Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Artikel Utama

Turunnya Pamor Pasar Barang Antik Jalan Surabaya

3 Februari 2018   22:19 Diperbarui: 4 Februari 2018   15:05 1996 8 4
Turunnya Pamor Pasar Barang Antik Jalan Surabaya
Dok.pribadi

Nama jalannya Jalan Surabaya, tapi terletak di Jakarta Pusat. Nah di sepanjang salah satu sisi jalan ini, yang terkenal sebagai pasar barang antik di ibukota, berjejer sekitar 200 kios yang buka sepanjang siang sampai sore hari.

Sebagian besar kios tersebut menyediakan berbagai barang antik atau barang yang relatif baru tapi sengaja dibuat dengan model antik. Tapi ada pula beberapa kios yang menual tas dan koper serta kios piringan hitam dan kaset lagu-lagu jadul.

Peminatnya tidak hanya warga lokal, tapi juga turis dari mancanegara. Makanya jangan heran kalau ada sekelompok bule yang memakai kaos dan bercelana pendek lagi mengunjungi kawasan ini.

Jalan Surabaya, Jakarta (dok pribadi)
Jalan Surabaya, Jakarta (dok pribadi)

Dari berbagai referensi, ternyata usia pasar barang antik tersebut telah cukup lama. Awalnya adalah di tahun 1960-an, muncul pasar loak kaki lima "muntahan" pedagang yang terusir dari Pasar Rumput (konon saat delman masih menjadi angkutan kota, di sini dijual rumput untuk makanan kuda, tapi sekarang adalah pasar biasa).

Lalu di tahun 1970-an, di era Gubernur Ali Sadikin, pedagang kaki lima tersebut ditertibkan secara besar-besaran. Maka di Jalan Surabaya, para pedagang loak aneka barang antik itu menempati kios-kios permanen yang sengaja dibangun Pemda DKI Jakarta, seperti yang terlihat sampai sekarang ini. 

Tentu saja pamor pasar barang antik Jalan Surabaya langsung terangkat. Kesan yang sebelumnya kumuh telah berubah rapi dan nyaman. Hanya berdasarkan promosi dari mulut ke mulut, akhirnya pasar ini terkenal dan menjadi salah satu obyek wisata yang digandrungi turis asing, karena ada nuansa galeri seni atau museum.

Terangkatnya pamor pasar barang antik ini antara lain juga karena banyaknya jenis barang yang dijual, sehingga calon pembeli leluasa untuk menentukan pilihan. Harganya pun tergolong wajar dan dapat ditawar. Padahal kalau membeli barang yang sama atau yang mirip di galeri khusus, harganya bisa jauh lebih mahal.

Apa saja barang-barangnya? Sekadar contoh untuk dituliskan di sini adalah barang berbahan porselen, keramik, kayu dan logam. Ada pula wayang kulit, keris dan senjata tradisional lain, topeng tradisional, peralatan makan dari kuningan, rantang jadul, telepon antik, kamera antik, gong antik, setrikaan antik, lampu antik, dan masih banyak lagi. Bahkan ada juga setir kapal, teleskop dan kompas. 

Dok. pribadi
Dok. pribadi

Lokasinya yang strategis, dekat dari kawasan elit Menteng, menjadi faktor pendukung yang menarik konsumen. Memang ada sedikit masalah bagi yang membawa kendaraan sendiri, karena tempat parkir yang terbatas, mengingat jalannya yang tidak begitu lebar. Namun trotoar di depan kios cukup lega bagi pejalan kaki.

Masa kejayaan pasar tersebut menurut beberapa pedagang yang telah beroperasi di sana sejak puluhan tahun lalu, terjadi di tahun 1990-an sampai 2010. Saat itu lumayan ramai pembeli dari berbagai daerah. Para pejabat dan turis asing juga banyak yang berbelanja baik untuk dikoleksi sendiri maupun untuk dihadiahkan bagi relasinya.

Dok.boombastis.com
Dok.boombastis.com
Entah karena perkembangan ekonomi, atau daya beli masyarakat yang menurun sehingga kebutuhan untuk barang antik juga menurun, atau juga karena model perdagangan online yang makin marak, membuat pamor pasar barang antik Jalan Surabaya sejak beberapa tahun terakhir semakin menurun.

Kalau hari-hari ini pengunjung melewati sepanjang Jalan Surabaya, akan melihat para pedagang banyak yang hanya duduk-duduk saja menunggu pembeli datang. Akankah pamor pasar barang antik ini akan betul-betul jatuh? Bila itu terjadi tentu sangat disayangkan.

Nah agar hal itu tidak terjadi, perlu berbagai kreativitas dari para pedagang, seperti memanfaatkan sosial media atau bekerja sama dengan penyedia perdagangan secara daring. Melibatkan komunitas pencinta barang antik atau benda seni, agaknya bisa dicoba pada event tertentu.

Tentu tak kalah pentingnya adalah mengharapkan perhatian yang lebih besar dari Pemda DKI Jakarta, agar apa yang dulu dirintis oleh Ali Sadikin bisa terpelihara. Siapa tahu gubernur baru Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Uno, telah punya konsep untuk mengangkat kembali pamor Jalan Surabaya.