Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Pensiunan BUMN

menulis untuk melawan lupa.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight

Berdagang Secara Jujur dan Tahu Batas

12 Oktober 2017   19:54 Diperbarui: 18 Oktober 2017   06:10 767 5 2
Berdagang Secara Jujur dan Tahu Batas
Warung tradisional (dok. commons wikimedia.org)

Saya punya seorang kakak laki-laki yang karena pernah menderita sakit kronis di saat remaja, akhirnya tidak menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah. Alhamdulillah, meskipun membutuhkan waktu sekitar 7 atau 8 tahun, kakak akhirnya bisa dikatakan sembuh, setelah bolak balik berobat, baik secara medis maupun pengobatan alternatif.

Pada tahun 1980-an awal, kakak sudah menginjak usia sekitar 25 tahun. Karena kakak tidak punya bekal ijazah pendidikan formal, tentu pilihan untuk menjadi pegawai negeri ataupun swasta sudah tidak mungkin. Agar kakak bisa hidup mandiri, warung kecil di depan rumah, yang tadinya menjadi sumber uang belanja tambahan bagi ibu, "diwariskan" kepada kakak.

Saat itu ayah masih berdagang di pasar kota Payakumbuh, Sumatera Barat, dan ibu adalah ibu rumah tangga biasa. Makanya ibu menggunakan teras di depan rumah, sekitar 1 km sebelum pusat kota Payakumbuh kalau dari arah kota Bukittingi, sebagai warung yang menjual aneka cemilan, minyak tanah, kayu bakar (saat itu masih banyak warga yang memasak pakai kayu bakar), dan rokok.

Namun karena ibu menjaga warung sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga, warung tidak mengalami kemajuan, bahkan sering tekor karena uang yang ada terpakai untuk berbagai keperluan rumah tangga. Biasanya setiap habis lebaran, ayah menomboki agar ibu bisa kembali membeli stok barang yang akan dijual di warung.

Nah, begitu estafet manajemen warung berpindah ke kakak, tanpa kami (saudara-saudaranya) sadari, warung secara perlahan mulai mengalami kemajuan, paling tidak, tidak lagi ditomboki ayah setiap habis lebaran. Bahkan beberapa tahun setelah itu barang yang dijual bertambah banyak dengan disediakannya sayuran, minyak goreng, cabe, ikan teri, beras, dan bahan keperluan dapur lainnya. Aneka minuman dan makanan dalam kemasan, sandal jepit, bola plastik, juga dijual. Pokoknya mirip mini market tapi dalam versi tradisional, sesuai dengan zamannya di saat itu, di dekade 1980-an.

Harga murah, super murah malah, dengan keuntungan yang sangat tipis, menjadi salah satu faktor kesuksesan kakak. Tapi belakangan saya ketahui dari penjelasan beberapa pelanggan, yang membuat mereka tidak mau pindah ke lain "hati", di samping harga murah adalah karena kejujuran kakak. Jujur dalam timbangan dan takaran, bahkan sering pula melebihkan barang yang diserahkan kepada pembeli sebagai bonus. Jika barangnya kualitas nomor dua, kakak akan bilang nomor dua. Bila barang sudah beberapa hari dan tidak segar, kakak akan bilang sejujurnya. Dalam bahasa orang kantoran, kakak disebut mempunyai integritas.

Tentang harga super murah, tak jarang membuat saudara saya yang lain sampai kesal dan memberi arahan agar barang yang busuk atau rusak, itu kan akhirnya jadi biaya, dan harusnya terkompensasi dalam penetapan harga jual yang seharusnya dinaikkan sedikit. Toh di warung tetangga memang harganya lebih tinggi.

Saya yang saat itu masih kuliah di Fakultas Ekonomi dan merasa punya pengetahuan dari materi perkuliahan, mencoba memberikan masukan pada kakak, khususnya bagaimana menghitung harga pokok barang secara lebih akurat dan sekaligus menentukan harga jual yang layak, dalam arti memberi keuntungan sekaligus masih bisa bersaing dengan warung terdekat.

Tapi kakak tidak bergeming dan tetap setia dengan harga miring. Akhirnya kami sadar, kakak benar dengan prinsipnya. Buktinya taktik begini dan didasari kejujuran itu tadi, yang membawa kesuksesan. Barang jadi cepat berputar, dibeli pelanggan yang sebagian bahkan datang jauh dari rumah. Artinya pelanggan kakak bukan hanya warga sekitar rumah.

Kakak membeli barang ke sebuah toko grosir milik pedagang besar peranakan Tionghoa di pasar di pusat kota Payakumbuh. Ke pasar kakak berangkat naik delman atau angkutan kota, dan pulangnya naik becak yang muatannya menggunung berupa barang yang dibeli kakak. Becak di Payakumbuh memang becak barang dengan tempat barang di sisi kiri sepeda penarik becak.  

Melihat keuletan dan kejujuran kakak, tauke grosir tersebut sering menawari agar kakak membeli barang lebih banyak, dan si tauke bersedia dibayar belakangan setelah barang terjual di warung kakak. Tapi kakak selalu menolak. Tampaknya ini filosofi dagang yang dianut kakak, di samping kejujuran di atas, yakni tahu batas. 

Mungkin dilihat dari kacamata manajemen pemasaran modern, filosofi "tahu batas" sudah kurang relevan lagi. Konon saat ini bila ketemu momen yang tepat untuk mengembangkan bisnis, harus dimanfaatkan segera agar beranak-pinak, bahkan nantinya bisa menggurita. Tapi kesederhanaan kakak tentu memandang dari sisi lain. Kalau stok barang terlalu banyak, tentu butuh beberapa anak buah, mungkin juga butuh buka cabang di kampung sebelah. Makanya kakak memilih fokus dengan kapasitas yang dia punya.

Patut juga ditulis di sini, bahwa kakak meskipun tidak pernah ikut pelatihan tentang pelayanan prima, namun secara tidak langsung telah melakukannya. Pembeli dalam jumlah kecil atau pembeli yang bawel, dilayani sama baiknya dengan pembeli lain. Hal ini yang membuat langganan bertambah banyak.

Karena tahu batas, maka dari kacamata umum, kakak mungkin belum bisa disebut orang kaya. Tapi kami sekeluarga sangat bersyukur karena secara materi, kakak hidup berkecukupan. Bisa membangun rumah dan hidup rukun dengan satu istri dan tiga anak, bisa menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, dan telah mendaftar untuk naik haji, sungguh sebuah prestasi di mata kami.

Apalagi kalau saya teringat cerita ibu saya, betapa karena lamanya menderita sakit, dan praktis saat itu berdiam di rumah saja, ketika kakak baru sembuh, perlu waktu untuk melatih bersosialisasi lagi dengan tetangga, dan perlu "belajar" lagi bagaimana pergi jalan-jalan ke pasar atau ke tempat keramaian. 

Ibu sampai bernazar, kalau kakak nantinya menikah, akan memotong sapi. Walaupun saat itu belum tahu juga dari mana sumber uang untuk membeli seekor sapi, karena kondisi keuangan bapak yang semakin menurun. Doa ibu dikabulkan Tuhan, dan dengan segala upaya, nazar ibu ditunaikan. Pada usia 32 tahun kakak menikah dengan seorang gadis yang sangat bisa memahami kakak dengan pola hidup sederhananya.

Kembali ke kiat bisnis, menurut saya, kakak adalah pedagang hebat di kelas-nya (maksudnya kelas ringan atau kelas bawah). Jadi kalau sekarang banyak beredar di medsos imbauan untuk berbelanja ke warung tetangga atau warung tradisional, maka kakak telah mempraktekkan, tanpa imbauan tersebut mampu menjadi pilihan utama tetangga untuk berbelanja.

Kakak saya telah menghadap Allah pada akhir tahun 2012. Sekiranya kakak masih ada, tentu saya menyarankan kakak untuk ikut program Danamon Enterpreneur Award 2017. Memang kakak bukan penemu sesuatu, tapi menurut saya kakak punya modal dasar untuk kesuksesan seorang wirausahawan.

Sekarang di tengah gempuran mini market yang pakai pola waralaba, semakin langka pedagang seperti kakak saya. Jika pembaca menemui yang seperti itu di lingkungannya, saran saya agar diikutkan program Danamon Enterpreneur Award itu tadi. Ada banyak program sejenis yang mengapresiasi para wirausahawan muda yang memenuhi kriteria tertentu dan terpilih dari banyak sekali calon. Tapi program Danamon adalah yang konsisten dengan mengusung filosofi keberpihakan pada pengembangan usaha kecil secara berkelanjutan.

Orang seperti kakak saya jelas bukan orang terkenal, hanya pedagang kecil kelas kampung. Tapi menurut saya nilai-nilai yang dilakukannya patut dicontoh oleh seorang konglomerat sekalipun, bila sang konglomerat menjadi besar hanya berkat koneksi dengan penguasa yang bernuansa KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Saya yakin nilai-nilai itu sejalan dengan "jiwa" dari Danamon Enterpreneur Award.