Mohon tunggu...
Jessy Ismoyo
Jessy Ismoyo Mohon Tunggu...

A realist dreamer and an overthinker for short.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sebuah Refleksi mengenai Pendidikan di Indonesia (dalam Perspektif Kristiani)

26 April 2013   14:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   14:33 1958 0 2 Mohon Tunggu...

Tema: Kaum Muda Harapan Bangsa

SEBUAH REFLEKSI MENGENAI PENDIDIKAN DI INDONESIA

oleh: Jessy Ismoyo

Ada Apa dengan Pendidikan di Indonesia?

Jika boleh saya mengutip Boediono, wakil presiden RI, yang mengatakan bahwa pendidikan adalah kunci utama kemajuan bangsa. Demikian tertulis di Republika tiga tahun yang lalu. Bahwasanya, bangsa yang maju dan berkembang bergantung pada sumber daya manusianya. Untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era globalisme saat ini, pendidikan adalah kuncinya. Oleh karena itu, tulisan saya secara umum akan sedikit membahas mengenai pendidikan dan sedikit memaparkan masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini sebagai akar menuju kaum muda harapan bangsa yang menjadi tema dalam buku Orang Muda Bicara Oikumene pada seri ke-6 ini. Secara khusus, akan membahas mengenai budaya baca demi kemajuan literasi Indonesia, yang menurut saya, merupakan masalah yang patut kita beri perhatian lebih.

Kata pendidikan berasal dari kata didik yang artinya adalah suatu proses pengajaran yang mengarahkan generasi muda bangsa menjadi pribadi yang cerdas dan kaya moral. Pendidikan hadir dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian timbul pertanyaan tentang 'kecerdasan' seperti apa yang diusung oleh pendidikan itu sendiri? Opini saya, cerdas adalah ketika seseorang mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapatkannya dalam pengembangan nilai-nilai dan meningkatkan kehidupan sosial masyarakat menjadi pribadi yang solution-oriented dalam menyelesaikan konflik-konflik dalam dinamika masyarakat Indonesia.

Kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini, pendidikan hanya mementingkan kuantitas daripada kualitas. Hal ini terlihat dari motivasi siswa untuk lulus lebih berkiblat pada lulus dengan nilai baik, mendapatkan ijazah yang memudahkan untuk mencari pekerjaan. Hal ini menyebabkan gelar menjadi suatu tolak ukur 'kecerdasan'. Esensi pendidikan pun bergeser. Tujuan untuk mendapatkan 'ilmu' dikesampingkan, metode belajar hanya terpaku oleh bahan-bahan hapalan yang memaksa siswa untuk merapalkannya bagai mantra. Efek samping dari kondisi seperti ini adalah pendidikan dinilai gagal untuk mencapai tujuannya mencerdaskan bangsa. Bangsa ini ibarat dididik dengan pola pikir yang hanya berorientasi pada 'nilai di ijazah' demi kehidupan yang lebih baik, bukan seorang yang cukup kompeten untuk menciptakan ide daripada hanya mengikuti ide yang ada. Satu hal yang saya sadari adalah adanya kasus jual-beli ijazah, calo ujian, dan gelar yang didapatkan dengan mudah, yang menjadi akibat dari pola pikir 'nilai bagus'.

Apa yang mampu terjadi dengan pola pikir 'nilai bagus' ini? Pemalsuan ijazah contohnya. Kasus jual-beli ijazah bukan merupakan sesuatu yang baru, saya angkat satu kasus yang terungkap dua tahun lalu mengenai pemalsuan ijazah yang dilakukan mantan Bupati Sragen Untung Wiyono yang digunakannya dalam pencalonannya dalam pilkada Sragen 2000. Hal ini jelas menciderai praktik dunia pendidikan. (sumber: Solo Post, 2011) Pendidikan seperti berpusat pada ijazah yang menjadi komoditas bagi para penguasa untuk masuk dalam tataran kekuasaan bangsa ini. Mungkin kasus yang saya sampaikan adalah kasus yang telah diketahui publik, bagaimana dengan kasus yang tidak terungkap lainnya?

Pendidikan yang 'Mendidik'

Pada tulisan kali ini, saya hanya memfokuskan pada masalah pendidikan yang cenderung tidak mendidik. Penting bagi generasi muda saat ini memahami perbedaan antara proses belajar dengan proses pengejaran gelar semata. Bagaimana mengubah hal ini? Ada dua hal yang saya sinyalir menjadi masalah dasar dalam pendidikan di Indonesia, tenaga pengajar dan sistem pendidikan yang tidak efektif dan tidak efisien. Tenaga pendidik seringkali tidak menyampaikan tujuan dalam proses pembelajaran. Lebih dari pada itu,  kurikulum yang berubah tiap pergantian menteri pendidikan tanpa memberikan pelatihan bagi para tenaga didik. Hal itulah yang menjadi sebab-musabab ilmu pengetahuan yang disampaikan menjadi tidak efektif. Sedangkan, faktoryang mendasari tidak efektifnya tenaga pengajar adalah kesejahteraan guru yang kurang diapresiasi di Indonesia. Seharusnya, pemerintah menyadari pentingnya tenaga pengajar di Indonesia, guru merupakan profesi yang mulia, dan seharusnya kesejahteraan hidup mereka harus diperhatikan lebih oleh pemerintah. Contoh saja, di daerah pedalaman Kalimantan, ada seorang guru yang mengajar dua kelas sekaligus tapi hanya menerima upah pengajaran untuk satu kelas. Hal ini terjadi karena informasi di pusat tidak menyatakan beliau mengajar di dua kelas. Peristiwa seperti ini cukup disayangkan, mengingat tingginya integritas tenaga didik demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Jika boleh saya mengaitkan dengan sebuah karya sastra, narasi dalam drama The Lesson (La Leçon) karya Eugene Ionesco merupakan potret yang sangat jelas dalam penggambaran dunia pendidikan di Indonesia saat ini. The Lesson adalah sarana untuk mengungkapkan rasa ketidakpuasan Ionesco terhadap metode pengajaran di Prancis pada pertengahan abad ke-20. Drama ini menceritakan seorang murid yang datang ke rumah gurunya. Ia ingin belajar untuk menempuh ujian kelulusan. Mulanya, interaksi kedua orang itu berjalan dengan baik. Namun tidak lama setelah pelajaran berlangsung, sang murid mulai kesulitan untuk berkonsentrasi karena tidak mengerti apa yang diajarkan oleh sang guru, pelajaran yang diberikannya semakin sulit. Sang murid berpura-pura sakit gigi, tapi sang guru bersikap acuh tak acuh, pelajaran tetap dijalankan. Akan tetapi, sang murid mencari cara lainnya agar kelas itu dihentikan. Sang guru kesal, ia pun mengambil pisau dan membunuh sang murid. Hikmah yang bisa kita dapatkan dari cerita ini adalah bagaimana pentingnya seorang tenaga pendidik terkait perannya dalam pendidikan. Sang guru terlalu banyak memberikan pelajaran dalam waktu yang singkat. Ia tidak peduli ketika sang murid kelihatan tidak mengerti dan tidak lagi tertarik dengan pelajaran yang diberikannya. Alangkah lebih baik apabila sang guru mendengarkan keluhan muridnya dan mencari jalan keluar bersama supaya proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik dan sehat. (?) Sehingga, murid dapat memahami esensi 'belajar' itu sendiri. Terjadikah hal ini pada kalian?

Pendidikan: Harapan Bangsa?

Jika dikaitkan antara pendidikan dengan kita sebagai generasi muda kristiani, mari kita mengacu pada ayat-ayat di Alkitab berikut:


  • Efesus 6:4, "Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."
  • Amsal 8:13, "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci pada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."
  • Amsal 9:10, "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal yang mahakudus adalah pengertian."

Demikian dipaparkan dengan jelas dalam Alkitab bahwa hikmat Allah adalah penting untuk hidup dalam Kristus. Hikmat didapatkan lewat pendidikan. Karena melalui pendidikanlah, kita akan mengalami perubahan rohani, pengenalan Allah yang merupakan hikmat sejati, dan mengarahkan kita untuk membenci kejahatan dan takut akan Tuhan. Tuhan juga telah menjelaskan bahwa pendidikan memegang peranan penting, dan kita sebagai anak Tuhan wajib menjadikan pendidikan menjadi wadah untuk mengenal Tuhan lebih dekat lagi. Sebagai generasi muda Kristiani, adalah kewajiban kita untuk ikut terlibat dalam meningkatkan sistem pendidikan ini. Kita harus aktif dalam mencari solusi dari permasalahan pendidikan yang saya paparkan di atas tadi. Pendidikan, dalam hal ini pendidikan di Indonesia, adalah tanggungjawab yang Tuhan berikan pada kita.

Masuk pada solusi, saya akan bicara secara khusus pentingnya peningkatan budaya baca sebagai salah satu solusi pendidikan di Indonesia. Melihat hubungan antara orientasi pendidikan yang lebih mengarah pada  'nilai bagus' daripada esensi 'proses belajar', sehingga siswa diberikan buku pelajaran dan metode pengajaran yang sangat 'kaku'. Saya melihat adanya missing link pada proses pemahaman, baik dari siswa-siswa mengenai 'belajar', tenaga pengajar, dan sistem pendidikan di Indonesia. Jika saya telaah lebih jauh, hal ini terjadi karena rendahnya budaya baca di Indonesia. Bukti kuat sekaligus sungguh mengkhawatirkan, saya peroleh dari survei Progress in International Reading Literacy (PIRS) 2011, yang dilaksanakan lima tahunan, melaporkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-42 dari 45 negara dengan nilai rata-rata 428. Penelitian dilakukan pada siswa kelas IV SD. berada di bawah Indonesia Qatar, Oman, dan Maroko. Mengenaskan bukan?

Budaya baca bukan hanya bertujuan untuk mengurangi buta aksara di Indonesia, tapi juga meningkatkan awareness kita tentang kecintaan akan pendidikan itu sendiri. Bagaimana pendidikan seharusnya membuat kita mencintai 'ilmu pengetahuan', sehingga kita memiliki 'rasa ingin tahu' akan sesuatu. Buku adalah jendela ilmu dan dari bukulah kita akan mendapatkan jawaban dari kehausan kita akan ilmu pengetahuan. Seorang Sutan Sjahrir pun mengatakan 'dengan buku, saya bebas' menggambarkan bahwa buku dan informasi yang berada di dalamnya mampu membawa kita belajar dan memahami bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa dapat melakukan sesuatu berdasarkan minat dan kapasitasnya. Perlu dicatat bahwa tiap-tiap siswa memiliki takaran yang berbeda, dan tugas para tenaga didik lah untuk memilih pendekatan yang dapat memfasilitasi karakter siswa yang berbeda. Membaca buku adalah salah satu jawabannya. Buku adalah jendela yang membuat kita melihat lebih jauh ke luar, to think outside the box.

Pertanyaan kembali pada kita sebagai generasi muda Indonesia secara umum, dan pemuda Kristiani secara khusus: apa yang dapat kita lakukan? Saya mencoba menjawab hal ini dengan singkat dan padat. Untuk meningkatkan minat baca, pemuda dapat membuat rumah baca dalam bentuk perpustakaan kecil. Saya lihat hal ini sungguh membawa dampak nyata pada cikal-bakal pertumbuhan minat baca pada anak-anak. Mungkin saya akan membawa solusi pada suatu gerakan kecil yang beberapa waktu lalu dilakukan oleh rekan-rekan Gerakan Pemuda. Tanpa memiliki tendensi selain berbagi kasih dan berbagi pengetahuan, saya dan beberapa rekan pemuda lainnya memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda pada natal kami tahun 2012 lalu. Kami memutuskan untuk merayakannya melalui program Rumah Pintar Ciangsana (RPC) yang bekerjasama dengan GKI Kota Wisata. Kegiatan rumah baca ini tidak membawa embel-embel nama gereja kami karena daerah di mana rumah baca itu didirikan adalah daerah dengan ajaran Islam yang kuat. Dengan menanggalkan identitas kami sebagai pemuda gereja, kami sebagai pemuda dengan semangat kasih Kristus, membuat program pengajaran pendek di sana. Kami mengajak beberapa teman muslim juga, dengan tujuan bahwa Tuhan mengajarkan untuk berbuat baik tanpa memandang ras, agama, dan etnis. Tujuan kami hanya mengajar. Tidak lebih.

RPC adalah rumah baca yang terletak di belakang Kota Wisata, yang merupakan asuhan dari Pemuda Kota Wisata. Kegiatan ini merupakan dukungan kami pada kegiatan Pemuda GKI Kota Wisata akan program Rumah baca yang bertujuan untuk memfasilitasi adik-adik yang kurang beruntung agar mendapatkan akses buku-buku pelajaran dan buku cerita dengan mutu baik secara mudah. Bentuk bantuan kami sederhana, kami mencanangkan program mengajar yang berjalan selama sebulan, empat kali, yang diadakan tiap minggu. Minggu pertama pengajaran bertema kesenian, minggu kedua bertema pengetahuan sosial, minggu ketiga bertema lingkungan hidup, dan minggu keempat bertema bahasa Inggris. Kegiatan ini kami lakukan agar anak-anak setempat dapat bermain sambil belajar dan sebagai 'faktor yang menarik' mereka, agar tetap berkunjung ke Rumah Baca untuk menghabiskan soremembaca buku. Kegiatan ini ditutup dengan mengajak anak-anak untuk karya wisata ke TMII.

Mungkin apa yang kami lakukan belum seberapa, mungkin yang kami lakukan hanya sebuah permulaan, dan besar harapan kami untuk melanjutkan kegiatan ini atau setidaknya menularkan semangat yang sama pada pemuda lainnya untuk melakukan perubahan besar dalam pendidikan Indonesia. Saya pribadi, merasakan kasih Tuhan yang luar biasa dengan perbuatan sederhana membantu anak-anak di Rumah Pintar Ciangsana. And I want you to experience the same, bagaimana kasih Tuhan terasa ketika kita berbuat baik pada sesama (untuk refleksi kali ini, fokus tentang pendidikan tentunya). Saya tutup tulisan ini dengan mengajak rekan-rekan untuk membuat program apa saja sebagai satu tindakan nyata yang dapat mendukung minat baca demi pendidikan. Mungkin kumpulan tindakan kecil ini mampu mengubah Indonesia? Mungkin saja. Tidak ada yang mustahil ketika kita melakukannya dalam nama Tuhan Yesus. Bukan begitu? Tuhan berkati kita semua.

Daftar acuan:

http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/

http://nces.ed.gov/surveys/pirls/

http://hafismuaddab.wordpress.com/tag/minat-baca/

http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/23/15253241/Daoed.Joesoef.Pendidikan.Kunci.Kemajuan.Bangsa

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/02/07/103414-pendidikan-kunci-utama-kemajuan-bangsa

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x