Mohon tunggu...
IR WANDI
IR WANDI Mohon Tunggu... Yang menang akan dicari yang kalah punya kawan sejati

Yang menang akan dicari yang kalah punya kawan sejati

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Wisata Halal di Pesisir Selatan, Ide atau Gadele?

28 November 2020   20:55 Diperbarui: 28 November 2020   20:57 20 1 0 Mohon Tunggu...

Membuat ide wisata halal di Daerah Pesisir Selatan tak ubahnya seperti menggarami air laut. Hal itu dikarenakan Pesisir Selatan baik dari segi geografis maupun historis adalah daerah yang berada dalam Provinsi Sumatera Barat, dengan penduduk yang berdomisili mayoritas suku bangsa Minang yang sudah pasti beragama Islam. 

Entah karena biar kelihatan keren terdengar atau karena yang lain, maka didengungkan istilah tersebut. Namun semua itu bisa menjadi bahan olok-olok dan cibiran masyarakat. Masyarakat sudah sangat banyak yang cerdas, mereka tidak akan terbius oleh pernyataan yang seolah-olah hebat itu. Niat baik yang di canangkan menjadi buyar karena tidak faham nya si pembuat ide dengan kebudayaan masyarakat setempat. Masyarakat Pesisir Selatan akan membaca kata secara ter surat dan tersirat.

Ter suratnya, Pesisir Selatan yang dibangun oleh nenek moyang mereka dengan hembusan nafas religius sekarang akan dibuatkan semacam sertifikatnya, seperti tidak ada pekerjaan lain. Tersirat nya, kenapa kata wisata halal itu harus dibuat. Tidak beragamakah orang Pesisir Selatan, atau tidak tepatkah orang Pesisir dalam praktek berubudiyah pada Allah. Kata-kata tersebut yang bersarang di pikiran dan menyesak di hulu hati. 

Kata-kata yang bisa membuat hati terluka, karena masyarakat dibesarkan dengan cinta dan rasa yang kuat dari orang tua mereka. Kalau seandainya wisata halal direncanakan untuk meyakinkan pengunjung yang datang dengan makanan, tempat dan sebagainya. 

Rasanya yang mengelu-elukan ide wisata halal tersebut tidak mungkin tidak faham dengan persiapan-persiapan yang harus diketahui oleh calon turis bila ingin berkunjung ke suatu daerah. Mulai dari pengetahuan terhadap objek serta sarana dan prasarana pendukung yang akan dituju, suku, budaya, serta agama masyarakat tempat sekitar objek wisata. Pesisir selatan dengan Minangkabau nya sudah diketahui dunia internasional sebelum terpanca yang membuat konsep tadi ke dunia.

Atau hanya sekedar gadele ( bersilat lidah ) untuk menguatkan pondasi Masjid terapung yang banyak mengeluarkan uang, atau sebagai benteng-benteng untuk patung yang dibuat sebagai simbol Pasisia adalah daerah yang mempopulerkan kesenian rebab, entah lah. Masyarakat cerdas dalam mencerna setiap kata, alun takilek lah takalam bulan disangko tigo puluah, alun diliek lah dimakan rasolah dalam batang tubuah. Karena kurangnya pengetahuan tentang kearifan lokal di Pesisir Selatan kata-kata tersebut sampai ingin dikukuhkan.

Yang dibutuhkan masyarakat adalah tongkat penyangga kaki mereka dalam melanjutkan lari estafet yang sedang berjalan. Pandanglah masyarakat dengan pandangan sayang, karena begitu banyak percaturan hidup yang mereka alami. Jangan dilukai hati mereka dengan kata yang seolah mencerca. 

Seumpama kata kalau saya nggak berusaha ke Jakarta mencari uang, Pesisir Selatan mungkin tidak akan maju sampai dunia kiamat. Kata itu seakan menghilangkan hati untuk masyarakat yang mendengar. Kalau seandainya tulisan ini salah titik dan salah koma cobalah dibuka you tube debat putaran ke dua Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Pesisir Selatan.

Pemerintah dan masyarakat ibarat aur dengan tebing, dua buah unsur yang saling menguatkan. Tidak elok sekiranya bila saling menonjolkan kehebatan. Betul lah kiranya tuan hebat dalam bernegosiasi namun hilang hebat yang digema-gemakan itu karena tidak dikungkung akal mulut dalam berbicara. Tidakkah tuan digaji untuk bekerja! kalau kata itu dilontarkan warga tentu bakadorongan antara kita jadinya.

Kalau memang ingin kita menjadikan destinasi wisata di daerah sejuta pesona ini berlabel halal, rasanya sudah lebih dari sempurna bila semua sarana dan prasarana pariwisata di berdaya kan. Pesisir Selatan sudah mempunyai itu, cuma perlu edukasi untuk sosialisasi hal tersebut. 

Duduak surang basampik-sampik duduak basamo balapang-lapang,tidak ada yang tidak mungkin kalau dicarikan jalannya secara bersama-sama. Masyarakat sudah secara jelas menyaksikan figur yang memiliki ilmu padi, makin berisi makin menunduk. Pemimpin itu untuk dilawan baiyo bukan untuk mancaraco.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x