Iskandar Mutalib
Iskandar Mutalib pengabdi Ilmu

Pengabdi Ilmu

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Mari Gunakan Paradigma Moral untuk Melihat Kasus Baiq Nuril

14 November 2018   08:18 Diperbarui: 14 November 2018   11:06 1746 10 5
Mari Gunakan Paradigma Moral untuk Melihat Kasus Baiq Nuril
Pohon keadilan

APA yang salah dengan hukum di Indonesia. Mengapa pengungkap perilaku mesum Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi terpidana. Sedangkan ASN pelaku obrolan mesum melenggang bebas. Celakanya lagi ASN tersebut naik pangkat. Wajar kalau kemudian tersiar anekdot, kalau ASN mau naik pangkat berbuatlah asusila. Baik asusila ucapan maupun perbuatan. Pasti karir meroket. 

Kasus Baiq Nuril bukanlah yang pertama di Indonesia. Tapi bukan berarti mata hati nurani kita buta melihat kasus itu. Logika kita tersumbat norma hukum yang kaku. Justru jangan sampai orang seperti Baiq Nuril yang ingin melindungi diri dari perbuatan asusila atasannya pada waktu itu malah menjadi korban sayatan pisau hukum. 

Mari kita lihat apa yang dialami Baiq Nuril pada tahun 2012, mengapa ia kemudian ditetapkan menjadi terpidana. 

Media online detik.com mewartakan bahwa kasus Baiq Nuril terjadi pada tahun 2012 lalu. Kasus ini mulai mencuat ke publik tahun 2016 lalu.

M yang kala itu menjabat Kepsek SMAN7 Mataram, memperkarakan Baiq Nuril yang saat itu berposisi sebagai staf honorer Tata Usaha (TU) bagian keuangan di sekolah yang sama.

Baiq Nuril dilaporkan karena merekam percakapan dirinya dengan M melalui sambungan ponsel. Kepsek M waktu itu bercerita tentang hubungan badannya dengan wanita lain yang merupakan atasan Baiq Nuril di bagian keuangan SMAN 7 Mataram.

Akibat tindakannya tersebut, Baiq Nuril di-nonjobkan dari SMAN 7 Mataram. Baiq juga dilaporkan ke pihak kepolisian karena dianggap menyebarkan rekaman percakapannya dengan M.

Sayangnya pengakuan Baiq Nuril bahwa dirinya merekam percakapan tersebut hanya untuk melindungi dirinya karena merasa dilecehkan secara seksual. Tak mengunggah majelis kasasi MA yang diketuai Hakim Agung Sri Murwahyuni, dengan Anggota Majelis Hakim Agung Maruap Dohmatiga Pasaribu dan Hakim Agung Eddy Army.

Baiq Nuril pun divonis 6 bulan penjara di tingkat MA padahal di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, pada Juli 2017, telah membebaskan Baiq Nuril dari segala jerat hukum.  

Padahal, bila para wakil Tuhan yang memberi vonis kepada Baiq Nuril membaca tulisan Prof Satjipto Rahardjo berjudul 'Melupakan Hukum, Memedulikan Hati Nurani' maka vonis tersebut kemungkinan kecil dijatuhkan. 

Kalau pun Prof Satjipto masih hidup dan melihat kasus Baiq maka beliau akan berkata hukum harus menggunakan paradigma ganda. Artinya, negara hukum kita tidak hanya menggunakan 'paradigma peraturan', tetapi juga 'paradigma moral'. 

Tentu saja yang dimaksud paradigma moral adalah qalbu dalam ajaran Islam. Menurut Imam Al Ghazali, qolbu dapat diartikan menjadi dua. Pertama, merupakan sepotong daging yang terletak di dada manusia sebelah kiri. Kedua, sesuatu yang bersifat halus, berhubungan dengan ketuhanan dan bersifat ruhaniah.

Itu artinya, sebelum membuat keputusan terkait Baiq Nuril, para wakil Tuhan dapat meminggirkan peraturan pasal 27 ayat 1 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dan, lebih mengedepankan hati dalam mengambil keputusan.

Sekalipun, Mahkamah Konstitusi (MK) sudah membuat ketentuan bahwa bukti rekaman tidak bisa dijadikan barang bukti. Karena MK telah membatalkan pasal 5 ayat 1 dan ayat 2, serta pasal 44 huruf b UU nomor 11 Tahun 2008 tentang UU ITE.  

Dalam pasal tersebut menyebutkan bahwa informasi atau dokumen elektronik merupakan salah satu bukti penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan sah. Intinya semua dibatalkan.

Tapi ya sudahlah. Para wakil Tuhan di MA telah mengambil putusan. Kita tinggal berharap kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberi rasa keadilan kepada Baiq.

Tentu dengan mempertimbangkan isi rekaman mesum sebagai kajian utama dalam mengambil keputusan. Pasalnya, para wakil Tuhan lebih dominan menggunakan paradigma peraturan ketimbang paradigma moral. 

Ingat, Baiq Nuril merekam obrolan mesum atasannya dengan kepala sekolah bukan tanpa alasan. Ia mengalami ancaman seksual dari pelapor sehingga dirinya berani mengambil keputusan untuk merekam obrolan mesum terstersebut. Lagian yang menyebar obrolan mesum tersebut bukan Baiq, melainkan rekannya.  

Poinnya adalah, Baiq dalam posisi membela diri, posisi bertahan dan posisi tidak menguntungkan. Karena mengalami tekanan dari atasan. Baik itu atasan langsung maupun atasan lebih tinggi lagi. 

Lagian tidak etis seorang kepala sekolah dan bendahara sekolah ngobrol mesum di waktu jam sekolah. Obrolan mesum tidak akan terjadi jika dua orang yang menjadi lawan bicara merupakan orang yang tidak pernah berpikir maupun berbuat mesum. Obrolan akan terputus dengan cepat. Karena masing-masing memahami norma dan menjunjung tinggi nilai agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2