Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Dapat Bagian Tanpa (Mengaku) Menerima

25 Maret 2017   21:03 Diperbarui: 25 Maret 2017   22:43 0 14 7 Mohon Tunggu...
Dapat Bagian Tanpa (Mengaku) Menerima
Ilustrasi labirin korupsi. (Kompas)

Kasus e-KTP yang diduga menjadi bancakan banyak para petinggi negeri ini telah membuktikan bahwa sangat sulit membuat efek jera. Kasus demi kasus terungkap oleh KPK, namun tidak menyurutkan langkah para koruptor atau calon koruptor.

Menarik untuk mengamati daftar nama penerima uang haram tersebut yang terdiri dari orang-orang dengan kedudukan yang tinggi dan punya kewenangan amat besar. Makanya  jumlah rupiah yang diduga dibagi-bagikan juga berukuran "raksasa". Namun seperti sudah diduga, nama-nama tersebut dengan tegas menyangkal dan menyatakan tidak menerima uang sama sekali.

Untuk itu biarlah pengadilan yang nanti memutuskan siapa yang bersalah dan harus menerima hukuman. Sementara menunggu proses hukum bergulir, tulisan ini mencoba mengetengahkan bagaimana kebiasaan di zaman belum ada KPK dalam teknis pemberian uang gratifikasi, berdasarkan obrolan informal dari "sana-sini".

Dalam sebuah proyek, hal-hal terkait dengan "komisi" tidak akan dibahas secara terbuka, dan pasti tidak ditemukan di notulen rapat atau dokumen resmi lainnya. Tidak semua yang menjadi panitia akan tahu hal ini. Biasanya ada satu orang kepercayaan di pihak instansi pemberi yang diberi kepercayaan oleh big boss untuk mendistribusikan. Itupun diserahkan secara satu paket melalui satu orang kepercayaan dari pihak penerima. Baik petugas yang mengantarkan maupun yang menerima langsung, biasanya bukan pejabat level tinggi, tapi masih rendah, bahkan mungkin masih staf, namun sangat terpercaya.

Bila yang menerima adalah sekelompok orang, maka biasanya ada selembar daftar berisi nama penerima dan besar uang yang jadi jatahnya masing-masing. Daftar ini dipegang oleh orang kepercayaan itu tadi. Namun daftar ini tidak akan dilihat oleh bapak-bapak penerima, karena waktu amplop diserahterimakan dari orang kepercayaan ke masing-masing penerima, sudah dalam amplop dengan di sudut tertentu di beri kode inisial penerima agar tidak tertukar.

Jangan harap si penerima akan diminta menulis tanda terima berupa kuitansi yang ditanda tangani di atas materai, seperti dalam transaksi yang resmi. Cara menyerahkan amplop pun tidaklah kentara, seperti dimasukkan ke map, ke majalah, dan tidak ada "akad" serah terima. Yang paling lazim, amplop dimasukkan ke paper bag yang berisi kalender promosi, buku agenda perusahaan, souvenir, atau benda lainnya, sehingga si amplop sebagai barang utama tidak terlihat jelas.

Jelaslah, peranan orang kepercayaan sangat vital demi kesuksesan proyek "bagi hasil" ini. Faktor "integritas" menjadi amat penting dalam menunjuk siapa yang menjadi orang kepercayaan, baik yang mewakili pihak pemberi maupun yang mewakili pihak penerima. Kalau ia nakal dengan menilep uang tersebut, tapi melaporkan ke atasannya bahwa misi bagi-bagi telah terlaksana sesuai skenario, toh bisa saja, karena gak ada yang tahu.

Bahkan peranan orang kepercayaan bisa lebih jauh dari itu, yakni mereka berdua-lah yang "nego" untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan dibagi dan berapa besarnya untuk masing-masing. Katakanlah sebuah perusahaan ingin mendapat kemudahan untuk mendapatkan surat izin. Maka segala persyaratan cukup diserahkan melalui orang kepercayaan dari instansi yang mengeluarkan izin.

Lalu dengan pelayanan yang amat baik, orang kepercayaan bisa mengkoordinir untuk lewat jalan pintas, sehingga surat izin cepat keluar. Tapi bersamaan dengan itu muncul selembar daftar nama yang telah "berjasa" dan tarif komisinya. Daftar ini akan dibawa ke big boss untuk di acc (baca: asese, artinya disetujui). Bisa jadi daftar tersebut diperbesar angkanya agar orang kepercayaan yang jadi penghubung juga kebagian.

Persetujuan big boss biasanya cukup secara lisan, lalu agar dana bisa secara resmi dikeluarkan dengan didukung oleh dokumen tertulis, maka dalam bukti pembukuan dicantumkan sebagai biaya promosi. Pilihan lain adalah biaya komunikasi atau biaya representatif.

Itulah sekelumit liku-liku proses permainan komisi atau gratifikasi. Dengan teknis seperti itu memang bisa saja ada seorang pejabat  yang tercantum di daftar penerima, tapi menolak menerima amplop. Namun namanya tidak dicoret, baik karena kelupaan, atau karena disengaja karena diambil oleh orang kepercayaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x