Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Jangan Menangis Timnas U-16, Berlatihlah Lebih Keras

2 Oktober 2018   20:08 Diperbarui: 2 Oktober 2018   23:21 3327 14 8
Jangan Menangis Timnas U-16, Berlatihlah Lebih Keras
Pemain menangis seusai laga (Foto: AFC/Adam Aidil Padali)

Mimpi pemain sepak bola remaja kita untuk tampil di Piala Dunia, untuk sementara harus terkubur lagi, setelah kemaren timnas U 16 dikalahkan Australia 2-3. Padahal Piala Dunia serasa di depan mata, karena hingga turun minum kita masih unggul 1-0.

Jujur, harus diakui bahwa timnas memang kalah secara kualitas bila melihat penampilannya kemaren (1/10) di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia. Jadi bukan karena tidak beruntung.

Justru Australia seharusnya bisa menang lebih dari 3-2. Paling tidak, ada dua kali tendangan penyerang mereka yang menghantam tiang gawang timnas U 16 yang dikawal Ernando. 

Australia bermain efektif, sehingga mencetak gol hanya soal waktu saja. Setelah Australia menyamakan skor 1-1, mereka tetap menyerang, akibatnya Indonesia terus ditekan dan hanya berharap dari serangan balik. 

Ironisnya, begitu pemain kita dapat mementahkan serangan lawan, bola langsung dilambungkan jauh ke depan, bukan mencoba bermain bola-bola pendek. Postur tubuh lawan yang jauh lebih tinggi memudahkan mereka menghentikan umpan panjang pemain kita.

Menjadi pertanyaan, apakah main panjang begitu merupakan taktik yang diinstruksikan pelatih Fakhri Husaini, atau kreasi pemain yang kurang sabar bermain dari kaki ke kaki seperti yang sukses diterapkan saat menggulung Iran 2-0 di babak penyisihan grup.

Tapi ya tak perlu disesali. Para pemain bertangisan di lapangan seusai laga. Boleh saja bersedih. Namun setelah ini kobarkan lagi semangat untuk berlatih lebih keras.

Masa depan yang cerah sudah menunggu mereka, bila mampu lebih berkembang lagi. Siapa tahu saat kelak mereka jadi skuad timnas U-19, mimpi menembus Piala Dunia bisa terwujud.

Rasanya bukan basa basi bila pelatih Australia memprediksi masa depan timnas U 16 akan cemerlang dan layak tampil di Piala Dunia. Luis Milla, pelatih timnas senior, juga memberikan pendapat senada (Kompas.com 2/10).

Fakhri Husaini pernah mengkritisi pertanyaan wartawan tentang sikapnya atas tuntutan masyarkat yang membebani timnas U-16 agar sukses menembus ajang Piala Dunia demi martabat bangsa.

Menurut Fakhri, martabat bangsa harusnya dipikul timnas senior. Adapun misi pembinaan sepak bola remaja bukan untuk mengincar juara, tapi menyiapkan bibit unggul agar pada waktunya kita punya timnas senior yang kuat.

Tapi masyarakat yang sudah tidak sabar lagi melihat tampilnya pemain kita di Piala Dunia, tentu juga bisa dipahami bila harapan tersebut ditarok di pundak pemain remaja. Soalnya untuk level senior, sekadar jadi yang terbaik di Asia Tenggara saja, sulitnya setengah mati.

Jadi sebetulnya masyarakat cukup realistis setelah timnas U 16 menjuarai Piala AFF U 16. Kemudian berlanjut dengan menggasak Iran 2-0 di awal Piala Asia U 16 yang sudah disinggung di atas.

Bahkan berharap pada timnas U 16 rasanya lebih realistis ketimbang berharap pada timnas U 19 yang dilatih Indra Sjafri yang minggu lalu kalah 0-3 dari Tiongkok dalam laga uji coba. 

Timnas U 19 sekarang juga tengah digembleng sebelum tampil di Piala Asia yang juga sekaligus jadi ajang memperebutkan tiket ke Piala Dunia U 20 tahun depan di Polandia.

Masalahnya bagi timnas U 16 adalah konsistensi permainan yang belum muncul. Inilah yang perlu diasah lebih keras lagi. Makanya tim ini diharapkan masih bersatu untuk berbagai turnamen sesuai usia mereka di tahun-tahun mendatang.

Pelatih Fakhri pun diharapkan tetap diberi kepercayaan oleh PSSI. Namun tanpa mengurangi penghargaan atas kontribusinya, Fakhri juga perlu menambah ilmu kepelatihannya. 

Sekadar berandai-andai, anggap saja kemaren timnas U 16 berhasil mengalahkan Australia, lalu dipuja puji karena mengibarkan merah putih di Peru, tempat bakal berlangsungnya Piala Dunua U 17 tahun depan. 

Tapi saat beberapa tahun kemudian, mereka tampil melempem di level senior, maka mereka hanya sekadar kenangan manis sekilas saja. Atau bahkan mungkin gampang terlupakan.

Maka biarkan pemain remaja kita menangis sejenak. Setelah itu segera tegakkan kepala dengan berlatih lebih keras. Termasuk pelatihnya harus melatih dengan lebih keras dan lebih kreatif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2