya, hanya bila kosan atau mondok bisa menghemat tenaga.

Saya bisa sekolah di SMAN terdekat, tidak perlu naik kendaraan untuk sampai ke sekolah yaitu dengan berjalan kaki.  Setelah lulus SMA barulah muncul kebingungan apakah akan bekerja atau kuliah. Bila bekerja Saya belum punya kemampuan dan relasi, sedangkan bila kuliah harus memikirkan biaya kuliah dan memikirkan apakah orang tua mengizinkan dan mampu membiayai. Bila masuk perguruan tinggi negeri, orang tua akan berusaha membiayai dengan asumsi biaya di Perguruan Tinggi Negeri akan lebih murah. Masalahnya adalah untuk masuk PTN tidak semudah yang dibayangkan, dan dalam proses itu Saya tidak berhasil.

Dari informasi teman, Saya bisa masuk ke PTN dengan seleksi raport untuk masuk program diploma 3.  Ternyata biayanya memang tidak terlalu mahal dan orang tua mendukung baik secara moral maupun materil sehingga lulus. Lulus dari diploma, Saya belum bisa menghasilkan uang karena lamaran kerja hanya sampai tahap wawancara. Hampir setahun menunggu panggilan, Saya memutuskan untuk mengajar di sebuah sekolah swasta.

Setelah mengajar, Saya bisa menyampaikan apa yang Saya pelajari waktu SMP, SMA dan kuliah. Saya semakin bertambah wawasan dalam bidang yang Saya ajar. Mengajar mendorong Saya untuk mencari sumber informasi tentang mendidik siswa dan itu juga telah mendorong Saya melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Niat Saya ini dianggap rekan hanya untuk formalitas untuk menjadi PNS dan mencari gelar saja.

Ternyata jenjang S1 ini disyaratkan untuk mendapatkan sertifikasi di tahap selanjutnya. Begitu juga  syarat untuk mengikuti CPNS untuk guru adalah harus jenjang S1.  Sempat Saya merenung bahwa setelah sarjana adakah bedanya dengan sebelum sarjana. Apakah hanya sekedar gelar sarjana menempel pada nama dan menjadi pajangan. Dan setelah 2 tahun dari kelulusan S1, Saya bisa mengikuti CPNS dan akhirnya berhasil lulus.

Setelah menjadi PNS, Saya berusaha mengamalkan apa yang Saya pelajari untuk pembelajaran yang lebih baik. Ketika mendalami materi untuk pembelajaran terasa sekali kurangnya ilmu yang Saya punya. Saya merasa banyak tertinggal dari teman-teman yang kuliah reguler. Apalagi ada beberapa teman yang mulai mengikuti perkuliahan jenjang s2, mereka lebih maju dalam pendalaman materi dan penggunaan aplikasi pembelajaran.

Dorongan dari melihat teman dan ajakan dari perguruan tinggi untuk mengikuti perkuliahan s-2 mendorong Saya untuk berani mengikuti perkuliahan S2 walau dengan biaya mandiri. Ternyata Saya baru bisa lulus setelah kuliah selama 3 tahun, walaupun teman yang lain bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari 3 tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun