Mohon tunggu...
Islah oodi
Islah oodi Mohon Tunggu... Wong Ndeso

Penikmat kopi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Berpikir Baik Walaupun pada Orang Fasik

22 November 2019   10:14 Diperbarui: 22 November 2019   10:27 10 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berpikir Baik Walaupun pada Orang Fasik
Pixabay.com

Kematian adalah hak dimana setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kematian tak ada yang tahu kapan dan bagaimana seseorang mati. Namun, apapun mati hanya ada dua kepastian; Khusnul khatimah (baik pada akhirnya) atau Su'ul khatimah (buruk pada akhirnya). Dan mati Khusnul khatimah ataupun Su'ul khatimah juga tak dapat diprediksi oleh manusia. Maka dari itu dianjurkan bagi saat ada orang yang meninggal kita berprasangka baik terhadap si mayit tak peduli bagaimana perilaku mayit semasa hidupnya.

Diceritakan dalam kitab Irsyadul 'ibad  karangan Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin al-Marbari. Seorang ulama asal Malabar, India. Cerita ini termuat pada Pasal fi akli malal yatim (Memakan harta anak yatim), shahifah; 83.

Pada zaman dahulu di Basrah, seorang lelaki tukang mabuk meninggal dunia. Namun istrinya tidak mendapati seorang pun yang sudi membantunya untuk mengurus mayat lelaki tukang mabuk tersebut. Masyarakat sekitar karung benci karena si mayit adalah orang sang sangat rusak moralnya.

Hingga istrinya terpaksa membayar tukang pikul untuk membawa ke mushola. Sesampainya di mushola tidak ada satupun orang yang mau untuk menshalati, akhirnya si mayit tak dishalati. Lalu dibawalah mayat ke hutan untuk dikubur, didekat hutan tersebut terdapat bukit yang mana pada bukit tinggallah seorang zahid (ahli zuhud).

Tanpa diduga si zahid tiba-tiba turun dari pertapaannya guna menshalati mayit lelaki tukang mabuk yang rusak moralnya. Berita si zahid yang menshalati langsung terdengar oleh warga sekitar. Para warga pun akhirnya ikut menshalati.

Orang-orang merasa takjub dan salah satu dari mereka bertanya pada si zahid
"Mengapa engkau turun untuk menshalati mayit ini?"
"Aku diperintahkan turun ke tempat ini karena ada mayat seseorang yang dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah, sedang tak ada di sisi mayat ini kecuali hanya istrinya yang mendampingi," jawab si Zahid.

Masyarakat yang menyaksikan semakin heran mendengar jawaban si zahid. Kemudian si zahid bertanya pada istri mayat tersebut
"Apa yang sering suamimu lakukan?"
"Sebagaimana yang diketahui oleh orang banyak, semasa hidupnya dia (mayit) hanya sibuk minum khamar dan mabuk," jawab si istri.

Si zahid masih melanjutkan pertanyaan
"Apakah amalan baiknya?"

"Tidak ada, hanya saja bila dia ia sadar di waktu subuh segera mengganti pakaian dan berwudu. Lalu shalat subuh, kemudian kembali lagi ke tempat khamarnya. Tapi, hanya saja di rumah tidak pernah kosong dari satu atau dua anak yatim yang disayangi melebihi dari anak kandungnya. Dan kadang bila ia sadar lalu menangisi sambil berkata : 'Ya Tuhan di bagian manakah dari jahanam yang akan Engkau isi dengan penjahat ini' (yakni dirinya sendiri)."

Membaca cerita di atas tentunya kita sebagai umat Islam tahu bahwa akhir hidup seseorang tak ada yang tahu. Alangkah baiknya khusnudzon (berprasangka baik) dijadikan sebagai 'kacamata' kita menilai orang lain yang masih hidup ataupun yang telah mati. Sebab tak ada yang tahu akhir kehidupan seseorang. Bisa jadi ia yang semasa hidup sering melakukan kejahatan sempat taubat sebelum ajal menjemput. Dan bisa saja pada saat hidup tekun beribadah, namun mati dalam keadaan su'ul khatimah, misalnya kisah si ahli ibadah barsesa. Hidup di dunia semua serba mungkin, dan masalah hidayah hanya milik Allah Subhanahu wa ta'ala. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa meminta mati khusnul khatimah.

Ihdinasshiratal mustaqim.

Wallahu a'lam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x