Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Tampil Meyakinkan, Kebangetan Jika Gibran Kalah

7 November 2020   07:10 Diperbarui: 7 November 2020   07:28 756 56 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tampil Meyakinkan, Kebangetan Jika Gibran Kalah
dok. solopos.com

Jumat malam (6/11/2020) kemarin, TVRI menyiarkan secara langsung acara "Debat Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surakarta". Kebetulan, saya yang memang sering mengikuti acara debat calon kepala daerah yang akan bertarung di Pilkada Serentak, 9 Desember 2020 mendatang, menonton tayangan tersebut.

Mengingat demikian banyak provinsi, kabupaten dan kota yang akan menyelenggarakan pilkada, Surakarta seolah diberikan keistimewaan, bisa tampil di televisi nasional.  Jika menggunakan prinsip kesamaan kesempatan bagi semua daerah, jelas tidak akan cukup waktu tayang yang tersedia.

Bisa jadi karena adanya nama Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo, yang menjadi salah satu dari dua calon wali kota di pilkada Solo, makanya pihak stasiun televisi tertarik menayangkan siaran langsung. Nama Gibran diduga akan menjadi nilai jual agar rating acara debat jadi tinggi. Selain TVRI, Metro TV juga menayangkan acara yang sama.

Debat itu sendiri mengambil tempat di The Sunan Hotel, Solo. Gibran berpasangan dengan Teguh Prakosa sebagai calon wakil wali kota. Adapun pasangan yang jadi pesaingnya adalah Bagyo Wahyoni dan FX Supardjo. 

Gibran tampil meyakinkan dengan suara cukup lantang, intonasi yang jelas, gerak tubuh yang mendukung setiap ucapannya, dan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Bahkan gaya bicaranya, menurut penilaian subjektif saya, lebih menarik ketimbang Jokowi. Sedangkan Bagyo yang memang berasal dari "orang biasa", penampilannya pun sangat bersahaja.

Pilkada Solo terselamatkan dari calon tunggal vs kotak kosong karena banyak sekali partai pengusung Gibran-Teguh, setelah Bagyo mendaftar dari jalur independen. Sebuah kejutan bila melihat latar belakang Bagyo yang seorang penjahit baju dan FX Subardjo yang seorang Ketua RW di sebuah kampung, berani menantang putra presiden.

Tapi, soal nasib, siapa tahu? Bisa saja terjadi kejutan. Justru dengan segala kesederhanaan, berbicara dengan bahasa orang awam tanpa bunga-bunga istilah ilmiah yang sulit dipahami publik, menjadi daya tarik bagi Bagyo.

Namun, setelah melihat acara perdebatan tadi malam, menurut saya, Gibran akan menang mudah. Rasanya kebangetan, jika sampai kalah. Tidak saja karena statusnya putra orang nomor satu di negeri ini serta didukung banyak partai, tapi memang Gibran tampil meyakinkan sekali.

Gibran sebagai anak muda terlihat mengedepankan soal pemanfaatan teknologi informasi. Masalah kewirausahaan bagi kaum milenial juga mendapat perhatian khusus. Jargon-jargon IT seperti soal disrupsi dan revolusi industri 4.0, disampaikan oleh Gibran dengan lancar. Tentu juga masalah aktual terkait penanganan Covid-19 dan meminimalisir dampaknya ke perekonomian masyarakat, mendapat perhatian utama Gibran.

Sebuah gagasan yang sempat disampaikan Gibran adalah akan membuat program bike sharing atau berbagi sepeda guna menekan emisi gas rumah kaca dan polusi udara. Selain itu, Gibran akan mendorong warga Solo menggunakan transportasi publik Batik Solo Trans dan angkutan feeder yang memiliki enam koridor.

Lawannya, Bagyo, sengaja mengemukakan bahwa ia betul-betul wong cilik. Maksudnya mungkin ingin megungkapkan, bagaimana aspirasi wong cilik yang sesungguhnya, ia lah yang paling tahu. Bagyo juga mengkritik sebagian kelompok milenial yang kurang tata krama dan melupakan adat budaya ketimuran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN