Kotaksuara

Mengintip Gaya Elegan Jokowi Rayu Demokrat

11 Maret 2018   22:14 Diperbarui: 11 Maret 2018   22:28 698 0 0

PERNYATAAN Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa dirinya seorang demokrat dihadapan ribuan kader Partai Demokrat yang tengah melangsungkan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di gedung Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat (Jabar) sungguh luar biasa. 

Benar-benar gaya politik yang khas milik Jokowi. Walaupun pernyataan tersebut hanya dianggap oleh peserta Rapimnas sebagai  lelucon kecil yang bertujuan menghibur dan menyedot perhatian peserta Rapimnas. 

Namun, sesungguhnya memiliki sisipan pesan penting untuk partai yang digawangi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apalagi, Jokowi menegaskan bahwa yang membedakan dirinya dengan SBY cuma satu, ia seorang demokrat dan SBY, Ketua Umum Partai Demokrat.

Jokowi memang benar-benar demokrat sejati. Ia paham benar bagaimana menyerap aspirasi politik yang berkembang di tengah masyarakat. Sebagai sebuah partai yang masuk lima besar, Partai Demokrat bisa berbuat banyak dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, termasuk mengusung lawan sepadan bagi Jokowi. Itu sangat disadari mantan Gubernur DKI Jakarta itu. 

Maka dicarilah cara terbaik yang dapat mengikat Partai Demokrat. Salah satunya dengan membuat ia dan Partai Demokrat satu hati dalam menghadapi Pilpres 2019. Memiliki kawan banyak lebih baik dari pada memiliki satu musuh, begitu kira-kira pepatah orang bijak yang coba dijalankan Jokowi. 

Skenario politik bisa berubah 100 derajat. Begitupun sebaliknya, tergantung bagaimana aktor politik memainkan peran dan strategi untuk mencapai tujuan. Tujuan Jokowi hadir dalam Rapimnas Partai Demokrat sudah jelas, bersilaturahim dan mencari kawan koalisi (kawan aliansi kalau menggunakan bahasa SBY).

Kehadiran tidak cukup untuk merayu para petinggi partai yang memiliki 60 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) itu. Maka dicarilah bahasa yang menunjukan bahwa Jokowi sangat ingin bermitra dengan Partai Demokrat dalam Pilpres 2019. Lahirlah, "Saya seorang demokrat."

Makna yang ditarik dari pernyataan Jokowi "Saya seorang demokrat" sangat banyak. Pertama, Jokowi dan Partai Demokrat memiliki hubungan batin. Sama-sama menjadi katalisator berjalannya demokratisasi di Indonesia. Kedua, Partai Demokrat merupakan mitra koalisi yang sangat ditunggu kehadirannya. Ketiga, Jokowi membutuhkan Partai Demokrat.

Ketiga pesan tersebut disampaikan sangat epik oleh Presiden Jokowi kepada Presiden ke VI RI, SBY. SBY pun telah menangkapnya dengan baik lewat senyum dan tawa kecil waktu mendengar pengakuan Jokowi bahwa dirinya seorang demokrat.

Yang menjadi hambatan kini adalah, apakah Partai Demokrat akan memberikan dukungan kepada Jokowi dengan pakat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon wakil presiden (Cawapres) atau malah memberikan cuma-cuma tiket dukungan. Baru setelah terpilih kembali, Jokowi harus mengembalikan tiket gratis tersebut dengan jabatan gratis dalam kabinet.

Kalaupun Jokowi benar membutuhkan kekuatan Partai Demokrat, pertanyaan selanjutnya adalah, kemungkinan besar Jokowi berniat membuat Ketum Partai Gerindara Prabowo Subianto sebagai capres jomblo (capres tanpa dukungan partai lain dan tanpa cawapres). 

Kalau begitu skenarionya maka Jokowi benar-benar lihai memainkan peran politiknya sebagai leader. Membekukan lawan sepadan tidak secara langsung. Tapi mengambil seluruh tiket Pilpres 2019. 

Tiket tersebut berada di tangan sepuluh partai kontestan Pemilu 2009-2014, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Gerindara dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Itu artinya kemungkinan besar tinggal koalisi Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tetap ngotot melawan Jokowi. Sekarang tinggal menunggu manuver Prabowo Subianto dan Sohibul Iman. Tabik!