Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Musisi Indonesia Makin Getol Bikin Lagu Berbahasa Inggris

7 Oktober 2018   14:52 Diperbarui: 7 Oktober 2018   17:51 751 7 3
Musisi Indonesia Makin Getol Bikin Lagu Berbahasa Inggris
dok.metrotvnews.com

Kalau anda mendengar lagu bernuansa kekinian dengan lirik yang sepenuhnya berbahasa Inggris dan dilafazkan secara fasih, jangan buru-buru menganggap itu lagu barat dalam arti diciptakan oleh musisi Amerika Serikat, Inggris atau dari negara lain yang warganya sehari-hari berbahasa cas cis cus itu.

Sebaiknya anda mencari informasi tentang judul lagu, penyanyi serta pencipta dari lagu "barat" tersebut. Jangan heran, bila beberapa lagu berbahasa Inggris yang anda dengar dari radio saat kendaraan anda terjebak di tengah kemacetan ibukota, ternyata seratus persen hasil karya musisi tanah air. Maksudnya pencipta dan penyanyinya adalah orang Indonesia.

Beberapa contoh adalah lagu "Keep Being You" yang dibawakan Isyana Sarasvati, Silver Rain (Rendy Pandugo), All Good (Dipha Barus), When You Love Someone (Endah & Resha), Talk Chill Sleep (Rayi Putra), dan masih banyak lagi bila daftar ini ingin diperpanjang.

Bahkan di tahun ini penyanyi Dipha Barus bisa dikatakan "Juara umum" dalam blantika musik pop Indonesia, setelah mendapat tiga penghargaan pada ajang bergengsi  "Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2018" yang diadakan akhir September lalu.

Dipha menyabet penghargaan pada kategori Rap / Hip Hop terbaik lewat karyanya yang berjudul "Decide", sementara lagunya yang lain "Money Honey" meraih dua penghargaan sekaligus, yakni pada kategori Karya Produksi Elektronika Terbaik, dan Karya Produksi Terbaik Terbaik atau semacam best of the best.

Nah, mari kita bahas, kenapa ya sekarang ini kelihatannya para musisi muda kita semakin getol menciptakan lagu dalam bahasa Inggris? Apakah mereka bisa disebut kurang respek terhadap bahasa Indonesia yang sejak Sumpah Pemuda tahun 1928 telah diikrarkan sebagai bahasa pemersatu?

Kita tidak usah buru-buru menilai mereka kurang nasionalis. Satu hal yang jelas, para musisi yang sekarang berusia sekitar 20-an tahun, atau paling tinggi di awal 30-an tahun, lingkungan dan gaya hidupnya berbeda jauh dari musisi yang lebih senior.

Kemudahan berselancar di dunia maya yang membuat referensi musik mereka sangat terpengaruh oleh lagu berlirik bahasa Inggris, merupakan salah satu faktor pendukung.

Kemudian, para musisi tersebut banyak yang pernah bersekolah di luar negeri, atau sekolah berlabel internasional di dalam negeri. Ataupun kalau mereka "hanya" menuntut ilmu formal di sekolah dengan pengantar bahasa Indonesia, secara informal mereka gampang menyerap bahasa Inggris dari kegiatan di dunia maya itu tadi.

Bahkan, tanpa bermaksud menyombongkan diri, ada musisi yang mengatakan bahwa ia lebih gampang menuangkan idenya dalam bahasa Inggris ketimbang dalam bahasa Indonesia.

Alasan lain yang mungkin tidak diungkapkan secara eksplisit oleh musisi yang menciptakan lagu berbahasa Inggris, adalah tertanamnya semangat mereka untuk bisa go international. Mereka ingin dikenal tidak sebatas Indonesia saja, namun juga di banyak negara lain.

Maka, kedudukan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling banyak penuturnya di dunia, dan berpredikat sebagai bahasa yang dipakai dalam pergaulan antar bangsa, tentu sangat diperlukan. 

Namun hal itu sebetulnya tidak mutlak, mengingat ada lagu-lagu berbahasa Hindi dari penyanyi India yang dikenal secara internasional. Demikian juga lagu Mandarin atau Jepang, beberapa sangat populer di negara kita.

Tentang go international, telah sejak dahulu menjadi impian banyak penyanyi kita. Namun ternyata sangat tidak gampang mewujudkannya. Alhasil penyanyi kita banyak yang puas bila sudah pernah manggung di luar negeri di negara yang banyak warga Indonesianya, seperti Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

Beberapa grup band era jadul juga punya cara dengan menyelipkan satu lagu berbahasa Inggris dalam album mereka. Koes Plus di tahun 1970-an punya hits berjudul "Why Do You Love Me" yang waktu itu sempat beberapa minggu masuk 10 lagu terpopuler di Australia. Seperti itu pula taktik yang dipakai The Mercy's dan Panbers. Namun tetap saja, upaya untuk go international hanya mentok sebatas itu.

Tapi, dengan upaya gigih dan rela "hijrah" ke Perancis, Anggun Cipta Sasmi, menjadi penyanyi Indonesia yang akhirnya betul-betul sukses dalam percaturan musik pop dunia. Harus diakui, Anggun banyak dibantu musisi asing dalam mewujudkan cita-citanya.

Sekarang Agnez Mo tengah merintis jalan seperti Anggun, dengan lebih banyak tinggal di Amerika Serikat. Sejumlah musisi top berhasil diajak berkolaborasi oleh Agnez.

Nah, di era dunia yang semakin kecil karena terhubung oleh internet, sekaranglah saatnya musisi muda kita bisa mewujudkan mimpinya go international, tanpa perlu hijrah. Semuanya cukup dilakukan dari Indonesia.